Mata Lebam, Gustina Sagala Kabur Dilempari Suami Pakai Kelapa di Lae Itam Dairi

Mata Lebam, Gustina Sagala Kabur Dilempari Suami Pakai Kelapa di Lae Itam Dairi
Mata Lebam, Gustina Sagala Kabur Dilempari Suami Pakai Kelapa di Lae Itam Dairi (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Sidikalang - Gustina Sagala (49) penduduk Dusun Pahlawan Desa Lae Itam, Kecamatan Siempat Nempu Hilir, Kabupaten Dairi, menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Jumat (31/7) malam.

Hal itu disampaikan Pangihutan Sagala (49), famili korban, Minggu (2/8). Tindakan keji diduga dilakukan suami berinisial PS (48).

Selain dipukul berulang-ulang pakai tangan, korban juga dilempari pakai buah kelapa matang hingga menyasar tubuh dan organ kepala.

“Korban dilempari pakai buah kelapa matang hingga menyasar badan dan kepala. Makanya organ kepala sampai bengkak, mata juga membiru. Memar. Padahal, buah itu seyogianya hendak dijual,” kata Pangihutan.

Pangihutan mengungkap, perlakuan kasar itu bermula dari urusan makan. Siang itu, PS pergi ke pesta, sedangkan Gusti tidak ikut lantaran badan kurang sehat.

Malam hari, PS pulang dan minta disajikan makanan. Kala itu, PS bersungut. Sebab, menu ikan serupa dengan siang hari. Suami minta ikan dimasak. Namun, Gusti tidak mengakomodir.

“Badan saya kurang sehat, bagaimana mau masak?” ujar Gusti sebagaimana ditirukan Pardamean.

Atas respons itu, PS mengamuk. Ayunan tangan dilepas mendarat ke tubuh Gusti. Ibu rumah tangga ini takut hingga ia lari ke halaman rumah.

Tidak berhenti sampai di sana. PS melampiaskan emosi. Dia mengambil beberapa buah kelapa lalu melempar ke istri.

Korban sempat terkapar menahan sakit. Kepala rumah tangga itu masuk ke rumah dan mengambil pisau. Dia hendak menghabisi Gusti.

Melihat perlakuan mengerikan, kata Pardamean, Gustri berusaha kabur lewat belakang rumah. Dia menemui tetangga marga Simarmata. Korban dibawa naik sepeda motor ke rumah Kepala Desa, Pargaulan Simbolon.

Melihat kondisi luka, Gusti disarankan melapor ke Polsek Bunturaja. Apalagi, kata Pardamean, kekerasan sedemikian sudah sering dialami korban.

“Korban sudah sering disiksa. Hanya saja, kami damaikan,” kata Pardamean.

Diungkapkan, pasangan suami istri ini masing-masing menikah untuk kedua kalinya tahun 2006. Gusti cerai dari suami pertama, marga Sirait. Sedangkan PS sebelumnya mempersunting boru Sinaga.

PS membawa 2 anak sedang Gusti memiliki 1 anak. Pernikahan kedua belum dikarunai si buah hati.

“Sejak anak-anak, Gusti mengasuh 2 anak PS yang kini berumur 20 tahun. Tapi, begitulah penderitaan diterima,” kata Pardamean.

Pardamean mengungkap, PS kerap mabuk. Kalau boleh disebut, dia dewa mabuk. “Dewa mabuknya lae ini,” kata Pardamean.

Kepala UPT Perlindungan Anak dan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Eva Napitupulu membenarkan peristiwa. Korban dibawa ke Samosir oleh keluarga untuk pengobatan.

“Korban mengalami memar nyata di mata,” kata Eva.

(SSR/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi