UIN Syahada P. Sidimpuan Gelar Seminar Ilmiah Moderasi Beragama (HIH)
Analisadaily.com, Padangsidimpuan - Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Ali Hasan Ahmad Addary (Syahada) Padangsidimpuan menggelar Seminar Ilmiah Moderasi Beragama di Aula Perpustakaan kampus setempat, Kamis (9/7).
Seminar yang mengusung tema “Moderasi Beragama dan Penguatan Wawasan Kebangsaan dalam Membangun Generasi Akademik yang Moderat, Inklusif, dan Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas 2045” tersebut menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Prof. Ahmad Zainul Hamdi dan Prof. Muhammad Ali Ramdani.
Dalam sambutannya, Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan, Prof. Sumper Mulia Harahap, mengatakan bahwa tidak mudah menghadirkan kedua pembicara tersebut karena padatnya agenda yang mereka miliki.
Ia menjelaskan bahwa transformasi yang dilakukan UIN Syahada dalam meyakinkan masyarakat dan para pemangku kepentingan dilakukan melalui perpaduan antara kecerdasan dan moralitas.
Menurutnya, UIN Syahada saat ini telah memiliki sarana dan prasarana yang mampu menampung sekitar 2.000 hingga 2.500 mahasiswa sehingga siap untuk terus mempertahankan dan mengembangkan berbagai program unggulan.
“Ma’had Al-Jami’ah merupakan salah satu jawaban dalam menyikapi berbagai tantangan yang akan dihadapi mahasiswa di masa mendatang,” ujarnya.
Untuk memperkuat status sebagai universitas, lanjutnya, UIN Syahada terus mengembangkan berbagai program studi umum, termasuk bidang sains, teknologi, dan disiplin ilmu lainnya.
Pada kesempatan itu, Prof. Sumper juga memaparkan secara singkat perjalanan sejarah lembaga tersebut yang berawal dari IAIN Cabang Imam Bonjol pada tahun 1968, kemudian bertransformasi menjadi STAIN Padangsidimpuan, IAIN Padangsidimpuan, hingga akhirnya menjadi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan.
Dalam pemaparan materinya, Prof. Ahmad Zainul Hamdi menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya religius dan majemuk, meskipun bukan negara agama.
“Masyarakat Indonesia sangat lekat dengan kehidupan beragama dan kemerdekaan beragama dijamin oleh konstitusi. Menjaga keseimbangan antara hak beragama dan komitmen kebangsaan menjadi tantangan bagi setiap warga negara,” paparnya.
Ia menjelaskan bahwa moderasi beragama bukan berarti mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan mengedepankan sikap adil, seimbang, serta menghormati perbedaan yang ada di tengah masyarakat.
Menurutnya, sikap moderat menjadi modal penting dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman suku, budaya, agama, dan tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia.
Prof. Ahmad Zainul Hamdi juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebangsaan kepada mahasiswa.
Generasi muda, katanya, harus mampu menjadi agen perdamaian yang dapat membangun dialog, kerja sama, dan semangat persatuan di tengah berbagai perbedaan yang ada.
Sementara itu, Prof. Muhammad Ali Ramdani mengatakan bahwa terdapat tiga kunci utama dalam moderasi beragama, yaitu mewujudkan kemaslahatan, mengedepankan kecerdasan, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, kerukunan dan toleransi merupakan fondasi penting untuk mempertahankan keutuhan bangsa dan negara.
Ia menambahkan bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini menuntut masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan isu-isu keagamaan.
Sikap kritis dan kemampuan literasi digital menjadi sangat penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham ekstrem ataupun informasi yang menyesatkan.
Selain itu, Prof. Ramdani mengajak kalangan akademisi untuk terus mengembangkan budaya dialog, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada penguatan nilai-nilai kebangsaan.
Menurutnya, kampus memiliki peran strategis dalam melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter moderat, inklusif, dan berwawasan kebangsaan.
Seminar ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan civitas akademika UIN Syahada P.Sidimpuan.
(HIH/BR)