Di Medan Kasus HIV 100/Bulan, Linda: HIV Sudah Dianggap Biasa

Di Medan Kasus HIV 100/Bulan, Linda: HIV Sudah Dianggap Biasa
Sejumlah peserta diskusi tentang HIV/AIDS diabadikan dengan narasumber di Medan belum lama ini. (Analisadaily/Zulnaidi)

Analisadaily.com, Medan - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia Daerah Sumatera Utara (PKBI) Sumut bekerjasama dengan Indonesia Aids Coalition (IAC) dan Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) menggelar diskusi tentang penanggulangan HIV/AIDS di Kota Medan di Medan belum lama ini.

Salah satu poin yang menjadi kesimpulan diharapkan adanya rencana aksi daerah (RAD) Kota Medan dalam waktu dekat agar dapat digunakan sebagai tolak ukur untuk pencapaian target global 95.95.95 di Kota Medan dan berkolaborasi dengan semua OPD.

03 Des 2022 00:10 WIB

Sosialisasi Kondom Lemah, HIV Meningkat

25 Nov 2022 23:52 WIB

OMS Harapkan Pemko Kuatkan KPA

Melalui rencana aksi itu, akan terlihat tupoksi masing-masing siapa OPD melakukan apa dan berbuat apa. Dengan begitu, penanggulangan HIV dan AIDS di Kota Medan akan lebih terpadu dalam mencapai sasaran global.

Diskusi menghadirkan narasumber pakar senior HIV/AIDS Dr Linda T Maas MPH, Pemegang program HIV dan AIDS Dinkes Medan, Emilda SKM dan Bappeda Medan Iin Juliani Saragih SKM MM. Para peserta dari berbagai perwakilan organisasi masyarakat sipil di antaranya, Yayasan Galatea, Cangkang Queer, Inti Muda, Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI), YPADHA, Peka, PKPA dan beberapa OPD Pemko Medan.

Dari sisi data Dinkes Medan, kata Emilda, temuan baru HIV di Kota Medan per bulan rata 100 kasus. Untuk pelayanan sendiri, sudah memadai. Kini sudah ada di 41 Puskesmas, 19 rumah sakit, 4 Lapas/Rutan dan di KKP Belawan.

Dia menambahkan, untuk target 95 persen Odha mengetahui status baru 38 persen. Untuk Odhiv on ART sudah 95 persen atau mencapai target. Sedangka Odha viral load tersupresi masih 6,6 persen atau sangat jauh dari target 95 persen. Dia berjanji, setiap tahun akan meningkatkan penganggaran agar Odha dapat memeriksakan viral load dari dana Pemko Medan.

Hambatan

Sejauh ini, katanya, yang menjadi hambatan dalam penanggulangan HIV dan AIDS belum maksimal kaloborasi antarprogram, terutama antara program TB, Hepatitis, KIA dengan program HIV di layanan. Stigma dan diskriminasi masih tinggi akibat belum maksimalnya kegiatan prmosi kesehatan. Keterbatasan logistik terutama Rapid Tes Sifilis masih terkendalanya pelaksanaan MoU dengan POGI dan RS swasta terkait pelaporan Bumil tes HIV dan format pelaporan yang tidak terintegrasi, kurangnya konselorARV terlatih dan petugas yang berganti-ganti.

Narasumber dari Bappeda Medan, Iin Juliani Saragih SKM MM. Menurutnya, pemerintah sudah berupaya memasukkan mata anggaran penanggulangan HIV/AIDS di instansi terkait. Selain itu, OMS atau LSM peduli HIV/AIDS juga bisa berpartisipasi aktif mengikuti musrenbang dari tingkat kelurahan, kecamatan atau kota. Bisa juga melalui e-musrenbang dan SIPD.

Sementara, pakar senior dr Linda T Maas melihat, penanggulangan HIV/AIDS di Medan saat ini sudah lesu darah. Dia menduga, masalah ini sudah tidak seksi lagi dibahas. Padahal, kasusnya terus meningkat. Bahkan, sudah merasuk ibu rumah tangga dan anak. Bahkan, kasus tertinggi terjadi di lingkungan lelaki suka lelaki (LSL).

“Isu HIV sudah tidak seksi lagi karena dianggap isu biasa. Padahal, tingginya kasus yang didapat saat ini, masih fenomena gunung es. Dimana kasus sebenarnya di bawah permukaan jauh lebih besar. Ini harus menjadi perhatian. Isunya harus kembali dibuat seksi,” ucap Linda.

Diskusi berlangsung aktif hingga di penghujung acara. Ewin dari PKBI berharap, diskusi tersebut mampu meningkatkan kolaborasi dalam penanggulangan HIV dan AIDS Kota Medan. Dengan begitu, target ambisius 95-95-95 akan tercapai.

(NAI/JG)

Baca Juga

Rekomendasi