Ada yang Layak Muat di Horison

NUKILAN cerpen Upacara Bendera karya Reny Agustina:

Semua terjadi begitu cepat. Aldo masih berdiri di tempatnya. Ia memandang bendera merah putih yang sudah terbelah. Warna putih sudah meluncur jatuh ke tanah. Tak ada yang peduli, bahkan warna putih itu kini telah terkoyak-koyak karena dipijak oleh siswa-siswi yang berkelahi secara massal.

Aldo bingung harus bagaimana. Apakah ia ikut pada barisan perke­lahian itu ? Ataukah ia menye­la­matkan bendera merah, yang juga me­lorot turun  ke bawah tiang ben­dera.

“Jika bendera merah putih sudah tidak bisa lagi kita kibarkan, berarti negeri ini telah hancur, nak.” Terngiang kata-kata Pak Husein dalam pikiran Aldo. Maka Aldo pun berlari. Ia berlari me­nang­kap bendera merah yang hampir menyentuh tanah. Ia berlari mengumpulkan bendera putih yang telah tercabik-cabik. Tanpa ia paham apakah yang ia lakukan masih berguna.

Upacara Bendera adalah satu dari 24 cerpen dalam antologi Jalan Pilihan Raja Pardamean karya 24 guru yang tergabung dalam AGBSI Sumut. Suyadi San yang mengulas buku tersebut pada Omong-Omong Sastra di Binjai, Maret lalu, melihat kekuatan cerpen Upacara Bendera itu terletak pada ide penulis yang kontekstual dengan situasi kebangsaan saat ini: ancaman disinteg­rasi karena faktor menonjolkan perbedaan yang ada.

“Penulis menyampaikan secara tersirat. Terasa tidak menggurui dan mendoktrin pembaca,” katanya. Cerpen yang ditulis Guru SMAN 1 Medan itu berkisah tentang upacara bendera yang biasa dilakukan tiap Senin di sekolah. Dikisahkan saat bendera dikerek petugas paskibra, tiba-tiba bendera terbelah dua.

Kasak-kusuk terjadi, tak hanya di antara para siswa tapi juga guru. Upacara pun tidak jadi khusyuk. Saling tuduh dan tuding terjadi. Peserta upacara berkelahi, mencari penyebab keterpisahan bendera itu. Tokoh Aldo yang gagal menjadi petugas paskibra pun menjadi tidak penting lagi dalam cerpen ini.

Namun Aldo juga yang mencoba menyelamatkan Merah-Putih yang telah terbelah itu agar tak terinjak-injak mereka yang berkelahi. Se­buah metafora yang kuat. Menyin­dir anak bangsa yang kerap terlibat konflik atas nama perbedaan. Se­buah perilaku yang tanpa sadar telah mengoyak kohesi bangsa.

Cerpen lain yang kaya satire dan renungan hidup juga bisa dibaca dalam Hujan Belum Akan Reda, Berhen­tilah Menangis karya Herni Fauziah. Cerpen ini mengisahkan konflik batin yang mendera sepa­sang suami-isteri yang semula hidup sederhana sampai jadi super kaya. Si suami yang semula seorang idealis, berubah jadi pragmatis, serakah, dan korup. Ia mengor­bankan prinsip-prinsip hidup yang semula teguh dipegangnya. Prinsip hidup jujur, tak ngoyo, walau harus hidup sederhana.

Sampai suatu saat si suami jadi pejabat dan memutuskan jadi kaya. Ia mengorupsi apa saja. Konflik pun tak terhindarkan. Sang isteri, sekali­pun bisa hidup enak, “tak rela makan bangkai saudaraku sendiri”.

Mereka tak cerai, tapi juga tak akur. “Dia semakin bernafsu membawa beling, lebih banyak lagi, untuk kami santap bersama. Jutaan kubik pasir. Berton-ton aspal beton. Kami makan gedung-gedung bertingkat, jutaan drum premium, avtur, emas, timah, tembaga, pesawat terbang, kapal, mobil, becak, parit, got, semua masuk dalam perut kami. Juga dia bawa pulang untuk kami santap bersama; jutaan anak kecil, orok, plasenta. Dan air mata.” (hal. 92).

Menurut Suyadi, Herni Fauziah tak hanya piawai memilih kata dan menyusun kalimat jadi narasi panjang yang terjalin syahdu antara tokoh si Aku dan si Dia dalam cerpennya. Tapi Herni juga menyelipkan filosofi hidup.

Saat perbedaan prinsip antara keduanya tak bisa dijembatani sampai si Dia meninggal, maka si Aku pun mengumumkan, "Telah pergi seorang perampok, tanpa merasa bersalah". Namun si Aku sadar, “Aku ingin katakan pada semua orang, hujan belum akan reda, berhentilah menangis. Bersiaplah  untuk banjir berikutnya. Sebab berjuta-juta lagi perampok, mereka belum mati.” ( hal. 96).

“Menurut saya, Herni Fauziah sebenarnya tidak sekadar menulis kisah, tetapi sekaligus sedang berfalsafah tentang kehidupan,” ujar Suyadi dan meyakini cerpen itu la­yak muat di majalah Sastra H­o­rison.

Ia lalu mengutip Plato dan Aris­toteles yang bilang, karya sastra lahir dari pergumulan pikiran dan perasaan. Tak ayal, sastrawan adalah pemikir. Dalam hal ini, Herni Fauziah menurutnya mencoba me­ngarah ke sana.

Kehadiran buku Jalan Pilihan Raja Pardamean karya AGBSI Sumut menurutnya menjawab kera­guan terhadap guru bahasa dan satra Indonesia. Mereka ternyata tak hanya mampu membelajarkan siswa menulis, tapi juga membuktikan mampu menulis.

Mengutip survei Ruddyanto terhadap penggunaan bahasa para guru, tokoh birokrat, dan jurnalis di Jakarta, kalangan jurnalis ternyata adalah kelompok yang paling ba­nyak menerima bentuk-bentuk bahasa yang ditawarkan Badan Bahasa sebagai lembaga resmi pemerintah di bidang kebahasaan. Birokrat lebih sulit melakukan inovasi bahasa. Bahasa mereka cenderung konservatif. Sedangkan guru lebih mudah menye­suaikan diri walau tidak seleluasa jurnalis. Sangat mungkin bahasa guru cenderung normatif, tidak mudah berubah jika sudah ada norma yang ditetapkan sebelumnya.

Meski begitu, sebagai guru bidang studi bahasa Indonesia, guru ternyata mampu menulis sastra.  “Sebagai ujung tombak pemertahanan bahasa Indonesia bagi para anak didiknya, sastra adalah satu cara untuk membelajarkan bahasa Indonesia,” katanya. Jadi wahai para guru, menulislah sebanyak mungkin karya sastra! (J Anto)

()

Baca Juga

Rekomendasi