Bad News & Good News (Analisadaily/istimewa)
Sejak media massa lahir. Terutama tatkala pemberitan koran menjadi salah satu informasi penting berbagai pihak. Ya, saat koran “merajai” dunia informasi, lahir satu ucapan dari pihak pers. Bunyinya begini “ bad news is good news”.
Pada awalnya. Dunia jurnalisme seolah meneguhkan kalimat itu sebagai suatu prinsip penting dalam kerja-kerja jurnalistik, yang tentunya guna hasil karya jurnalistik yang diinformasikan ke publik.
Wajar, sikap dunia jurnalisme begitu. Sebab apa ? Tiada lain, lima kata itu mengandung arti sangat kuat. Bernilai tinggi dari sudut kacamata jurnalisme.
Kalau kelak. Publik juga ikut “membenarkan” kalimat itu ditinjau dari segi praktek. Hal itu bermakna publik ikut menjiwai arti sajian pemberitaan akurat yang disajikan media.
Dalam aktivitas masyarakat secara umum, arti penting informasi, memang menjadi kebutuhan utama. Tokoh pers juga menyebut : Berita sebagai _refleksi_ yang menggambarkan/cerminan dari kenyataan ( _mirror of reality_ ).
Tentu lahir pertanyaan dari sebagian publik : Mengapa informasi yang tergolong buruk, justru bagi media dinilai berita yang bagus ?. Jawabnya, mari kita telaah dari dua sisi.
*Pertama* , tentang _bad news_ . Di sini kiranya publik menerima pengertian seperti ini : Peristiwa yang mengerikan, seperti gempa. Atau, pesawat jatuh dengan korban sekian ratus penumpang tewas (hilang). Itu berita buruk, tetapi penting. Publik ingin tahu kejadiannya. Semua pihak mencari info, melalui media. Otomatis media memberitakan.
Berita semacam ini, menjadi sajian utama (= _headline_ ) koran di dunia. Dan, sebagai _breaking news_ siaran TV.
Sejalan dengan itu, bermakna koran laris manis, yang berdampak tiras meningkat, serta pemasaran meluas. Dampak positif, iklan mengalir. Terutama iklan produk, seperti kulkas, _handphone_ , mobil, sepeda motor dan sebagainya.
Iklan dari produsen mengalir ke media. Artinya, media makin kuat dari sisi bisnis. Hal sama terhadap televisi. Iklan dari media, boleh dibilang sebagai urat nadi.
Pengertian lain, _bad news_ semacam itu, dapat disebut sebagai informasi dengan “nilai jual tinggi”. Bahkan peristiwa mengerikan seperti tsunami di Aceh tempohari, bisa beberapa hari menghiasi halaman-1 atau siaran utama TV.
Di sini, bukan pers berharap terjadi peristiwa mengerikan. Tetapi. Jika terjadi, tetaplah sebagai informasi yang punya nilai berita ( _news value_ ) tinggi.
Dunia informasi berkembang. Dunia jurnalisme sama. Sikap dan pemikiran publik juga serupa. Akhirnya terjadi kombinasi atas “lima kata” di atas. Yakni, lahir 4 kata dengan peringkat sama. Yakni : _good news is news_ . Kalimat ini dikukuhkan setara dengan _bad news is good news_ .
Di sini. Berita-berita besar yang menggembirakan. Seumpama capaian atlet lari 100 meter dengan capaian 9,9 detik. Debut mendunia dari legendaris sepakbola Pele dan Maradona. Atau prestasi pebulutangkis Indonesia, Rudy Hartono dan Susi Susanti.
Contoh lain, presiden terpilih dalam pemilu suatu negara. Berita menarik atau menakjubkan. Semua menyita halaman-1 koran dan siaran prioritas TV.
Itulah, _good news is news_ . Ya. Itulah info menggembirakan yang menjadi berita utama media. Media menerapkan kombinasi ini.
Kiranya. Sekilas terjawab sudah tentang mengapa kejadian buruk, menjadi berita utama media. Tak ada yang salah. Ini murni informasi. Berita yang bagus (good news) juga ditunggu publik !
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa











