Pojok Pers Oleh : War Djamil

Bisnis Media ? Anjlok !

Bisnis Media ? Anjlok !
Bisnis Media ? Anjlok ! (Analisadaily/istimewa)

TATKALA masa keemasan media cetak. Ketika koran merajai ruang informasi publik. Saat koran di dunia menjadi pilihan utama publik. Waktu itu … bersamaan dengan bisnis media yang laris manis, menjulang.

Sama. Tatkala media massa anjlok. Bisnis media juga terpuruk. Benarkah bisnis ini, sedang runyam ?
Saya hubungi dua ekonom (beliau profesor dan satu lagi doktor). Kami ngobrol tentang bisnis media. Saya rangkum menjadi semacam kesimpulan ringan.
Pertama, menyamakan persepsi. Mari, kita sepakat dulu. Yang namanya media massa, intinya “menjual informasi”. Kalau sajian berita tergolong sangat informatif, media itu akan dipilih publik.
Kalau begitu, mengelola bisnis media, harus dengan trik bisnis. Trik pemasaran, trik berita yang menarik serta trik merebut hati publik.
Kedua, promosi. Informasi media, bagi produsen yakni kerja-kerja promosi. Promosi produk melalui media, tersebar, meluas dan menjangkau segenap lapisan warga. Promosi mempengharuhi publik untuk membeli.
Di sini. Media yang populer menjadi lahan produsen memasang iklan. Artinya, media yang dipercaya publik, melahirkan dua sisi. Satu, trust publik sangat tinggi pada media top itu. Dua, iklan produk tersebut dipercaya.
Ketiga, laba. Mengelola media dan bisnis media dengan sasaran : Cari laba. Tak usah malu. Bilang saja provit oriented. Bisnis mana yang tak cari laba ?
Prinsip utama, jadikan media itu sebagai media unggul, populer. Kalau pengusaha sudah memilih media itu tempat promosi produk, bisnis media ini akan melambung. Kebanjiran iklan aneka produk. Pemasukan media yang menjanjikan.
Keempat, intinya iklan. Kini, sebagian produsen tak memilih media cetak dan sedikit memilih televisi untuk iklan produknya. Lalu bagaimana bisnis media ini ?
Hal mendasar, tetap saja dengan kalkulasi laba-rugi. Mengelola media tanpa pemasukan, artinya kerja nol. Kini banyak media dengan pola “gali lubang, tutup lubang” (megap-megap).
Platform digital apapun, ujung-ujungnya bayaran (= iklan). Wawancara/podcast, yang bayar Rp. 3 juta atau 5 juta atau lebih. Itu iklan juga, meski dengan nama lain.
Kelima. Media, termasuk televisi mulai kewalahan terkait iklan. Sisi tarif dan komisi agen ? Macam-macam. Sangat variatif bahkan istilah lapangan, sudah “hancur-hancuran”. Kondisi iklan di media cetak dan radio, lebih parah.
Kondisi iklan di mancanegara sangat menyedihkan. Tak seindah dulu. Tak sehebat tempohari. Itu fakta. Kalau ada satu-dua bisnis media sukses. Sungguh, itu bukan cerminan umum.
Keenam. Bisnis media kini, istilahnya “cukup makan”. Sebagian beralih. Anda cek saja. Bisnis media terbitan Jakarta dan Medan. Hitung iklannya berapa ? Wajar jika disimpulkan, bisnis media kini sudah tiarap. Anda punya pendapat lain ? Silakan. Ini fakta terkini.
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa

Baca Juga

Koran ? Titik Nadir !
20 Apr 2026 17:29 WIB

Koran ? Titik Nadir !

Dana Jurnalisme (?)
13 Apr 2026 17:03 WIB

Dana Jurnalisme (?)

Publik Mengadu Ke ?
06 Apr 2026 11:46 WIB

Publik Mengadu Ke ?

Pojok Pers : Proteksi Persma ?
30 Mar 2026 07:43 WIB

Pojok Pers : Proteksi Persma ?

Gen-Z & Digital
16 Mar 2026 06:35 WIB

Gen-Z & Digital

Sebagai Verifikator !
09 Mar 2026 20:12 WIB

Sebagai Verifikator !

Rekomendasi