Pojok Pers Oleh : War Djamil

Koran Cari Solusi

Koran Cari Solusi
Koran Cari Solusi (Analisadaily/istimewa)
MEMASUKI pertengahan tahun 2026. Sejumlah media cetak mancanegara masih mencari solusi. Alternatif apa yang dinilai tepat, agar tahapan bertahan berlanjut. Berharap tahapan itu segera berakhir dengan penerbitan stabil dalam arti biaya operasional tertutup dengan pendapatan iklan.
Jika diamati. Beberapa negara di Asia Pasifik ditemui satu-dua koran di kota-kota besar dengan tiras cukup menggembirakan. Penerbitan koran seperti di Jepang dan Thailand, tergolong baik. Meski sebagian juga sudah tutup.
Di Indonesia, sama saja. Hal serupa di Sumatera, khususnya Medan dan Banda Aceh. Sebagian besar gulung tikar. Beberapa tersisa coba bertahan.
Maaf. Saya sebut coba bertahan. Memang, kondisi sudah berat. Namun terus terang, pihak pemilik/penerbit berupaya terbit. Tentu dengan menerapkan langkah prinsipil.
Secara umum, kebijakan dilakukan hampir sama. Hal utama efisiensi. Ini mencakup biaya operasional. Sangat ketat. Biaya yang bisa dielak, langsung di pangkas, sepanjang tak mengganggu operasional.
Lalu, pengurangan tenaga wartawan dan karyawan. Koran di Jakarta, Bandung, Medan, Banda Aceh dan lain-lain, berbuat sama. Diselesaikan dengan baik atau “saling pengertian”.
Bentuknya aneka macam. Ada perusahaan yang mengalihkan ke media siber (= online media). Ada masuk perusahaan baru, seperti usaha kuliner atau jual-beli barang tertentu.
Trik lain. Pindah kantor. Relokasi hal biasa. Contoh : Kelompok bank (= perbankan) menutup sejumlah kantor. Dan, pindah kantor yang seadanya. Karena operasional perbankan dominan dengan jalur elektronik.
Banyak kantor media di Tanah Air pindah kantor. Seiring dengan penerapan menjual mesin cetak. Artinya, hanya bayar ongkos cetak saja di percetakan yang khusus mencetak beberapa koran.
Dalam satu malam, percetakan itu mampu melayani 5 sampai 6 koran. Kok bisa ? Ya, karena jumlah (tiras) dicetak rata-rata di bawah 25 ribu eksemplar. Bahkan-maaf- ada koran cuma 500 atau seribu eksemplar. Bahkan pula, seribu lembar tiga kali sepekan, tiap Senin, Rabu dan Jumat.
Begitulah. Bermacam kebijakan pihak penerbit koran. Itu bukan luar biasa. Dalam kondisi prihatin begini, itu biasa saja. Hal terpenting tahap bertahan ini mampu dijalani normal. Setidaknya penerimaan dan pengeluaran masih seimbang. Dengan catatan ada tersisa sedikit laba untuk kas pihak penerbit (pemilik).
Langkah lain ? Ini yang paling menggemaskan. Gaji wartawan dan karyawan. Di beberapa kota di Indonesia. Nyaring terdengar, cara cicilan. Variatif. Misal : Ada yang setengah bulan yakni tanggal 15 dan akhir bulan. Ada pula dengan tunggakan satu bulan. Ada lagi yang “belum tahu” kapan gajian, hanya pegang ucapan pihak penerbit “nanti rapel”.
Dari semua kondisi menyedihkan itu. Satu hal tetap perlu digarisbawahi : Koran yang terbit teratur, dengan sajian bermutu, dikelola secara profesional, tetaplah koran yang baik. Tetap menjadi pilihan publik !
Anda bisa buktikan. Lihat satu-dua koran terbitan Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan atau Banda Aceh. Koran itu tergolong stabil, meski pengelolaannya penuh kehati-hatian.
Publik silakan pilih. Masih ada satu-dua koran terbit. Khususnya di ibukota provinsi. Memang tidak semua koran didistribusikan ke kota di kabupaten, karena pembaca (= pembeli) sangat kurang.
Kondisi koran di dunia memang sedang tidak baik-baik saja, dalam arti jumlah (eksemplar) dicetak. Kalau konten, tetap bermutu. Semoga koran di Indonesia masih survive. Itu saja !
Berita kiriman dari: Pemred Harian Analisa

Baca Juga

Press Freedom
20 Mei 2026 20:15 WIB

Press Freedom

WPFD 2026
11 Mei 2026 18:33 WIB

WPFD 2026

Hak Cipta & Pers
04 Mei 2026 13:30 WIB

Hak Cipta & Pers

Bisnis Media ? Anjlok !
27 Apr 2026 13:45 WIB

Bisnis Media ? Anjlok !

Koran ? Titik Nadir !
20 Apr 2026 17:29 WIB

Koran ? Titik Nadir !

Dana Jurnalisme (?)
13 Apr 2026 17:03 WIB

Dana Jurnalisme (?)

Publik Mengadu Ke ?
06 Apr 2026 11:46 WIB

Publik Mengadu Ke ?

Pojok Pers : Proteksi Persma ?
30 Mar 2026 07:43 WIB

Pojok Pers : Proteksi Persma ?

Rekomendasi