(Tidak) Tergantung Iklan ? (Analisadaily/istimewa)
PERTANYAAN : Benarkah iklan menentukan hidup-mati media massa ? Iklan sebagai penerimaan andalan media ? Media tergantung pada iklan atau tidak ?
Pertanyaan itu mungkin menjawab kondisi media saat ini. Mengapa ?
Meski media cetak di dunia sedang anjlok disebabkan hadirnya internet dengan segala platform digital. Fakta membuktikan, sejumlah media cetak, bahkan televisi serta _online-media_ , semua terus mencari iklan untuk biaya operasional.
Kalau begitu. Sukar menampik pendapat yang menyebut : media sangat tergantung pada iklan, sampai detik ini dan masa mendatang.
Khusus koran. Jualan fisik koran dan majalah, bukanlah pemasukan utama. Contoh hitungannya begini : Tempohari koran dengan edisi 32 halaman, dijual Rp.3000/lembar (eksemplar).
Biaya produksi ( _cost production_ ), Rp.1.850. Selisih Rp.1.150 (= sebagai laba) dibagi 4 pihak. Yaitu : Penerbit, agen utama, sub agen serta penjual eceran. Masing-masing memperoleh dari tiap lembar (eksemplar) : Rp.300, Rp.350, Rp.250 dan Rp.250.
Sangat variatif tiap perusahaan pers dalam menentukan perhitungan bagi laba untuk 4 pihak itu. Hal biasa jika Agen Utama justru menoreh angka lebih besar dari pihak penerbit. Mengapa ? Agen Utama berkaitan dengan jasa urusan pemasaran media itu.
Akumulasi penerimaan penerbit selama satu bulan, tergolong penerimaan kotor. Masih harus dikeluarkan untuk gaji (wartawan/karyawan), pajak, bayar listrik/air, bagian kemotoran, dan lain-lain. Sisanya, relatif kecil.
Namun. Penerimaan bersih justru dari iklan ke kas perusahaan pers, setelah otomatis potong komisi (agen iklan) dan pajak saat transaksi. Itu sebabnya, iklan sebagai penerimaan andalan.
KINI ? Iklan ke media tidak seperti dulu. Media cetak yang sekaligus juga punya _online media_ . Atau, media siber murni dan perusahaan televisi, sama. Yakni, iklan yang diterima belum signifikan. Bahkan “kue iklan” yang diperebutkan, makin berkurang.
Semua media kerja keras. Sejumlah trik diterapkan. Misalnya, tarif ikan cuma formalitas. Berapa kemampuan pemasang iklan bisa membayar, itulah menjadi harga iklan. Bentuk lain, aneka platform digital juga serupa. Misal, ditawarkan _podcast_ Rp.3 juta selama 30 atau 45 menit siaran. Tetapi, tatkala ditawar menjadi Rp.2 juta atau satu juta rupiah, juga _deal_ .
Iklan pariwara (= _advertorial_ ) diutamakan sejumlah media. Lalu ada semacam kerjasama penerbit media dengan perusahaan/institusi pemerintah dalam bentuk publikasi aktivitas perusahaan/lembaga pemerintah, melalui kontrak jangka waktu tertentu.
Iklan di media TV. Anda lihat iklan saat siaran acara yang digemari publik. Meski Anda agak kesal dengan iklan yang seolah-olah mengganggu keasyikan Anda menonton.
Pola-pola semacam itu, membuktikan ketergantungan media pada iklan. Dan, jika pihak pers serta publik, menyebut ada bentuk lain bagi penerimaan pendapatan media selain iklan. Apakah realisasinya lancar ? Atau cuma formalitas belaka.
Dari ungkapan sekilas di atas. Terlihat. Betapa sukar memperoleh iklan saat ini. Perusahaan pers yang tak mampu mendapatkan iklan, akhirnya menyerah.
Kalaupun ada satu-dua pemilik media cetak atau _online media_ mengeluarkan dana dari “kocek pribadi”, akan sanggup berapa bulan ?
Terbukti. Beberapa media cetak tutup. Radio tak mengudara. Media siber hilang atau beralih manajemen, ganti nama. Meski kelak, banyak juga yang lenyap. Itulah kenyataan. Apa boleh buat.
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa











