Irdam Kodam I/BB Brigjen TNI Josafath M. Robert Duka: Sumut Harus Jadi Grand Desain Keolahragaan Nasional (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Sumatera Utara (Sumut) secara historis dikenal sebagai salah satu “gudang” atlet berprestasi nasional di luar Jawa, dengan pencapaian tertinggi peringkat ke-4 di PON. Olahraga Sumut berkembang dari cabang tradisional seperti sepak bola dan atletik menuju diversifikasi ke cabor baru seperti pickleball, savate, dan selam, serta sukses menjadi tuan rumah PON XXI/2024.
“Sumatera Utara menjadi salah satu tujuan tempat uji publik grand desain keolahragaan nasional, dan kita tahu ini adalah gudang atlet berprestasi dari beberapa cabang olahraga. Ketika ada PON, Sumut menjadi salah satu daerah yang terbaik diluar Jawa. Bahkan, ada cabang olahraga tertentu yang menonjol seperti sepak bola, tinju, wushu, dan lainnya,” kata Irdam Kodam I/BB Brigjen TNI Josafath M. Robert Duka dalam bincang-bincang dengan mantan ketua umum/CEO PSMS Indra Sakti Harahap, Rabu (22/4/2026).
Disebutkan, salah satu atlet terbaik di Sumatera Utara adalah Egy Maulana Vikri. Pesepak bola binaan Kemenpora RI ini meniti karir di eropa dan pernah memperkuat klub asal Polandia, Lechia Gdansk. Selain itu, juga ada kapten Timnas U-19 Indonesia, David Maulana.
"Kemudian juga ada Lindswell Kwok, atlet wushu dengan prestasi yang mendunia. Kini, Lindswell sudah pensiun.”Maka, bagi saya, peta olahraga nasional, Sumatera Utara adalah daerah yang penting sebagai penyumbang atlet dan talenta yang luar biasa,” sebut Brigjen Josafath Duka.
Dalam bincang bincang santai itu Brigjen Josafath Duka mempunyai pemikiran positif untuk mengembalikan kejayaan olahraga di Sumut seperti tinju, atletik, renang, sepakbola.
Beliau merencanakan untuk menggelar berbagai event olahraga. Dengan tujuan, Sumatera Utara benar benar gudang nya atlet.
“Sumut bukan asing bagi Saya. Saya tau betul prestasi olahraga Sumut. Jadi, kita ingin mendorong Sumut kembali di segani di pentas nasional," kata pria yang beristri kan boru Manik kelahiran Medan.
Untuk itu, mereka menginginkan seluruh stakeholder olahraga dan pihak terkait lainnya secara bersama-sama menyukseskan grand desain keolahragaan nasional. “Saya optimis dan yakin bahwa Sumut bisa terus menyumbangkan atlet untuk Indonesia diberbagai cabang olahraga,” jelasnya.
Apalagi jelas timpal mantan Ketua Umum/CEO PSMS Indra Sakti Harahap menyebut kan petinju-petinju amatir di Sumut dinilai sangat minim mengikuti berbagai kejuaraan. Hal ini ditengarai menjadi satu penyebab menurunnya prestasi Tinju beberapa tahun belakangan ini. Padahal Sumut memiliki banyak bibit-bibit berbakat.
“Dalam beberapa tahun belakangan ini kejuaraan Tinju memang sangat minim digelar. Akibatnya Petinju kita sangat kekurangan jam terbang. Artinya, kalau hanya latihan saja tanpa adanya kejuaraan, tentunya tidak ada gunanya,” tutur pria yang juga ketua Trup Gembira Indonesia.
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, kejuaraan di Sumut hampir rutin setiap bulan digelar. Dengan demikian atlet juga dapat mengevaluasi kekurangan dari kejuaraan yang diikutinya. Dan semakin termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas.
“Berbeda dengan sekarang, sangat jarang digelar kejuaraan. Kalaupun ada, hanya sebatas Kejurda atau Kejurnas. Kalau hanya dua kejuaraan ini saja jelas sangat tidak cukup untuk menambah pengalaman atlet,” jelas Indra yang juga ketua Ikatan alumni SMAN 8 Medan.
Atletik Sumatera Utara. menurut nya mencatatkan prestasi gemilang, terutama dengan menjuarai umum POMNAS 2023 (7 emas) dan memecahkan rekor nasional di PON XXI 2024 melalui Nella Agustin (200m, 400m gawang, dan estafet 4x400m campuran). Stadion Madya Atletik Sumut juga sukses menyelenggarakan Kejuaraan Asia Tenggara U18/U20 2025.
PON XXI Aceh-Sumut 2024: Tim Sumut memecahkan rekor nasional/PON di nomor estafet 4×400 meter campuran dengan waktu. Nella Agustin menjadi bintang dengan rekor nasional di nomor 200m putri dan 400m gawang.
Di POMNAS 2023 (Banjarmasin), Atletik Sumut juara umum dengan 7 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Siska Simamora menyumbang 3 emas (1.500m, 5.000m, 10.000m) dan Nella Agustin 2 emas (200m, 400m).
Kemudian Daniel Simanjuntak meraih 2 medali emas (5.000m & 10.000m) di Singapore Open 2026. Kesia Sihotang memecahkan rekor nasional U18 nomor 2.000m halang rintang di Kejuaraan Asia Tenggara U18 & U20 2025 di Sumut. Sultan F Hasibuan meraih perak 3.000m putra U18 di kejuaraan yang sama.
Dari perbincangan juga diungkapkan mereka pembinaan cabor sepeda Sumut yang daerah ini punya pebalap andalan seperti Sutiono.
"Atlet Sumut itu yang sangat hebat, pernah mendapatkan 5 medali emas cabang balap sepeda pada PON ke-8 tahun 1973. Sayangnya setelah Sutiono, kejayaan atlet balap sepeda Sumut berakhir dan belum tergantikan sampai saat ini,” cetus pria yang juga ketua Marga Harahap Sejagad Raya (Mahajaya) Kota Medan.
Legenda
Sumut juga punya Parluatan Siregar, atlet lari jarak jauh, pernah meraih emas dan memecahkan rekor 3.000m Steeple Chase di Manila (1991) dan emas 1.500m SEA Games Singapura (1993).
Nah, Sumut kini menempatkan diri sebagai provinsi yang solid dalam pembangunan ekosistem olahraga, tidak hanya berfokus pada prestasi tetapi juga pada regenerasi atlet di berbagai cabang olahraga.
“Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang paling sering berpartisipasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Sumut hanya sekali absen, yakni pada penyelenggaraan pertama di Surakarta 1948, itu pun dengan catatan," timpal pengamat Olahraga Sumut Indra Sakti Harahap.
Sekadar mengingatkan, PON edisi pertama hanya diikuti oleh daerah-daerah di Pulau Jawa yang kala itu masih memakai istilah Karesidenan. Baru pada edisi kedua di Jakarta (1951) provinsi lain mulai ikut serta, termasuk Sumatra Utara.
Berdasarkan catatan sejarah, posisi tertinggi Sumut dalam satu penyelenggaraan PON adalah peringkat keempat. Pencapaian ini pernah terjadi dua kali, yakni saat menjadi tuan rumah (1953) dan di Jakarta edisi kedelapan (1973).
Selebihnya, Sumut seringkali menduduki 10 besar klasemen akhir perolehan medali PON. Ada pun jumlah medali paling banyak didapatkan pada PON XVII Kalimantan Timur (2008), yakni 50 (20 emas, 11 perak, 29 perunggu).
Sementara itu, pencapaian terendah Sumatra Utara di PON terjadi pada edisi ke-11 di Jakarta (1985). Mereka harus puas menduduki ranking ke-19 dari 27 provinsi, dengan perolehan enam medali emas, 19 perak, dan 14 perunggu.
Tahun 2028, Sumut menginginkan prestasi terukir positif Artinya, Sumatra Utara berharap bisa bertengger minimal di empat besar klasemen akhir PON XXII 2028.
Stagnan
Dari cabor sepakbola dalam perbincangan itu terungkap bahwa Sumatera Utara belum menunjukkan perkembangan signifikan.
Hasil yang diraih tim sepakbola Sumut dalam beberapa ajang terakhir menjadi indikator stagnasi prestasi. Ia mencontohkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh–Sumut tahun 2024, di mana tim Sumut hanya mampu melaju hingga babak penyisihan.
Prestasi sepakbola Sumut belum menunjukkan kemajuan. Di PON Aceh–Sumut kemarin saja, kita hanya sampai babak penyisihan,” ujarnya Indra.
Prestasi haru dimulai dari pembinaan usia dini karena itu merupakan dasar melahirkan pemain berbakat. Banyaknya kompetisi usia dini merupakan hal positif bagi sepak bola Indonesia. Namun, kompetisi atau turnamen ini harus ditata dengan baik.
“Dulu pembinaan atau turnamen itu sedikit, tapi terkoordinasi. Sekarang banyak, tapi tidak terkoordinasi,” ujarnya.
Menurutnya, pembinaan pemain muda harus dilakukan dengan sinergi. Tidak hanya harus berjenjang, pembinaan melalui turnamen untuk usia muda seharusnya diintegrasikan agar jadwalnya tidak tumpang-tindih.
“Masyarakat dan dunia usaha ini juga ikut bergerak artinya mereka perlu dibimbing. Jadwalnya diatur, jangan sampai tabrakan. Kalau tidak ada koordinasi, latihan terus tapi tidak ada kejuaraannya. Pas di momen tertentu turnamennya yang padat, tidak sempat latihan,” katanya.
Di sisi lain, penerapan kurikulum sepak bola nasional dalam filosofi sepak bola Indonesia (Filanesia) mulai menyentuh turnamen-turnamen yang diinisiasi swasta. Dan, saat ini,hampir semua kelompok umur sejak U-9 hingga U-18 memang sudah ada kompetisinya.
“Namun sebarannya belum merata dan terlalu terpusat. Menjadi tugas bidang pembinaan usia muda PSSI untuk menggairahkan kompetisi kelompok umur di luar Jawa karena potensi pemain cukup banyak di sana,” tambahnya.
Nah, sebaiknya PSSI berfokus pada kompetisi usia muda yang mendekati senior. Sementara usia muda di bawahnya, termasuk usia dini, digarap stakeholders yang lain.
Ke depannya Asprov PSSI Sumut dapat melakukan pembenahan secara menyeluruh, khususnya dalam pengelolaan kompetisi. Pentingnya sistem kompetisi yang berjalan baik tanpa memberatkan klub-klub peserta.
"Nah, dari perbincangan dan diskusi ini dapat menyelenggarakan kegiatan yang berkonstribusi untuk perkembangan olahraga di Sumatra Utara," pungkasnya.
(KAH/RZD)