Oleh: J Anto
RAGAM kesenian di Sumut dengan kandungan nilai kearifan lokal yang ada, tak cukup hanya diwariskan dari generasi ke generasi. Dibutuhkan juga “dewa-dewi kesenian,” para pencipta dan penafsir kebudayaan untuk mengkontekstualisasikan dengan situasi kekinian tanpa tercerabut dari akar kesenian lama.
Dengan memikul beban budaya seperti itu, Mateus Suwarsono lalu memancang sebuah tiang penyangga budaya. Tujuannya mengurangi beban kultural yang ada. Tiang budaya itu diberinya nama Bale Marojahan.
Saat awal-awal berkarya di Medan sebagai staf di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), 1997, sajana tari lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta 1995 itu, pernah mengalami kejutan budaya. Sewaktu merintis komunitas pegiat tari kontemporer, kelak setelah solid, ia lalu menamainya Arsdance Theatre. Ia mengajak beberapa penari untuk latihan secara terjadwal, tiga kali sepekan. Tempatnya di sebuah ruang TBSU.
Suwarsono adalah "transmigran budaya" asal Yogyakarta. Sebelum reformasi dan era desentralisasi, pengelolaan taman budaya di setiap daerah bertanggungjawab ke Direktorat Kesenian di Jakarta. Dalam hal SDM, mereka didrop dari Jakarta. Setelah lulus ISI, ia diterima jadi PNS dan langsung ditempatkan di Medan. Suwarsono mengajar di sejumlah perguruan tinggi Medan, juga membina komunitas pegiat tari, terutama tari kontemporer.
“Untuk apa berlatih? Memang dalam waktu dekat akan ada pertunjukkan?” ujar seorang penari. Suwarsono hampir tak percaya mendengar reaksi itu. Saat dijelaskan bahwa ada atau tidak agenda pentas, latihan tetap diperlukan sebagai bagian dari pertanggungjawaban proses kreatif seniman, jawaban lebih tak terduga muncul lagi.
“Ah Mas, itu gila namanya,” ujar penari itu. Hal itu ditemukan dalam fase perjalanan kesenimanannya. Ia juga berhadapan dengan ceruk pertunjukkan kesenian kontemporer yang cukup sempit. Khususnya kesenian kontemporer yang dapat dipertanggungjawabkan secara estetika mengikuti pakem ilmu kesenian murni.
Dalam penilainnya, masyarakat lebih senang pertunjukkan kesenian yang bersifat hedonis dan mengutamakan aspek hiburan. Produk kesenian yang mampu memberi hiburan sesaat dan tak butuh pikiran jelimet untuk mencernanya. Orang menyebutnya kebudayaan kitsch, seni diposisikan sebagai karya yang dibuat dan dikendalikan kebutuhan pasar.
Produk kesenian seperti itu, menurut Suwarsono, susah dipertanggungjawabkan secara estetik, karena tidak berbasis pada teori seni yang bisa dikupas secara ilmiah. Para seniman hanya mencomot sebagian unsur kesenian tradisional, lalu mencangkokkan pada tarian, musik, atau koreografi pertunjukkan.
Menurut seniman tari yang pernah berkolaborasi dengan koreografer Malaysia, Thailand, India, China, dan Sabah menciptakan “Bhagawatgita” (2001) dan “Wayang Pandawa in 3 Transition” (2002) pada Forum ASEANIKA di Penang, itulah kekurangan, di tengah kekayaan kesenian tradisional yang ada di Sumatera Utara.
Ragam kesenian tradisional yang ada, hanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka akhirnya hanya jadi pelaku kesenian atau penari, bukan pencipta tari (baru). Mereka jadi pemain musik, bukan pencipta musik.
Intinya mereka tidak melakukan inovasi atau menggali unsur kesenian tradisional untuk proses kreatif kesenimanan mereka. Semua itu disebabkan absennya pendidikan kesenian murni di Medan. Akibatnya sangat sedikit karya-karya tari baru yang lahir dari totalitas berkesenian seniman di Medan.
"Padahal kesenian itu dinamis. Seniman harus inovatif menciptakan produk kesenian mereka," katanya. Jejak seperti itu dulu bisa dilihat dari tari Serampang Dua Belas yang legendaris karya Guru Sauti. Atau tari Tujuh Cawan yang dimainkan dalam pertunjukkan Opera Batak.
