Sidikalang, (Analisa). Ruas jalan menghubungkan Merek Kecamatan Merek Kabupaten Karo-Sidikalang Kabupaten Dairi sudah banyak menelan korban nyawa karena sering terjadi kecelakaan.
Peristiwa itu terutama terjadi di lintasan Lae Pondom di kawasan hutan perbatasan kedua kabupaten. Infrastruktur serba berkelok dan sempit sementara penyangga di arah jurang minim. Di titik tertentu, nihil pembatas. Kondisi itu sudah berlangsung bertahun-tahun.
Hal tersebut disampaikan anggota Komisi D DPRD Sumut dari fraksi Partai Golkar, Laeonard Surungan Samosir saat reses ke daerah pemilihan di Sidikalang, Sabtu (5/3). “Sudah banyak makan korban. Beberapa hari lalu, 1 unit mobil pribadi terjun bebas di Panatapan Pintu Angin Dusun Aek Hotang Desa Pangambatan Kecamatan Merek. Penumpang tewas terperosok ke jurang sedalam 200 meter,” kata Leonard.
Namanya jalan negara tetapi profilnya seperti lintasan ke desa terpencil. Harus berapa lagi nyawa terbang agar Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) mau peduli? Sepertinya, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) kurang respons terhadap kebutuhan masyarakat.
Dari sisi ketentuan, ada persyaratan lebar jalan minimal. Setiap lembah juga mesti dipasang penyangga guna penyajian kenyamanan bagi pengendara. Leonard berharap, tim BBPJN menunjukkan empati. Setiap rupiah yang digelontorkan dari APBN seyogianya memberi manfaat.
Pelebaran harus dilakukan dengan cara cutting tebing, kata dia. Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, pemberian izin pinjam pakai di kawasan hutan untuk kepentingan publik, dipastikan dipermudah.
Dia optimis, Bupati Dairi KRA Johnny Sitohang Adinegoro dan Bupati Karo Terkelin Brahmana mendukung kerinduan dimaksud. Apalagi, jalur itu menghubungkan beberapa kabupaten hingga Aceh. Posisinya sangat strategis bagi pengembangan sosial ekonomi.
Anggota Komisi 3 DPR RI fraksi PDIP dapil Sumut 3, DR Junimart Girsang mengeluhkan fasilitas buruk itu. Seyogianya, instansi terkait merehabilitasi fasilitas umum. (ssr)











