Oleh: Tuan Ara T. Simanjuntak
ARIS baru saja pulang sekolah. Ia meletakkan begitu saja tasnya. Sepatunya dilempar seenaknya di dalam kamar. Sementara baju seragamnya dibiarkan tergeletak di lantai. Ya, itu memang sudah berulang dilakukan. Apalagi sehabis makan ia membiarkan piringnya di atas meja dengan nasi yang berserakan.
Kelakuan Aris sudah pernah diingatin oleh mama dan papanya. Tapi ia hanya mengiakan saja. Selanjutnya, semuanya kembali berserakan.
Tok! Tok! Tok! Tiba-tiba pintu depan ada yang mengetok. Aris segera membuka pintu. Di situ Derick berdiri dengan buku di tangannya.
“Kita jadi belajar bareng kan?” tanya Derick pada Aris. Ya, memang saat ini mereka ada janji untuk mengerjakan pekerjaan sekolah.
“Tentu, Rick. Masuklah! Ajak Aris pada teman sekelasnya itu.
Bareng mereka berjalan menuju ruang tengah. Di situ ada meja belajar yang agak besar. Tentu nyaman bila belajar di situ. Tapi sesampainya di tempat itu, Derick tak menyangka. Betapa tidak, piring dan cangkir kotor masih tergeletak di atas meja. Terasa sangat berantakan.
“Wah, gimana kita bisa belajar dengan meja seperti ini?” tanya Derick pada Aris.
Cepat Aris pun mengambil piring dan cangkir kotor itu dan menaruhnya ke lantai. Sementara, ia segera melap meja yang sedikit basah dengan tangannya.
“Biar kubantu!” tawar Derick sambil mengangkat piring dan cangkir kotor dari lantai ke tempatnya. Meja yang tadinya basah dan sedikit kotor pun dilapnya dengan kain.
Tak lama kemudian mereka pun belajar bersama. Setelah satu jam Derick pun pulang ke rumahnya. Sementara Aris menuju ke kamarnya untuk tidur siang. Di kamarnya, astaga! Sampah banyak berserakan. Seperti kertas dan bungkusan makanan. Ada yang terletak di lantai dan ada yang terletak di atas meja. Tempat tidurnya yang tadinya dibersihkan mama kembali berantakan.
Di lantai, ada semut yang jalan ke sana ke mari sejajar. Sepertinya lagi mengangkut sisa makanan dari bungkusan coklat. Aris membiarkan begitu saja. Ia tak berupaya untuk membersihkan kamar tidurnya.
Dengan sedikit mengantuk ia membaca buku cerita. Selang beberapa menit buku cerita itu pun dilemparkan begitu saja. Plak! Dan ia pun tertidur.
Dalam tidurnya, ia bermimpi sedang tidur di atas jerami. Di sekitarnya terdapat pemandangan yang begitu indah sekali. Ditambah dengan peternakan. Udara amat segar. Ia berlari-lari kecil menikmati keindahan alam itu.
Sebentar, ia berhenti pada sungai yang dangkal dan dingin. Ia pun duduk di tepinya. Sambil mengoyang-goyangkan kakinya pada air, ia pun tersenyum. Sementara tak jauh dari depannya, Konstan, penggembala kerbau lagi bernyanyi kecil, membiarkan kerbau-kerbaunya makan rumput. Sesekali ia membaca buku di atasnya. Asyik benar ia menikmati isi bacaan. Sepertinya buku pelajaran sekolah.
Tak lama ia mengajak Aris naik ke punggung kerbau. “Naik, yuk!” ajak Konstan. Aris dengan semangat mengiakan. Ia pun naik menunggangi kerbau tersebut. Habis itu, Aris kembali tidur-tiduran di jerami. Tak lama ia pun tertidur. Namun sayang, di tidurnya itu, ia diganggu oleh semut. Bukan itu saja, entah dari mana muncul sampah dari berbagai penjuru mendatanginya. Sehingga ia mandi sampah. Susah Aris menggoyangkan tangannya untuk menghindari sampah-sampah itu.
“Tolong!Tolong!” begitu ia berseru. Aris pun terjaga dari tidurnya. Semut terlihat menggigit tangannya. Sementara kertas-kertas berserakan di sekelilingnya. Ia pun cepat mengambil sapu dan mengumpulkan sampah. Setelah itu membuangnya ke keranjang sampah. Cepat ia juga merapikan kamar dan tempat tidurnya. Ia berjanji dalam dirinya untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan. (Penulis adalah siswi kelas V SD Nasrani)











