Sejarah hingga Harga Tiket Masuk Museum Lawang Sewu di Semarang

Sejarah hingga Harga Tiket Masuk Museum Lawang Sewu di Semarang
Humas PT KA Pariwisata, M Ilud Siregar di Museum Lawang Sewu, Semarang, Jawa Tengah (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Semarang - Warisan peninggalan sejarah, budaya, dan seni telah lama memberikan kontribusi sebagai daya tarik tujuan wisata khususnya di negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika.

Saat ini sumber daya warisan peninggalan sejarah adalah motivator yang sangat penting bagi dunia pariwisata, dan telah mampu menciptakan trend di mana berbagai obyek warisan peninggalan sejarah dijadikan sebagai produk destinasi kunjungan pariwisata.

Humas PT KA Pariwisata, M Ilud Siregar mengatakan, sejarah perkembangan kereta api di Indonesia dimulai pada masa pemerintahan Kolonial Belanda yang diawali sekitar tahun 1864 dengan dibangunnya jalur rel kereta api dari Samarang sampai Tanggung di Jawa Tengah.

“Selanjutnya perkembangan kereta api di masa itu begitu pesat dengan dibangunnya berbagai jalur dan jaringan kereta api yang menghubungkan sejumlah kota di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi,” kata Ilud, Selasa (11/10).

Seiring dengan sejarah pergantian zaman dari pemerintahan Kolonial Belanda, masa kependudukan Jepang, masa kemerdekaan, sampai dengan sekarang perjalanan panjang perkeretapian di Indonesia telah mengalami berbagai proses suka dan duka.

“Juga meninggalkan berbagai aset baik berupa benda, catatan yang bermuatan nilai sejarah sosial budaya maupun teknologi serta peninggalan kawasan aktivitas perkeretapian, bangunan yang memiliki nilai arsitektur yang sangat luar biasa bahkan diantaranya telah berusia di atas 100 tahun,” terang Ilud.

Disampaikan Ilud, wisata berbasis warisan peninggalan sejarah merupakan salah satu industri pariwisata yang berkembang dengan pesat. Di mana adanya kenaikan volume wisatawan yang mencari petualangan budaya, sejarah, arkeologi, dan interaksi dengan masyarakat.

“Berdasarkan hal itu, warisan peninggalan sejarah perkeretapian di Indonesia sangatlah berpotensi untuk dikembangkan menjadi salah satu obyek tujuan wisata di Tanah Air,” ucapnya.

Sumber daya warisan peninggalan sejarah tersebut diharapkan dapat juga menumbuhkan berbagai kepentingan dan pemanfaatan diantaranya:

• Membantu melestarikan warisan sejarah dan merupakan upaya penghargaan terhadap masa lalu yang dilestarikan untuk kepentingan generasi mendatang dan juga guna memenuhi dan pemanfaatan masa kini;

• Memiliki dampak yg positif untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi , dapat menciptakan lapangan kerja dan menciptakan penghasilan masyarakat yang pasti dan berkesinambungan serta dapat pula meningkatkan pendapatan asli daerah dan pendapatan pajak dan pendapatan lain lain;

• Menetapkan dan memperkuat identitas meningkatkan kualitas hidup dan membangun kebanggaan masyarakat;

• Memfasilitasi harmoni antar masyarakat;

• Mendukung dan membantu berbagai pengembangan diantaranya di dunia pendidikan;

Museum Lawang Sewu

Diterangkan Ilud, salah satu upaya agar sumber daya warisan peninggalan sejarah perkeretapian di Indonesia dapat dikembangkan menjadi salah satu kawasan destinasi wisata, PT KA Pariwisata telah mempersiapkan berbagai strategi yang harus dipenuhi dalam konteks pengembangan yang berkelanjutan.

Salah satunya adalah Lawang Sewa. Bangunan bersejarah ini telah berstatus museum. Sejarahnya, Lawang Sewu digunakan sebagai kantor pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang dibangun secara bertahap dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907, sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918.

Di desain oleh arsitek dari Amsterdam yaitu Prof. Klinkhamer dan BJ Oendaag, dirancang dengan mengadaptasi iklim Indonesia, dominan elemen lengkung dan sederhana.

“Bangunan di desain menyerupai huruf L serta memiliki jumlah pintu dan jendela yang banyak sebagai sirkulasi udara,” terang Ilud.

Memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten yang menceritakan tentang kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api.

Langgam Bangunan

Langgam arsitektur adalah neo-kolonial yang merupakan perpaduan arsitektur gaya Belanda dan arsitektur lokal.

Eropa (Belanda) - sistem struktur dinding pemikul yang mengandalkan kekuatan pasangan batu bata membentuk dinding dan busur-busur. Adaptasi rumah Jawa - bentuk atap limasan, tritisan, genting tanah liat dan atap cungkup.

Elemen Estetis

Bangunan ini banyak memiliki elemen estetis yang dirancang untuk kepentingan keindahan dan keasrian bangunannya, diantaranya:

• Bentuk dan ornamen atap

• Menara dan atap conical dari plat tembaga dengan hiasan perunggu di puncaknya.

• Atap-atap cungkup merupakan ventilasi udara dan dormers sebagai lubang pencahayaan alami bagi ruang atap.

Kaca Patri

Di ruang tangga utama terdapat kaca patri buatan JL Schouten dari studio 't Prinsenhof, Delft. Salah satu ornamen kaca patri melukiskan roda terbang lambang kejayaan perkeretaapian di masa itu. Di samping itu juga dilukiskan flora, fauna, figur serta motif batik Jawa yang juga melambangkan keindahan alam dan seni budaya lokal. Elemen kaca patri ini menjadi daya tarik utama saat tertimpa sinar matahari.

