Oleh: dr. Clara Devina. Apakah anda pernah memerhatikan mata anak anda? Apakah kedua bola mata anak anda terlihat simetris dan penglihatannya jelas? Jika tidak, mungkin itu merupakan salah satu gejala dari ambliopia atau mata malas. Bila anda menemukan hal demikian, sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter mata.
Berdasarkan American Academy of Opthalmology 2017, ambliopia (lazy eye) diambil dari bahasa Yunani, amblyos yang berarti tumpul dan opia yang berarti mata. Ambliopia merupakan penurunan tajam penglihatan, walaupun telah diberikan koreksi mata, dan dapat bersifat unilateral dan bilateral yang tidak berhubungan langsung dengan kelainan struktural mata atau jaras penglihatan.
Prevalensi dari ambliopia adalah sekitar 2% dari keseluruhan populasi di dunia. Sebuah penelitian dari National Eye Institute mengatakan bahwa ambliopia merupakan penyebab nomor satu kehilangan penglihatan pada populasi usia dibawah 70 tahun. Pada anak, kejadan ini meningkat hingga 3,5% pada anak sehat dan 5,4% pada anak dengan masalah pada mata.
Penyebab dari ambliopia sangat banyak, seperti kelainan mata juling atau strabismus, gangguan refraksi, atau penyakit katarak kongenital yaitu terjadinya kekeruhan pada lensa mata sejak lahir. Ketiganya ini dapat menurunkan kualitas penglihatan sehingga visual dan persepsi mata hanya terfokus pada satu mata saja, sedangkan mata lainnya akan menjadi lemah.
Risiko meningkatnya kejadian ambliopia adalah pada periode kritis dari perkembangan mata dan akan meningkat pada riwayat keluarga menderita ambliopia. Periode kritis ini sesuai dengan perkembangan sistem penglihatan anak yang lebih peka terhadap masukan abnormal dari rangsangan, atau kelainan refraksi yang tinggi.
Mata membutuhkan pengalaman untuk melihat dan diperlukan interaksi antara masing-masing jalur penglihatan yang akan berkembang hingga dewasa. Seperti bayi yang sudah dapat melihat pada waktu lahir, namun harus belajar untuk bagaimana menggunakan mata mereka, sehingga bisa fokus dan menggunakan kedua mata bersamaan.
Penglihatan yang baik harus terfokus dengan sama pada kedua mata. Jika terjadi ketidaksamaan penglihatan, maka jaras penglihatan tidak akan berkembang dengan baik, sehingga otak seakan akan melemahkan mata yang tidak fokus sehingga orang hanya bergantung pada satu mata untuk melihat. Inilah yang disebut dengan mata malas.
Ambliopia pada satu mata biasanya hanya menimbulkan sedikit gejala karena pasien biasanya masih memiliki ketajaman penglihatan normal, namun dapat mengganggu dalam aktivitas sehari-hari. Masalah yang paling signifikan terjadi adalah penurunan stereopsis, yang menyebabkan gangguan dalam berbagai kegiatan dan kurang efisiennya penglihatan atau kegiatan yang perlu koordinasi.
Ambliopia didiagnosis melalui anamnesis mengenai onset pertama kali dijumpai kelainan dan pengaruh kelainan tersebut pada mata, kemudian riwayat keluarga dan pengobatan juga penting untuk membantu menilai prognosis dari ambliopia.
Pada pemeriksaan fisik, biasanya penderita ambliopia kurang mampu membaca bentuk/huruf yang rapat dan mengenal pola gambar tersebut. Menurut penelitian, penderita ambliopia diketahui sulit mengidentifikasi huruf linear, maka dapat dilakukan dengan meletakkan balok disekitar huruf tunggal atau yang disebut sebagai “Crowding Phenomenon”.
Pada anak-anak yang belum mengenal huruf balok, maka dapat diberikan tes E atau tes dengan menggunakan kartu HOTV. Sedangkan dapat diberikan kartu Snellen bagi yang sudah mengenal huruf.
