Namira Purba (Analisa/istimewa)
Analisadaily.com, Langkat- Desa Perkebunan Bukit Lawang, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), yang terletak sekitar 80 km di sebelah barat laut Kota Medan, menyimpan banyak sekali potensi pariwisata yang dapat dikembangkan. Desa dengan jumlah penduduk kurang dari 3.000 orang ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa baik dari segi flora maupun faunanya.
Termasuk ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Leuser membuat desa ini dilintasi oleh sungai Bahorok yang keasrian dan kealamiannya masih terjaga dengan baik. Orangutan hidup bebas bergelantungan dari pohon ke pohon di hutan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser tersebut. Bunga langka asal Indonesia, Rafflesia Arnoldii pun tumbuh dengan subur dan menjadi penambah daya tarik wisata di Desa Perkebunan Bukit Lawang.
Dengan segala sumber daya alam yang ada di desa ini dan adanya keputusan Bupati Langkat nomor 556-26/K/2021 tentang penetapan desa wisata, desa ini ditetapkan menjadi salah satu dari tujuh desa wisata yang berada di Kabupaten Langkat.
Meskipun memiliki potensi sumber daya alam yang sangat kaya, keterlibatan sumber daya manusia dalam pembangunan desa ini dinilai masih kurang. Hal ini dibenarkan langsung oleh Namira Purba, yakni seorang aktivis lingkungan yang merupakan penduduk asli Desa Wisata Perkebunan Bukit Lawang yang juga merupakan Youth Manager dari organisasi nonpemerintah yang fokus bergerak dalam bidang pelestarian lingkungan bernama Yayasan Sayap Proyek Indonesia atau lebih dikenal sebagai Project Wings Sumatera.
Namira sendiri mengaku bahwa masih banyak masyarakat sekitar yang tidak sadar dan tidak peduli terhadap kebersihan lingkungan karena masih sering ditemukannya sampah yang bertebaran di sekitar wilayah desa. Hal ini berbanding terbalik dengan proyeksi desa ini sebagai desa wisata yang bukan hanya fokus pada pasar nasional, namun juga pasar internasional
Oleh sebab itu, Namira bersama Yayasan Sayap Proyek Indonesia yang dibantu oleh pemuda dan masyarakat setempat melakukan banyak aksi peduli lingkungan dalam rangka mewujudkan desa yang bebas dari sampah.
Sejak terbentuk pada tahun 2019 yang lalu, Namira bersama para sukarelawan Yayasan Sayap Proyek Indonesia rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat secara door to door mulai dari mengajak masyarakat untuk mempunyai trash bank atau bank sampah di rumahnya masing-masing, mengedukasi masyarakat baik dewasa maupun anak-anak untuk memilah sampah organik dan anorganik yang berbahaya bagi lingkungan hingga memperkenalkan sistem ecobrick sebagai alternatif fondasi bangunan.
Namira menyampaikan, tercatat lebih dari 30 ton sampah plastik yang telah didaur ulang menjadi ecobrick dan menjadi salah satu bahan utama dalam pembangunan gedung aula yang dapat dipakai sebagai ruang pertemuan, sarana pembelajaran bagi anak-anak desa serta kegiatan-kegiatan positif lainnya.
Selanjutnya, Namira bersama Yayasan Sayap Proyek Indonesia juga aktif dalam menjalankan program pembersihan lingkungan setempat. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan ialah monday clean up action yang dilakukan setiap hari Senin. Wilayah pembersihan difokuskan kepada tiga desa yang saling berdekatan, di antaranya Desa Wisata Perkebunan Bukit Lawang, Desa Sampe Raya, dan Desa Timbang Jaya.
“Kita tetap rutin melakukan aksi pembersihan atau monday clean up action setiap hari Senin. Di samping itu, kami juga tetap terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait waste management atau pengelolaan sampah yang baik, sosialisasi bank sampah, dan pemilahan sampah organik maupun anorganik. Kegiatan ini kita lakukan dengan harapan dapat menjadi role model melalui aksi nyata kepada masyarakat setempat. Jadi bukan hanya bersuara lewat kampanye-kampanye pada media sosial saja,” tegas Namira Purba.
Setiap aksi peduli lingkungan yang digiatkan Namira bersama Yayasan Sayap Proyek Indonesia bertujuan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya kelestarian alam dan lingkungan yang bersih sebab bumi adalah tempat tinggal bersama jadi sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama untuk merawatnya.
Jika terdapat banyak orang yang tidak sadar dan peduli terhadap kebersihan lingkungan, bukan tidak mungkin anak-anak generasi yang akan datang tidak lagi dapat menikmati keindahan dan kekayaan alam yang diciptakan oleh Tuhan seperti kita saat ini.
Tak hanya itu, aksi pelestarian lingkungan dengan menciptakan lingkungan bebas sampah ini dilakukan Namira sebagai salah satu wujud rasa terima kasih kepada alam yang telah memberikan banyak manfaat dan sumber daya alam sebagai penyokong kehidupan manusia.
“Aksi pelestarian lingkungan ini juga dilakukan sebagai wujud rasa terima kasih kepada alam karena alam sudah banyak membantu kehidupan manusia, baik sebagai sumber mata pencaharian ataupun sebagai tempat tinggal dengan segala kekayaan sumber daya alam yang diberikannya. Oleh karena itu, saya bersama Yayasan Sayap Proyek Indonesia secara pelan-pelan dan step by step mengajak masyarakat untuk memberikan manfaat kepada bumi, salah satu caranya yakni dengan menciptakan lingkungan yang bebas sampah,” tutur Namira mengakhiri.
(NS/BR)