Riwayat Simpang Jodoh dan Rujaknya yang Melegenda

Riwayat Simpang Jodoh dan Rujaknya yang Melegenda
Rujak Simpang Jodoh, Tembung (Analisadaily/Ahmad Fauzi Siregar)

Analisadaily.com, Medan - Tembung telah menjadi daerah yang maju dan pesat. Penduduknya kini padat, perekonomian tumbuh, tempat yang dahulunya kerap dicibir tempat jin buang anak itu berubah menjadi kota satelit yang tak bisa lagi diremehkan. Berbicara daerah itu, tak bisa dipisahkan oleh Simpang Jodoh, kawasan yang tanpa sadar, telah menjadi ikon Tembung City.

Ya, siapa yang tak tahu Simpang Jodoh. Simpang yang kerap semrawut dan penuh debu itu menjelma jadi penanda kawasan Tembung dan sekitarnya. Orang boleh tak tahu nama-nama tempat di Tembung. Tapi, mereka pasti terbayang di mana Simpang Jodoh berada. Bukan hanya karena di sana tempat berjualan rujak-rujak legendaris yang lezat, namun karena ternyata Simpang Jodoh memiliki sejuta cerita, sejak puluhan tahun silam.

Simpang Jodoh di daerah Tembung dahulunya adalah hutan dan pemukiman Puak Melayu di bawah kekuasaan Pertjoet. Pada 18 Mei 1875, Deli Maatschappij membuka perkebunan Bandar Klippa di Kampung Tembung dan sekitarnya dengan luas 2000 bidang. J.B.Droste diangkat sebagai administrator pertama perkebunan ini oleh Deli Mij. Pada 1888, J.B. Droste digantikan oleh H.C.M.Brouwer Ancker sebagai administrator. Pada 1881, kebun ini mempekerjakan 344 orang kuli kontrak.

Kemudian pada masa HCM Brouwer, jumlah lahan meningkat menjadi 3000 bidang. Jumlah kuli kontrak juga meningkat menjadi 724 orang dan 200 orang pekerja tempatan. Pada tahun 1905, Deli Maatschappij menyatukan perkebunan Timbang Deli dan Perkebunan Bandar Klippa dengan luas tanah konsesi sebesar 5000 bidang tanah. Pada masa ini sudah 410 meter persegi lahan dari 6.000 meter persegi lahan yang telah digarap. Hasil yang diperoleh sebanyak 3.580 pikul dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 913 orang dan 139 orang kampung.

Tembung pun padat dihuni para kuli kontrak kebun. Dan Simpang Jodoh, kerap dijadikan tempat para kuli kontrak itu untuk menghibur diri. Para kuli kontrak itu, saban gajian mengunjungi Simpang Jodoh. Di sana para kuli kontrak itu bertemu dengan warga kampung yang saat panen tiba, tengah sibuk mengirik padi. Pertemuan itu tak jarang menjodohkan dua insan hingga ke pelaminan.

Pada awal dekade 1950-an, tempat ini kerap dikunjungi masyarakat pada malam Kamis dan malam Minggu. Karena kerap ramai, maka muncullah penjual rujak dari etnis Melayu tempatan. Para pedagang memakai lampu suluh untuk membuat penerangan untuk rujak jualannya. Para pencari jodoh pun semakin berduyun-duyun dan menebar pesona di Simpang Jodoh. Konon, mereka yang bersua di Simpang Jodoh, akan terus berjodoh hingga ke jenjang perkawinan.

Rujak Ulek Ibu Regar adalah satu di antara puluhan gerai rujak yang masih berdiri hingga kini. Ia berjualan sejak 1990-an. “Dahulu jualan masih pakai meja, kursi sederhana dan lampu sentir untuk penerangan, kalau sekarang sudah pakai listrik berkat bantuan pemerintah (Delisedang),” ujarnya saat diwawancarai Analisadaily.com, Selasa (15/1).

Ia menjelaskan, rujak buatannya berbahan baku kacang tanah, gula merah dan cabai rawit. Dan yang khas adalah campuran pisang batu. “Agar bumbu semakin kental dan tidak mudah basi,” ujar warga Jalan Pancasila, Bandar Klippa ini.

Satu bungkus harga rujak dihargai Rp15.000. Ia sendiri buka mulai siang sampai malam hari. “Pembeli bebas memilih buah tergantung dari permintaan. Dalam sehari bisa habis 30 sampai 150 bungkus,” ujarnya.

Penulis:  Bambang Riyanto
Editor:  Bambang Riyanto

Baca Juga