Bekali Modal dan Skill, Begini Cara Lapas Salemba Siapkan Warga Binaan Kembali ke Masyarakat

Bekali Modal dan Skill, Begini Cara Lapas Salemba Siapkan Warga Binaan Kembali ke Masyarakat
Kepala Lapas Kelas IIA Salemba, Amico Balalembang (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Jakarta - Suara mesin jahit terdengar berderet disebuah ruangan di dalam Lapas Kelas IIA Salemba, Jakarta. Tangan-tangan para warga binaan tampak sibuk merapikan pola kain, mengukur jahitan, lalu menyelesaikan pakaian anak-anak itu dengan penuh ketelitian.

Di sudut lain, aroma roti dari ruang bakery bercampur dengan kesibukan warga binaan yang sedang menyiapkan adonan. Sementara di area berbeda, kandang ayam dan tanaman hortikultura yang berjejer memanjang di samping tembok menjadi ruang belajar berbuddaya dan beternak yang ditopang sikap disiplin, tanggung jawab, dan harapan baru menuju pulang.

Pemandangan itu menghadirkan wajah lain lembaga pemasyarakatan. Di balik tembok tinggi, Lapas Salemba tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang pembinaan untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat dengan keterampilan dan kepercayaan diri baru.

Kepala Lapas Kelas IIA Salemba, Amico Balalembang, mengatakan bahwa pemasyarakatan sejatinya berbicara tentang kemanusiaan. Karena itu, pembinaan menjadi inti dari seluruh program yang dijalankan di dalam Lapas.

“Tujuan akhirnya adalah bagaimana warga binaan memiliki bekal keterampilan, kepercayaan diri, dan kesiapan untuk kembali hidup mandiri di tengah masyarakat,” ujar Amico dalam program Bincang Tipis-Tipis yang dipandu host Erman Tale Daulay di kanal Tale Trias Info, Kamis (6/5/2026).

Semangat tersebut terlihat dari berbagai program pembinaan kemandirian yang terus dikembangkan di Lapas Salemba. Mulai dari konveksi, bakery, seni lukis, pertanian hortikultura dan hidroponik, hingga peternakan ayam.

Seluruh kegiatan dirancang bukan sekadar mengisi waktu selama menjalani masa hukuman, melainkan menjadi ruang belajar untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Di ruang konveksi, misalnya, warga binaan tak sekadar belajar menjahit pakaian. Mereka sedang menjahit kembali rasa percaya diri dan harapan hidup. Untuk memperkuat kompetensi, pihak lapas menggandeng Balai Latihan Kerja (BLK) di bawah Kementerian Ketenagakerjaan agar keterampilan yang diperoleh benar-benar siap digunakan saat bebas nanti.

Dengan keterampilan tersebut, warga binaan diharapkan memiliki peluang bekerja di industri pakaian ataupun membuka usaha jahit secara mandiri.

Suasana serupa terlihat di area peternakan ayam dan pertanian hortikultura. Di sana, warga binaan belajar tentang ritme kerja, kedisiplinan, hingga cara mengelola usaha sederhana. Mereka memahami bahwa memelihara ayam atau menanam sayuran bukan hanya soal produksi, tetapi juga tentang merawat optimisme untuk memulai hidup baru.

Menariknya, pembinaan dilakukan dengan pendekatan personal. Pihak Lapas terlebih dahulu memetakan bakat, minat, dan passion warga binaan sebelum menentukan bidang keterampilan yang akan ditekuni.

“Kalau memang bakatnya di konveksi, kita arahkan ke sana. Kalau potensinya di peternakan atau melukis, kita fasilitasi sesuai kemampuannya. Jadi potensi mereka benar-benar digali,” jelas Amico.

Menurutnya, pola pembinaan tersebut sejalan dengan semangat pembangunan sumber daya manusia dan penguatan kemandirian pangan yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden.

Program pembinaan di Lapas Salemba juga merupakan implementasi arahan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan dan Dirjen Pemasyarakatan agar lembaga pemasyarakatan mampu melahirkan warga binaan yang produktif dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.

Selain memperoleh pengalaman kerja dan keterampilan, warga binaan juga mendapatkan premi atau upah dari hasil pekerjaan mereka. Bekal itu diharapkan menjadi modal awal saat kembali menjalani kehidupan di tengah.

Tidak hanya pembinaan kemandirian, Lapas Salemba juga memperkuat pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan lintas iman. Mulai dari salat berjamaah lima waktu di masjid, yasinan di blok hunian, pelayanan gereja, hingga pembinaan di vihara. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting untuk membangun ketenangan batin dan perubahan perilaku warga binaan.

Seluruh program dijalankan secara kolaboratif bersama berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Lapas Salemba menggandeng BLK, Kementerian Ketenagakerjaan, Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Kementerian Agama, hingga yayasan keagamaan untuk memperkuat proses pembinaan.

Di balik dinding tebal Lapas Salemba, harapan ternyata tetap tumbuh. Ada yang sedang belajar menjahit masa depan, ada yang menanam optimisme lewat pertanian, dan ada pula yang memulai kembali kepercayaan dirinya dari kandang-kandang ayam sederhana.

Sebab pemasyarakatan bukan sekadar tentang menjalani hukuman, melainkan tentang memberi kesempatan berikutnya bagi manusia untuk kembali menata kehidupan.

(KAH/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi