Oleh: Amirul Khair
PANDANGAN matanya memang sudah tak lagi awas, selaras dengan usianya yang lahir 14 Nopember 1926 silam. Tapi daya ingatnya sangat luar biasa. Seperti pita rekaman kaset yang kembali diputar, ingatannya masih segar mengenal orang yang pernah berjumpa dan berinteraksi dengannya.
“Siapa itu?” tanya H Arbi Saragih yang akrab disapa Atok Ulung ketika melihat Camat Pantailabu Irawadi Harahap yang baru turun dari mobil menuju kediamannya di Desa Pantailabu Baru.
“Itu Camat Pantailabu Atok,” ucap Idris alias Ucok Lubis salah seorang rekan Camat Pantailabu yang lebih dulu menghampiri Atok Ulung yang masih rapi dengan pakaian veterannya, karena baru kembali dari sebuah sekolah dalam kegiatan “Dongeng Pejuang” di sekolah.
“Oh, sering kali dia ke mari,” ungkap Atok Ulung yang masih mengingat sosok camat yang kembali menyambangi, setelah sebelumnya juga datang memberikan tali asih untuk dirinya sebagai pejuang pada 17 Agusts 2019 lalu.
Syukur
Sebagai pejuang yang turut memerdekakan bangsa ini dari penjajah, Atok Ulung sosok yang tidak banyak menun-tut. Ia merasakan pemerintah sudah cukup memperhatikan dirinya dengan memberikan uang yang diterimanya setiap bulan.
Rasa syukurnya lebih mendalam ketika banyak orang, termasuk Camat Irawadi Harahap yang rutin mengunjunginya pada setiap momentum terkait para pejuang, baik saat 17 Agustus, juga Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 Nopember.
“Terima kasih Ya Allah. Sudah terlalu banyak nikmat yang Kau berikan kepadaku melalui orang-orang ini,” ungkap Atok Ulung sembari menadahkan kedua tangan ke langit, dalam doanya ketika menerima tali asih meski hanya beras, kain sarung, dan sejumlah uang.
Irawadi yang datang bersama Kepala Desa Pantailabu Baru Muhammad Yusuf dan perwakilan Koramil 23/Beringin serta bidan desa turut memeriksa kesehatan Atok Ulung. Saat diperiksa, tensinya cukup kurang ideal karena mencapai 160/100, diduga terlalu letih dengan kegiatannya hari itu.
“Ya. Tadi waktu diperiksa bidan desa yang kita bawa, tensinya 160/100. Mungkin terlalu capek hari ini beliau,” ucap Irawadi.
Arti Perjuangan
Camat Irawadi menilai, kedatangannya menyambangi pejuang kemerdekaan Atok Ulung hanya bagian kecil dari perghargaannya sebagai pejuang yang tidak bernilai dan tak sebanding dengan pengorbanan dalam memerdekakan bangsa ini dari penjajah.
“Enggak ada apa-apanya pemberian yang saya berikan kepada beliau. Kalau bukan karena jasa para pejuang, hari ini kita tidak bisa hidup dan berdiri menikmati nusantara yang indah ini,” ungkap Irawadi.
Ia mengaku tertegun dengan perjuangan Atok Ulung yang pernah tertembak pada bahunya saat berperang. Kecintaannya kepada NKRI patut diteladani generasi kini yang tanpa pamrih.
“Dengarkan apa katanya? Dia tidak berharap apa-apa dari negara. Dia hanya minta negara diurus dengan baik untuk kesejahteraan rakyat Indonesia dan menasihati generasi sekarang, rajin-rajin belajar dalam mengisi kemerdekaan,” paparnya.
Generasi kekinian, papar Irawadi, termasuk dirinya, perlu belajar dan meneladani arti sebuah perjuangan dari sosok Atok Ulung. Kita sering pamrih dalam melakukan sesuatu meski nilainya untuk keba-ikan orang banyak bahkan termasuk untuk diri dan keluarga sendiri.
“Kalau mau jujur, kita malu dengan Atok Ulung ini,” katanya. Bila para pejuang dan pahlawan mengartikan perjuangan sebagai sebuah perlawanan dalam mengusir penjajah dan meraih kemerdekaan dengan mengorbankan segalanya termasuk nyawa, maka perjuangan masa kini lewat upaya maksimal dengan rajin belajar dan mengurus negara ini untuk tujuan kemajuan dan kesejahteran rakyat.
“Saya kira ini arti dari belajar makna perjuangan hari ini yang bisa saya dapat dari Atok Ulung,” tandas Irawadi.