Tari Serampang Dua Belas lahir dari kreativitas Guru Sauti dengan mengambil akar dari tarian Ronggeng Deli pada 1940-an. Demikian juga tari Tujuh Cawan lahir dari inovasi para seniman yang bergiat di Opera Batak, yang berjaya pada era 1970 sampai 1980-an.
Ramayana Swarnadwipa
Dalam perjalanan waktu, Suwarsono akhirnya lebih terpanggil untuk menggali tradisi etnis dalam proses kreatifnya sebagai seniman tari, teater, dan sastra. Ia menyerap spirit kesenian Batak, Simalungun, Pakpak, Karo, Nias, Melayu, dan Mandailing, serta kesenian etnis lainnya di Sumut.
Pada 2013 misalnya, ia menciptakan sendratari Ramayana versi Sumut. Ia memberinya nama Ramayana Swarnadwipa. Karya tersebut dipentaskan di Festival Sendratari Ramayana Nasional 2013 di Panggung Terbuka Candi Prambanan, Magelang, Jawa Tengah.
Selama tiga bulan ia tekun melatih 40 seniman di sanggarnya. Semua properti dibuat sendiri, mulai dari kostum sampai perlengkapan pemain. Anggaran untuk menciptakan sendratari Ramayana versi Sumut itu digelontor Kantor Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Festival ini diikuti 8 kontingen, yakni Sumut, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan Selatan.
"Anggarannya baru ditransfer 2 hari sebelum berangkat dan jumlahnya baru 50 persen," tuturnya. Padahal selama tiga bulan, ia sudah merogoh kocek pribadi tak kurang Rp 50 juta. Istrinya, Yuliningsih, sudah memberi warning. Takut kegiatan dibatalkan sepihak.
Tapi Suwarsono nekad. Ia meyakinkan isterinya, pentas sendratari karyanya akan jadi sejarah sekaligus membuktikan bahwa seniman Sumut mampu menciptakan sendratari Ramayana dengan menggali kekayaan budaya lokal yang ada.
Ia, misalnya menciptakan karakter Rahwana yang keras dengan mengambil unsur-unsur tarian Batak dan Nias. Sedangkan saat menggambarkan gerakan Rama merayu Shinta, ia menyerap unsur gerakan tari Melayu yang mendayu, termasuk dalam prosa lagu-lagunya. Sedangkan saat menggambarkan gerakan burung jatayu, Suwarsono mengambil gerak tarian Pakpak yang lincah melompat-lompat seperti burung.
Sebelumnya, pada 2012, ia juga telah membuat sendratari Ompu I (Raja Singamangaraja) yang dipentaskan di komplek Tugu Sisingamangaraja dekat Stadion Teladan, di TBSU (2012), lalu “Symphoni bagi Sang Raja pada Tribute to Sisingamangaraja XII” di Santika Hotel, Medan, dan sendratari Ompu I dan Tortor Cawan Boru Lapian saat resepsi pernikahan cicit Sisingamangaraja XII di Balige.
Ruang Ekspresi
"Kalau saja ada pendidikan kesenian murni di SMA dan sebanyak 30 siswa dalam setahun mampu mencipta 4 karya mereka, secara individu maupun kelompok, maka sebulan bisa ada 5 pertunjukan karya kesenian baru," ujar Suwarsono membuat pengandaian. Namun faktanya, dunia kesenian di Medan justru mengalami defisit pertunjukkan.
Ruang publik untuk menampung ekspresi para seniman terbatas jumlahnya. Ada TBSU, namun keberadaaan dan peruntukkannya kadang lebih dikelola lewat logika birokrasi. Jika di Solo atau Yogyakarta, orang bingung mau menonton pentas seni yang mana, saking banyaknya pilihan pertunjukan yang ada. Sebaliknya di Medan, masyarakat bingung mau menonton pertunjukkan kesenian apa dan di mana?
Di sisi lain, Suwarsono juga khawatir dengan cara berkesenian yang hanya eksis pada ranah tradisi. Cara berkesenian seperti itu cukup rentan.
"Artinya selamat adat masih membutuhkan, maka masih eksis," katanya. Itu pun dengan catatan beberapa unsur kesenian satu per satu, seiring kemajuan teknologi media, mulai dipreteli. Ia memberi contoh pertunjukkan Si Gale-gale di Samosir yang mulai menggunakan musik compact disk dan keyboard, sementara kelompok gondang Batak mulai ditinggalkan.
Berbagai beban budaya itu mendorongnya mendirikan Bale Marojohan pada 9 September 2012. Bale ini memiliki ruang latih/pentas seluas 7 x 12 meter. Fasilitas properti pementasannya tergolong komplit. Mulai dari sound system, lighting, berbagai peralatan musik, kostum, dan lainnya.
Ada lima program utama yang dijalankan Bale Marojahan. Pertama, pelatihan tari etnik dan teater. Saat ini ada kurang lebih 20 anak muda, mulai siswa SD sampai mahasiswa, tengah belajar berbagai tarian etnik. Peserta tak sepersen pun dipungut biaya. Bahkan dapat minuman, dan kadang, camilan cuma-cuma.
Kedua, program pentas kesenian tiga bulanan. Namanya Geliat. "Geliat itu pertanda masih ada gairah kehidupan berkesenian," katanya. Sudah 15 kali pentas kesenian diadakan di Bale Marojahan. Pada 10 Februari mendatang, akan jadi pentas ke-16. Pertunjukkan bersifat terbuka untuk umum. Penonton tak dipungut biaya. Kesenian yang dipentaskan kalau tak teater, musik, tari, ya baca puisi.
Program ketiga, panggung tematis. Disesuaikan dengan isu yang tengah berkembang di masyarakat. Ruang ekspresinya di luar Bale Marojahan. Pada 2016, misalnya, utuk memperingati Hari Tari dan Puisi, mereka mengkoordinir 30 seniman Medan menggelar pentas seni di Museum Negeri Medan. Kegiatan pementasan diisi pembacaan puisi, musikalisasi puisi, tari, lukis, teater, dan musik.
Keempat yang disebut program Temali Tradisi. Pemosisian sebagai ruang ekspresi kesenian alternatif, membuat beberapa pihak yang bertamu diberi kesempatan mementaskan bidang kesenian yang digauli. Sudah ada pentas tamu dari seniman Yogyakarta, Jakarta, Bandung, bahkan dari Jepang.
Terakhir, pentas seni pusaka. Program ini dilakukan lewat pementasan di sejumlah situs budaya yang kurang dipedulikan. Padahal situs budaya itu pernah memberi kontribusi penting dalam khasanah kebudayaan pada masanya.
"Situs budaya itu baik berujud benda mati maupun hidup," tuturnya. Pada 2014, mereka membuat pementasan di depan rumah Guru Sauti, seniman yang telah melegenda itu. Pentas diadakan begitu mendengar kabar rumah bersejarah milik seniman Melayu itu telah dijual oleh ahli warisnya.
Tentu saja, mereka tak mencampuri soal penjualan rumah tersebut. Namun mereka hadir dan membuat pentas seni, agar pemilik baru, tidak melupakan spirit kesenian dari pemilik rumah lama.
Balai Marajohan dikelola secara swadaya. Namun tak menolak jika ada pihak yang mau jadi sponsor, asal tak membelengggu kreativitas mereka. Saat ini pendanaan lebih mengandalkan dari rezeki yang diperoleh Suwarsono.
Beberapa seniman yang memiliki spirit dan misi sama, aktif bergiat dan menjadi motor kegiatan. Di antaranya Juhendri Chaniago (sastra), Agung Suharyanto (penari), Togi M Sirait (spiritual Parmalim dan tradisi Batak Toba), Yulianingsih (tari), dan Batari Ratih (sastra).
Batari Ratih baru bergabung setengah tahun lalu. Ia pegiat sastra yang banyak menulis fiksi mengangkat cerita rakyat Aceh. Ia memang lahir dan besar di Banda Aceh. Bergabung dengan Bale Marojahan membuatnya nyaman. Sikap kekeluargaan yang diperoleh saat bertandang ke bale, jadi sebuah hal baru baginya.
"Biasanya sebuah sanggar hanya mengelola satu kegiatan kesenian, tapi di sini lengkap, tari, teater, sastra, musik ada semuanya. Di sini saya juga menemukan ruang untuk berekspresi, sesuatu yang menjadi panggilan hidup saya," katanya mengungkap alasan lain. Pendeknya ia mengaku mendapat kepuasan rohani.
Lebih dari itu, Batari juga punya kesempatan berbagi dengan orang lain "Tahun ini saya punya program membuat workshop tradisi lisan untuk mengangkat kembali cerita-cerita lisan rakyat."
Para seniman atau pegiat budaya yang bergabung ke Bale Marojahan memang diharapkan Suwarsono tak hanya jadi penonton kesenian. Mereka juga dituntut memberi kontribusi untuk sama-sama memanggul dan meringankan beban kultural yang ada.
Muaranya tak lain untuk mendinamisir kehidupan berkesenian di Sumatera Utara. Syarat lainnya, tak ada honor. Mau?

Analisa/istimewa

Analisa/istimewa

Analisa/istimewa

Analisa/istimewa

Analisa/khairil umri











