Koran ? Titik Nadir ! (analisadaily/istimewa)
KEMBALI isu koran. Media cetak pernah jaya. Kini menyedihkan. Koran tutup ? Koran dalam kondisi gawat ? Koran di titik nadir ? Semua itu bukan berita. Beberapa tahun silam, kondisi koran memang begitu.
Lho ? Bagaimana nasib penerbit koran yang prihatin itu ? Selama ini, berbagai forum penerbit media cetak membahas nasib koran. Tentang solusi yang mungkin tepat. Tujuan utama, koran bertahan.
Forum penerbit seperti di Hong Kong. Sejumnlah pakar media mancanegara bersuara. Mengeluarkan pendapat. Mengedepankan sumbangsih pemikiran yang jitu. Namun di ujung acara, nada pesimisme yang berkumandang. Kok tiada optimisme ? Kalaupun ada, hanya bagi satu-dua koran di negara tertentu. Di banyak negara, titik nadir. Itu fakta !
Di Indonesia ? Sama. Lebih kurang begitu juga. Ada koran harian yang edisi hari Minggu stop. Beralih atau gabung terbitan Sabtu, dengan tambahan dua atau empat halaman.
Atau. Koran berstatus harian, tetapi terbit mingguan alias satu kali sepekan. Ada cuma tiga kali, tiap Senin, Rabu dan Jumat. Nah, koran harian terbitan 7 kali sepekan, dapat dikira dengan telunjuk. Cuma satu-dua koran tersisa.
Lalu. Kebijakan penerbit menerapkan efisiensi dengan ongkos cetak doang. Tak cetak sendiri. Beberapa tahun terakhir, sejumlah koran memang bayar ongkos cetak di perusahaan lain.
Jauh lebih murah dibanding mengoperasikan mesin cetak sendiri. Mengapa ? Ya. Bayar gaji petugas mesin, beli kertas, beli tinta, bayar listrik, perawatan mesin (apalagi jika rusak !).
Jauh lebih murah karena apa ? Menurut beberapa percetakan. Kalkulasi riil sederhana jika cetak di atas sepuluh ribuan, cocok mesin sendiri. Apalagi hanya seribu lembar, bayar ongkos cetak.
Apalagi ? Efisiensi berlanjut terkait kantor redaksi. Berkantor di rumah pemilik atau penerbit. Cukup satu ruangan. Atau, garasi disulap jadi ruang redaksi.
Apalagi ? Mirip tadi. Redaksi cukup dua atau tiga orang saja. Redaktur merangkap reporter. Bagaimana peliputan ? Aneka trik untuk mendapatkan berita. Merekalah yang menguasai cara itu.
Lalu ? Publik. Sebagian kecil masih baca koran. Sebagian besar publik boleh dibilang (maaf) tidak peduli pada koran. Itu kenyataan. Bukan cuma perorangan, perusahaan dan lembaga/institusi juga begitu.
Lalu ? Benarkah heboh mendirikan portal. Media online dikelola dengan harapan fantastis. Apakah pemasukan signifikan ? Jawabnya : Belum pasti. Semua masih upaya.
Lalu ? Haruskah koran bertahan ? Ini pertanyaan mendasar. Harus ada jawaban. Khususnya bagi penerbit media cetak. Opini publik (public opinion) : Koran memang harus tutup. Tetapi, penerbit kritis berkata : Koran terbit terus.
Nah. “Terbit terus” dengan catatan. Apa itu? Strategi khusus. Tidak muluk. Efisiensi plus jumlah tenaga kerja minimal. Dan, kerja keras untuk pemasukan biaya operasional. Tiap media pasti tak sama trik ini. Terpulang pada pemilik/penerbit. Ayo .. berbuat jika koran harus terbit. Kecuali memang akan kibarkan bendera putih !
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa











