PADA Oktober 2016 lalu, seorang ilmuwan Rusia Dr. Igor Ashurbeyli telah mengumumkan rencananya untuk membentuk negara merdeka pertama di dunia yang beroperasi di antariksa bernama Asgardia. Sejak saat itu, ratusan ribu orang telah mendaftar untuk menjadi warga negara baru tersebut.
Menurut Ashurbeyli, misi proyek ini adalah untuk menyediakan masyarakat yang damai; menawarkan akses yang lebih mudah ke teknologi ruang angkasa; dan melindungi Bumi dari ancaman antariksa, seperti asteroid dan puing buatan manusia di luar angkasa.
Meski baru hanya konsep, nama Asgardia sudah diburu banyak orang. Bagaimana tidak, Asgardia diklaim akan menjadi negara pertama yang akan berdiri di antariksa.
Asgardia memang belum resmi berdiri. Namun, "pemerintah" negara tersebut sudah mengadakan proses seleksi calon penduduk.
Mereka memperkenankan siapa pun, penduduk dari semua negara yang ada di Bumi, mendaftar ke negara antariksa ini. Sampai sekarang, sudah ada lebih setengah juta penduduk Bumi yang mendaftar jadi warga Asgardia. Sejak pendaftaran dibuka, ada 270 ribu penduduk Bumi mendaftarkan diri.
Asgardia tidak akan mengambil tempat di Bumi. Negara itu justru akan berlokasi di luar angkasa, dengan wilayah berupa wahana raksasa.
Walau pendaftaran dibuka untuk siapa pun, mereka tetap menetapkan syarat tertentu bagi yang ingin menjadi warga negara Asgardia.
Salah satunya adalah pemerintah Asgardia tidak bisa merekrut warga negara yang enggan berbagi informasi data diri secara transparan. Mereka pun tidak dapat mendaftarkan warga negara dari hewan dan robot. Bagi yang direkrut sebagai warga, mereka akan mengantongi sertifikat Asgardia dan resmi menjadi Asgardian, tetapi tetap memiliki status dwi-kewarganegaraan.
Layaknya negara-negara Bumi, Asgardia juga akan membentuk pemerintahan demokrasi berdasarkan hukum. Warga negara Asgardia nanti diminta untuk turut andil memberikan suara demi sistem perumusan dasar konstitusi negara tersebut.
Tujuan pendirian Asgardia didasari tiga asas utama dari aspek ilmu alam dan teknologi. Pertama, Asgardia didirikan untuk menjamin kehidupan antariksa secara damai.
Kedua, Asgardia hadir untuk melindungi Bumi dari ancaman objek luar angkasa, seperti komet, badai matahari, dan masih banyak lagi.
Selain itu, Asgardia juga akan menciptakan ilmu pengetahuan luar angkasa ke negara-negara berkembang yang belum memiliki akses.
Terkait tempat tinggal, wahana Asgardia akan mengambil konsep desain futuristik, layaknya pesawat luar angkasa megah di film-film fiksi ilmiah.
Wahana tersebut bisa menampung setidaknya 150 juta jiwa, dan dirancang ahli-ahli antariksa dari Kanada, Rumania, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).
Menurut Ashurbeyli, Asgardia diambil dari wilayah hunian para dewa Nors, yakni Asgard.
Nama ini juga hadir sebagai kota fiktif yang ada di film Thor. Menurutnya, Asgardia akan menjadi wilayah yang demokratis, warga negara pun diberikan kebebasan untuk berkreasi dengan teknologi buatan mereka.
Masih butuh waktu lama agar Asgardia akhirnya bisa berdaulat di Tata Surya dan diakui negara-negara lain. Ke depannya, Ashurbeyli akan membawa proposal Asgardia untuk didaftarkan menjadi sebuah negara ke PBB. (ncau/cnn/idpc/es)










