Program Akselerasi di SD Percobaan Ditiadakan Bikin Orangtua Murid Keberatan, Begini Penjelasan Plt Kepsek

Program Akselerasi di SD Percobaan Ditiadakan Bikin Orangtua Murid Keberatan, Begini Penjelasan Plt Kepsek
Program Akselerasi di SD Percobaan Ditiadakan Bikin Orangtua Murid Keberatan, Begini Penjelasan Plt Kepsek (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan – Baru menjabat 1 tahun sebagai PLT Kepala Sekolah di SD Percobaan yang beralamat di Jalan Sei Petani, Ermansyah Lubis membuat gebrakan menghentikan program akselerasi bagi para siswa yang memiliki bakat istimewa menyelesaikan studi dalam waktu singkat.

Sayangnya, gebrakannya itu tidak dibarengi dengan mengundang para orangtua siswa untuk dimintai tanggapannya untuk penghentian program yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 2000 itu. Sementara, program akselerasi untuk siswa di SD Percobaan tersebut juga sudah berlangsung lama. Bahkan, alumni siswa dari sekolah tersebut kini ada yang sudah berstatus mahasiswa.

"Kami keberatan dihilangkan program akselerasi di sekolah itu. Sebab, ada 26 siswa yang sudah mengikuti penjaringan mulai kelas 2 dan dinilai mampu mengikuti program akselerasi," keluh salah seorang orang tua siswa yang anaknya tercatat sebagai siswa berprestasi di sekolah itu, Jumat (10/7/2026) kepada wartawan.

Lagipula, lanjutnya, akan ditiadakannya program akselerasi itu mulai tahun ini tidak ada meminta persetujuan dari semua orang tua siswa yang anaknya memiliki kecerdasan di atas rata–rata.

Sebelum kepala sekolah yang baru ini (Ermansyah Lubis), kepala sekolah sebelumnya semua sangat mendukung pelaksanaan program akselerasi. Namun entah kenapa oleh Ermansyah Lubis program itu mau ditiadakan.

"Kalau di sekolah Percobaan ini program tersebut dihapuskan, jadi apa bedanya dengan sekolah negeri atau sekolah Inpres. Justru ketika sekolah Percobaan memiliki program akselerasi, di situlah letak istimewanya sekolah ini dan berbeda dengan sekolah lain. Dan karena perbedaan ini juga, saya menyekolahkan anak saya dua orang di sekolah ini," ujar orangtua siswa itu bernada kesal.

Dia dan orang tua murid lainnya tetap menginginkan kalau program akselerasi tersebut tetap dipertahankan di sekolah itu. "Masa murid yang unggul secara akademis digabungkan dengan murid yang hanya rata–rata kemampuannya. Kita kuatir akan berdampak secara psikologis ke depannya untuk pembentukan karakter murid yang unggul dengan yang biasa karena harus diseragamkan dalam belajarnya," kesalnya.

Orang tua siswa tersebut juga menambahkan bahwa orangtua murid juga sudah ada yang berkomunikasi dengan Kepala Sekolah, namun Kepsek tetap bertahan dengan pendiriannya menghapus program akselerasi tersebut.

Terpisah Plt Kepala Sekolah SD Percobaan Ermansyah Lubis membantah jika program akselerasi yang sudah berjalan selama ini di sekolah tersebut tidak dihapus. "Oh sebenarnya saya tidak menghapus (program akselerasi). Tapi menunggu regulasi terbaru. Karena dalam peraturan yang lama itu, belum ada dari Permendikbud No.12 tahun 2024 ada nomenklatur menyatakan itu. Jadi yang sudah ada ini saya tidak menghapusnya," jelas Ermansyah Lubis melalui sambungan telepon seluler.

Tapi, lanjutnya, untuk melaksanakan program akselerasi itu saya belum ada regulasi makanya belum bisa melaksanakannya. Setahu saya, belum ada aturannya. Bahkan di Permendikbud No.12, anak yang seperti itu diakomodir secara personal, tidak dalam kelas. Karena kurikulum hari ini mengakomodir itu. Bukan menghapus.

Menanggapi jika program akselerasi sebelumnya sudah dilaksanakan oleh kepala sekolah sebelumnya, dan tidak ada masalah, namun di masa Ermansyah ditiadakan atau dihapus, Ermansyah bersikukuh membantah.

"Bukan dihapus, cuma saya belum tahu. Saya melihat sisi lain dampak dari akselerasi ini munculnya eksklusifitas pada anak–anak. Kemudian di tingkat internal kita agak sulit mengembangkannya. Karena tidak inklusif. Proses anak yang akselerasi bisa diakomodir, tetapi prosesnya individu tidak dalam bentuk kelas," jelasnya.

(MC/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi