Oleh: Sari Ramadhani
WARNANYA cukup familiar. Cokelat cerah berunsur motif. Mungkin sebagian orang menyangka benda ini hanya potongan keramik biasa yang digunakan untuk bahan lantai. Namun, kali ini berbeda. Pecinta batu akik menyebutnya batu maligano.
Batu cantik maligano berasal dari Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Di kalangan pecinta akik, namanya mungkin sudah akrab di telinga. Namun, tidak begitu dengan masyarakat awam. Banyak dari mereka belum mengenal dan mengetahui eksistensi batu ini.
Sebagian besar masyarakat cukup sulit membedakan antara keramik biasa dan porselen akik maligano. Kejelian mata benar-benar dituntut agar tidak keliru saat membeli batu ini. Jika dilihat lebih teliti, batu asal Sulawesi Tenggara ini hampir mirip dengan pancawarna dari Garut dan batu klawing asal Purbalingga. Namun, kesemuanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Pedagang dan kolektor batu asal Gang Kolam Medan, Denny Fabian mengaku, pada umumnya maligano berbahan keras, solid dan mengkilap seperti porselen. Teksturnya lembut dan tidak kristal (badar). Selama ini, maligano sudah masuk dalam daftar kelas kontes gemstone yang digelar di kota-kota di Indonesia.
"Dalam kontes, maligano masuk dalam kelas kontes pictorial agate. Dia hampir sama dengan klawing dari Purbalingga dan pancawarna asal Garut. Meskipun, keduanya telah lebih dulu terkenal di tengah masyarakat," ucap pria berusia 40 tahun itu.
Di tengah menurunnya geliat pasaran batu, pecinta akik sejati tetap akan mencari, membeli, dan mengoleksi gemstone. Terutama gemstone bermotif dan bercorak. Jenis ini sangat pas dengan maligano dan ragam batu bergambar lainnya.
Jika benar-benar cinta akik, sambungnya, pada dasarnya kolektor akan kembali mengoleksi batu-batu pancawarna. Akik memang terkenal dengan keindahan tidak ada duanya, motif dan gambar sebentuk akik tidak bisa ditemukan dua kali, meskipun batunya sejenis.
"Orang-orang suka batu bergambar dan bermotif. Finalnya, pecinta gemstone akan jatuh hati pada pancawarna. Kalau penggemar batu bening (kristal) seperti idocrase, ke depannya bakal menggemari batu permata (mulia)," ucapnya.
Corak maligano kadang terlihat seperti batik. Ada juga bentuk mozaik kotak-kotak di dalamnya. Dengan dominasi warna pastel, akik ini sangat apik menghiasi jari-jemari pria dan wanita. Mineral yang terdapat dalam batu tersebut termasuk jenis jesper chalcedony.
Harga Rendah
Meskipun sebagian gemstone masih dibanderol dengan harga mahal, ayah dua anak ini mengungkapkan, maligano tidak terlalu fantastis seperti jenis pancawarna dan klawing. Harganya terpaut cukup jauh.
Maligano dalam bentuk bongkahan dibanderol Rp500 ribu per kilogram. Sedangkan yang sudah diasah menjadi batu cincin mulai Rp100 ribu hingga Rp500 ribu per batu.
Berbeda jauh dibandingkan kedua batu tersebut. Klawing berkualitas dihargai Rp700 ribu per kilogram. Sedangkan pancawarna dijual Rp600 ribu hingga Rp1,2 juta per onsnya. Sangat fantastis perbedaannya. Semua harga ini tergantung corak dan minat pembelinya.
"Kalau batu bergambar ‘kan yang kita jual coraknya. Makanya mahal, bisa jadi motif itu cuma satu-satunya di dunia," ungkap pria gondrong itu.
Tidak hanya dijual manual, maligano juga diperdagangkan secara online di seluruh Indonesia. Para pedagang dan kolektor batu mempunyai pasar tersendiri untuk mempromosikan batunya. Penggemar maligano banyak datang dari Palembang.
Di Sumatera Utara, peminat maligano umumnya tukang kayu. Hal itu disebabkan batu ini menyerupai fosil dan sangat eksotis. Anak-anak muda pun sudah mulai menggemari gemstone asal Sulawesi ini.
Di tempat asalnya, maligano banyak dijumpai di dataran, bukan di sungai seperti kebanyakan batu akik lain. Namun, sayangnya masyarakat lokal belum terlalu mengekspos batu khas daerahnya itu.
Mungkin saja mereka belum sadar masih banyak batu cantik lain dari Sulawesi dan bukan hanya bacan yang sudah lebih dulu terkenal seantero nusantara. Semua masih terobsesi dengan bacan. Padahal batu lainnya dari Sulawesi banyak yang lebih indah. Pemerintah seharusnya memberi ruang untuk mempromosikan.
Untuk menggosok maligano hampir serupa dengan batu kalsedoni lain. Lebih mudah dan sederhana. Tantangannya hanya saat ingin menentukan motif dan gambar pada batu.
Pada batu kristal, jika saat menggosok terjadi keretakan, maka tidak dapat dipakai dan harus dibuang. Sedangkan pada batu bergambar seperti maligano, retak menjadi suatu kelebihan karena biasanya mendukung motif.
"Tidak bisa dipungkiri, maligano asal Sulawesi ini memang indah dan pantas dikoleksi. Kalau bacan ‘kan sudah terkenal lebih dulu. Sudah saatnya, masyarakat lokal mempromosikan maligano agar menjadi khas," pungkasnya.