Tes lainnya dalam membedakan ambliopia fungsional dan organik adalah Neural Density Filter Test. Filter ini dapat menurunkan tajam penglihatan yang normal menjadi lebih menurun dan diletakkan di mata yang ambliopia. Hasilnya jika positif ambliopia fungsional apabila tajam penglihatan tetap sama dengan visus semula atau sedikit membaik.
Sedangkan pada ambliopia organik, tajam penglihatan dengan tes filter dapat menurunkan tajam penglihatan secara drastis. Pemeriksaan lain yang dapat dinilai adalah menentukan sifat fiksasi mata dengan visuskop dan tes tutup alternat yang digunakan biasanya pada ambliopia kongenital.
Dalam menentukan tajam penglihatan pada anak sangat penting diperhatikan dengan baik, karena akan menentukan penatalaksanaannya. Ambliopia biasanya efektif ditatalaksana pada dekade pertama. Jika pada terapi awal telah berhasil, namun tidak akan menjamin penglihatan optimal tetap bertahan. Oleh karena itu, tetap harus waspada dalam melanjutkan pengobatan hingga penglihatan matang, sekitar usia 10 tahun.
Bila ambliopia disebabkan kelainan refraksi, maka dapat diberikan kacamata atau lensa kontak. Penggunakan kacamata diberikan koreksi sesuai dengan tajam penglihatan dengan penggunaan siklopegik. Pemberian lensa kontak biasa diberikan jika dijumpai rabun jauh yang berat. Namun, jika penyebab ambliopia merupakan penyakit katarak, maka dapat dilakukan operasi penggantian lensa mata sesuai indikasi operasi.
Terapi oklusi dapat merupakan terapi pilihan dengan keberhasilan yang baik dan cepat, yaitu dibagi menjadi dua yaitu oklusi penuh waktu (full time) dan paruh waktu (part time). Oklusi penuh waktu berarti oklusi yang diberikan pada mata yang lebih baik, yaitu oklusi untuk semua atau setiap saat kecuali 1 jam waktu berjaga.
Jadi selama ditutup mata yang baik, mata yang malas akan dipergunakan. Penutup mata yang digunakan biasanya adalah penutup adesif yang tersedia secara komersial. Pemberian full-time patching diberikan selama satu minggu untuk setiap tahun usia, jadi kalau anak anda berusia 4 tahun, maka diberikan selama 4 minggu, lalu dilakukan evaluasi kembali.
Sedangkan pada oklusi paruh waktu adalah oklusi selama 1-6 jam per hari, yang diberikan berdasarkan derajat ambliopia. Prinsip pemberian penutup mata adalah untuk memberikan mata ambliopia digunakan lebih sehingga dapat mempunyai peluang dalam mengembangkan daya penglihatan normal.
Metode lain dalam mengatasi ambliopia adalah dengan menurunkan kualitas bayangan pada mata yang lebih baik menjadi lebih buruk dari ambliopia, atau yang dinamakan dengan degradasi optikal. Caranya adalah dengan memberikan siklopegik satu kali pada mata yang lebih baik sehingga tidak dapat berakomodasi bila melihat dekat.
Bila tatalaksana tidak dikerjakan dengan baik, maka dapat terjadi kekambuhan. Setelah 1 tahun, sekitar 73% pasien akan mengalami perbaikan mata. Komplikasi dari ambliopia adalah memungkinkan untuk terjadinya ambliopia pada mata yang baik, terutama pada oklusi full time. Oleh karena itu, dalam setiap tatalaksana yang dipilih, diwajibkan untuk melakukan evaluasi kembali.
Ambliopia dapat dicegah menggunakan skrining pada bayi usia 4-6 minggu setelah lahir, dan anak dengan riwayat keluarga ambliopia dan dilakukan tiap tahun selama periode perkembangan penglihatan anak. Dengan program deteksi dini, diharapkan dapat mengembalikan penglihatan anak menjadi lebih baik atau kembali normal.











