Pojok Pers Oleh : War Djamil

Jurnalis Puan

Jurnalis Puan
War Djamil (analisadaily/istimewa)

JURNALIS perempuan. Di negara jiran, ucapan “puan-puan” yang berbahagia. Maknanya : puan-puan = ibu-ibu (= para perempuan).

Kini, kalangan perempuan di Indonesia, sebagian memilih profesi pers. Terbukti di beberapa kota, sejumlah jurnalis perempuan aktif meliput. Sebagai jurufoto televisi dan jurnalis media cetak serta reporter media siber (online media).
Sebenarnya. Sejak lama perempuan sebagai jurnalis sudah aktif di mancanegara, termasuk Indonesia. Mungkin waktu itu jumlah terbatas. Sekarang, cukup banyak.
Ketekunan dan kelincahan dalam peliputan menjadi modal sehingga hasil liputan cukup baik. Bahkan sering mengejutkan pembaca, karena sangat bermutu. Sisi lain yang ikut membantu kesuksesan dalam peliputan itu, jalinan dan jaringan yang dibina dengan baik.
Kemampuan menjalin hubungan dengan narasumber dengan menjaga jarak dalam arti positif. Dan, jaringan dengan berbagai pihak. Semua itu membantu kelancaran kerja-kerja jurnalistik sehari-hari.
Dari sisi lain, keakraban dengan jurnalis pria, makin menambah informasi yang dibutuhkan. Karena jurnalis pria tidak pelit berbagi informasi yang mungkin duluan diperoleh dibanding jurnalis perempuan. Akhirnya, kerjasama terwujud, saling info timbal-balik.
Kekuatan jurnalis perempuan di Tanah Air sangat diperhitungkan. Tak heran akhirnya lahir wadah/organisasi dalam berbagai sebutan, seumpama forum jurnalis perempuan atau komunitas lain, yang murni anggotanya yakni jurnalis perempuan. Hal yang menggembirakan tentunya.
Melalui wadah/organisasi itu, beberapa bentuk kegiatan dalam upaya peningkatan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik makin dapat direalisir. Sebut saja, pendidikan/pelatihan dengan topik pendalaman UU Pers atau Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Berbagai isu dengan topik menarik lain, sering dilakukan forum/wadah/organisasi tersebut.
Peningkatan mutu sebagai jurnalis sangat penting. Selain ilmu jurnalistik murni, juga sisi-sisi lain yang terkait dengan pers secara umum. Misalnya pemahaman UU Keterbukaan Informasi Publik, UU Penyiaran. Bahkan penerapan dalam praktek yang tergolong “jurnalis berbasis HAM” atau jurnalis data (data journalism), juga cyber journalism, dan lain-lain.
Kemampuan jurnalis perempuan juga dibuktikan dengan jabatan sebagai redaktur pelaksana bahkan jabatan pemimpin redaksi di media televisi, media cetak serta media siber. Ini fakta.
Hal serupa di luar negeri. Keseriusan dalam profesi pers yang dilakukan dengan sepenuh hati, juga menghasilkan prestasi. Sikap tegas mempertahankan kebebasan pers (press freedom), independensi pers serta dengan berani memberitakan kasus korupsi penguasa di negaranya, kadangkala dengan resiko tinggi, berakibat masuk penjara.
Kasus penangkapan terhadap jurnalis perempuan tetap menjadi perhatian lembaga pers dunia, termasuk UNESCO.
Guna memotivasi sekaligus memperkuat dan mempertajam keteguhan penegakan kebebasan pers, UNESCO memberikan penghargaan saat acara Hari Kebebasan Pers Dunia (World Press Freedom Day/WPFD). Anugerah bernama Guillermo Cano itu, pada Mei 2026 diberikan kepada jurnalis perempuan di Filipina. Di mana sebagai unsur pimpinan, medianya konsisten dengan pemberitaan terkait korupsi.
Sedangkan World Press Freedom Prize 2025, diberikan UNESCO kepada koran La Prenza di Nikaragua.
Jurnalis perempuan, teruslah aktif. Karya jurnalistik bermutu anda dinantikan publik. Semoga menjadi kekuatan utama dalam profesi pers di Indonesia.

21 Jul 2026 06:43 WIB

Fee Karya Jurnalistik

13 Jul 2026 11:55 WIB

(Tidak) Tergantung Iklan ?

Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa

Baca Juga

Bad News & Good News
06 Jul 2026 12:01 WIB

Bad News & Good News

573 Pengaduan
30 Jun 2026 21:09 WIB

573 Pengaduan

Hak Ekonomi
22 Jun 2026 20:17 WIB

Hak Ekonomi

Apa dari SPS ?
17 Jun 2026 20:41 WIB

Apa dari SPS ?

Koran Cari Solusi
25 Mei 2026 17:55 WIB

Koran Cari Solusi

Press Freedom
20 Mei 2026 20:15 WIB

Press Freedom

Rekomendasi