Lhoksukon, (Analisa). Pabrik gula di Kecamatan Cot Girek, Aceh Utara, kini menjadi besi tua karena ketiadaan bahan baku berupa tebu. Perkebunan tebu yang ada sudah dialihkan menjadi perkebunan sawit. Masyarakat mengharapkan PTPN-I Cot Girek menghidupkan kembali pabrik tersebut agar masyarakat Aceh terbebas dari gula impor.
“Pabrik yang diresmikan Presiden Soeharto pada 1970-an ini, sekarang menjadi besi tua karena kebun tebu sudah dialihkan menjadi kebun sawit. Padahal, pabrik tersebut menjadi kebanggaan masyarakat Aceh Utara,” kata seorang warga Cot Girek, Ishak (50), kepada Analisa, Kamis (30/4).
Sekarang, pabrik gula itu diganti dengan perusahaan kelapa sawit (PKS). “Saya rasa PKS belum memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Apalagi, minyak sawit harus diolah kembali ke Medan,” tambahnya.
Menurutnya, sebelum dialihkan ke kebun sawit, di Cot Girek banyak warga transmigrasi yang dipekerjakan sebagai karyawan perkebunan tebu. Sehingga, seluruh wilayah Cot Girek menjadi kebun tebu untuk memenuhi bahan baku pabrik gula. Kini, karena kebun tebu dialihkan menjadi kebun sawit, pabrik gula tersebut berhenti total.
“Kalau tidak salah hingga 1980-an, pabrik gula ini operasional pabrik ini sudah hidup-mati karena kekurangan subsidi. Akhirnya pada 1985 pabrik ini benar-benar ditutup. Sekarang bangunan pabrik gula itu sudah keropos dimakan usia,” katanya.
Menurutnya, seharusnya kebun tebu jangan dialihkan menjadi tebun sawit, yang menurut informasi yang ada menyerap air sangat besar sehingga mengakibatkan kekeringan.
Menurut Ishak, seharusnya PTPN-I Kebun Cot Girek menghibahkan gedung tersebut untuk pemerintah kecamatan supaya bisa dimanfaatkan. Sekarang meskipun tidak dimanfaatkan bangunan pabrik gula tetap dijaga karena besi yang ada di pabrik tersebut tidak dijarah, ujarnya. (bsr)