Ornamen Besi Tempa

Unsur besi tempa pada terali pintu, tangga putar dan railing tangga.

Pahatan pada Batu Granit

Batu granit selain sebagai penguat struktur, juga mendapat sentuhan seni pahat.

Seni Lukis dan Ukir pada Bentangan Balok

Lukisan keemasan pada balok baja dan ukiran pada balok kayu penguat plafond.

Sistem Sirkulasi Udara

Koridor sebagai pendukung sistem sirkulasi udara di dalam gedung tersebut. Lubang pintu dan jendela sebagai saluran sirkulasi udara keluar masuk dalam ruang-ruang kantor. Pada masa itu dinding menggunakan batubata gamping dan kapur sehingga dindingnya memiliki pori-pori yang menghasilkan efek sejuk pada ruangan.

Sistem Pencahayaan

Sinar matahari sebagai sistem pencahayaan alami yang masuk melalui lubang pintu, jendela dan bouvenlicht.

Pengelolaan Museum di Masa Pandemi

Dimasa awal Pandemi virus Corona (Covid-19). Museum Lawang Sewu dan Ambarawa sempat tutup, selanjutnya dibuka kembali di awal bulan Juli 2020.

Langkah-Langkah yang diambil saat mulai dibuka kembali tempat wisata Museum Lawang Sewu dan Museum KA Ambarawa beberapa persiapan dilakukan yaitu Penyediaan fasilitas untuk higenitas para pengunjung seperti tempat cuci tangan, hand sanitezir, thermo gun, jaga jarak, serta penerapan pola hidup bersih dan sehat sesuai protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah, pembuatan e-gate pintu masuk para pengungjung.

Selain itu PT KA Pariwisata bersama Dinas Kesehatan Kota Semarang melakukan sosialisasi protokol kesehatan new normal kepada para petugas di Museum Lawang Sewu.

“KAI Wisata mulai menata dan melakukan persiapan untuk membuka tempat wisata Museum Lawang Sewu bagi kunjungan wisata, terutama untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada pengunjung saat nanti berwisata, seperti melakukan protokol kesehatan,mulai dari pembatasan jumlah pengunjung, menerapkan social & physical distancing, meyediakan fasilitas cuci tangan dengan sabun, hand sanitizer serta kewajiban memakai masker, memastikan seluruh pekerja beserta seluruh mitra Museum telah melaksanakan vaksin, memasang spanduk dan flyer guna sosialisasi persyaratan kunjungan di museum, melakukan evaluasi alur pelayanan, menyediakan tempat mencuci tangan di beberapa titik di dalam museum dan menyiapkan tenaga security tambahan di gerbang pintu masuk yang bertugas mengecek sertifikat vaksin para calon pengunjung sehingga dapat meminimalisasi terjadinya antrian,” papar Ilud.

Untuk pembelian tiket dilayani pada hari H di loket yang tersedia dengan beberapa pilihan metode pembayaran, baik tunai maupun non tunai (cashless) dengan QRIS ovo, link aja, shoopie serta EDC.

Selama masa sebelum dibuka kembali, tempat wisata Lawang sewu PT KA Pariwisata melakukan kegiatan melalui Virtual tour de Lawang sewu dan Virtual Tour Indonesia Railway Museum untuk mengajak masyarakat yang rindu kegiatan traveling serta rindu suasana kemegahan tempat wisata Museum Lawang Sewu.

Saat ini Museum Lawang Sewu bisa dikunjungi, baik di masa weekday maupun weekend serta liburan nasional, dengan jam operasi dimulai pada pukul 08.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB, hari normal dan di hari Libur jam operasional dimulai pada pukul 08.00 WIB s.d 20.00 WIB dengan syarat masuk pengunjung wajib vaksin minimal dosis 1, scan barcode PeduliLindungi di pintu masuk museum dan menerapkan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh Pemerintah.

Tidak ada batasan usia untuk pengunjung museum, tetapi seluruh pengunjung wajib menunjukkan sertifikat vaksin minimal dosis 1, khusus untuk anak usia di bawah 12 tahun sudah diperbolehkan masuk dengan syarat pendamping atau orang tua sudah divaksin minimal dosis vaksin I.

Untuk harga tiket masuk Museum Lawang Sewu dewasa dikenakan Rp 20.000/orang, tiket anak Rp 10.000/anak dan Wisatawan Mancanegara Rp 30.000/orang dengan wahana layanan yang ada di museum guna memberikan daya tarik dan peningkatan pelayanan bagi para pengunjung selain berwisata edukasi dan sejarah meliputi: sewa kostum,merchandise shop,scooter electric,angkringan,UMKM,restoran CFC dan Live Musik.

Sejak dibuka kembali di masa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) pada hari Jumat, 27 Agustus 2021 para pengunjung yang datang berkunjung ke museum terus meningkat dimana di tahun 2020 jumlah pengunjung mencapai 446.374, tahun 2021 mencapai 296.148 pengunjung, di tahun 2022 dari bulan Januari hingga saat ini sudah mencapai kurang lebih 534.783 pengunjung untuk museum Lawang Sewu, baik dari wisatawan domestik maupun dari wisatawan mancanegara.

“Diambil rata-rata pengunjung adanya peningkatan pengunjung kurang lebih 100% hingga 140%,” tutup Ilud Siregar.

(REL/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi