Riestu Fauzan Akbar. (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Riestu Fauzan Akbar, yang akrab disapa Fauzan, merupakan Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) Sumatera Utara periode 2023–2025. Ia dikenal sebagai kader yang tumbuh melalui proses panjang dan berjenjang di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sejak usia sekolah.
Perjalanan Fauzan di IPM dimulai sejak duduk di bangku SMP. Ia memulai kiprahnya dari tingkat paling bawah, yakni Pimpinan Ranting, sebelum akhirnya menapaki jenjang kepemimpinan hingga tingkat provinsi. Proses tersebut membentuk karakter kepemimpinannya yang berbasis pengalaman dan keterlibatan langsung.
IPM sebagai Ruang Belajar di Luar Pendidikan Formal
Bagi Fauzan, IPM bukan sekadar organisasi pelajar, melainkan ruang belajar yang memberikan pengalaman di luar pendidikan formal. Ia menilai pendidikan formal kerap menitikberatkan pada aspek teori, sementara organisasi menghadirkan ruang praktik yang nyata.
Melalui rapat kerja, program organisasi, dan kegiatan advokasi, pelajar dilatih untuk menganalisis persoalan, menyusun gagasan, serta menjalankan program secara langsung. Menurut Fauzan, pengalaman tersebut menjadi bekal penting dalam membentuk kepemimpinan dan kepekaan sosial.
Pelajar Berdaya sebagai Arah Kepemimpinan
Dalam masa kepemimpinannya di PW IPM Sumatera Utara, Fauzan mengusung visi Pelajar Berdaya. Visi ini menekankan bahwa pelajar harus menjadi subjek utama dalam setiap program organisasi.
Fauzan menegaskan bahwa program kerja IPM tidak boleh sekadar formalitas atau memenuhi laporan pertanggungjawaban. Setiap kegiatan harus memiliki tujuan yang jelas, sasaran yang tepat, serta dampak yang dapat dirasakan langsung oleh pelajar.
Pelibatan aktif pelajar dalam setiap program diyakini mampu meningkatkan kapasitas, pengalaman, serta pemahaman mereka terhadap dinamika organisasi dan sosial.
Menjawab Tantangan Literasi di Sumut
Salah satu fokus utama IPM Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Fauzan adalah penguatan literasi. Ia menilai tingkat literasi pelajar di Sumatera Utara masih perlu mendapatkan perhatian serius.
Sebagai respons, IPM Sumut menggagas berbagai program literasi, seperti sekolah literasi, hingga gerakan membaca satu lembar buku setiap hari. Program-program tersebut bertujuan menumbuhkan kebiasaan membaca serta meningkatkan daya pikir kritis pelajar.
Fauzan menekankan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca buku, tetapi juga mencakup literasi digital, visual, dan sosial yang relevan dengan perkembangan zaman. Advokasi Pelajar : Happy Tanpa Bully Selain literasi, IPM Sumut juga menjalankan peran advokasi pelajar. Salah satu program yang dijalankan adalah Happy Tanpa Bully, yang dilaksanakan bekerja sama dengan IPM Pusat dan Kementerian Pendidikan.
Program ini melibatkan pelajar dan guru dari berbagai sekolah, baik Muhammadiyah maupun non-Muhammadiyah. Melalui pendekatan edukatif, IPM Sumut berupaya menekan angka perundungan di lingkungan sekolah.
Menurut Fauzan, meskipun perundungan belum bisa dihilangkan sepenuhnya, upaya berkelanjutan mampu menurunkan angka kasus dari tahun ke tahun.
Tantangan Memimpin di Wilayah yang Luas
Memimpin organisasi pelajar di Sumatera Utara memiliki tantangan tersendiri. Luas wilayah serta beragamnya kondisi sosial membuat tidak semua pelajar dapat dijangkau secara maksimal.
Meski demikian, Fauzan menegaskan bahwa IPM bersifat inklusif dan terbuka bagi seluruh pelajar tanpa memandang latar belakang agama maupun organisasi. Menurutnya, semua pelajar memiliki hak yang sama untuk diberdayakan.
Adaptasi Organisasi di Era Digital
Di tengah perkembangan teknologi, Fauzan mendorong IPM untuk terus beradaptasi dengan era digital. Ia menilai generasi muda hidup dalam ekosistem yang serba cepat dan instan, sehingga organisasi harus mampu menyesuaikan diri.
Pemanfaatan media sosial dan platform digital menjadi salah satu cara IPM Sumut untuk menjangkau pelajar secara lebih luas. Digitalisasi dipandang sebagai sarana untuk memperkuat peran organisasi, bukan sebagai ancaman.
Menjelang Akhir Masa Jabatan dan Harapan ke Depan
Menjelang akhir masa jabatannya sebagai Ketua Umum PW IPM Sumatera Utara, Fauzan tidak terlalu menekankan soal legacy secara personal. Ia lebih berharap program-program yang telah dirintis dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan.
Menurutnya, dampak nyata bagi pelajar merupakan ukuran utama keberhasilan kepemimpinan dalam organisasi.
Pesan untuk Generasi Muda
Sebagai penutup, Fauzan menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tidak ragu untuk berproses di organisasi. Ia menilai organisasi merupakan ruang belajar yang melengkapi pendidikan formal.
Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijak untuk membangun kapasitas diri dan masa depan.
Berita kiriman dari: Dimas Arif











