Jully Yandi Saputra: Pemuda di Balik Daster yang Menginspirasi Generasi Kreatif Aceh

Jully Yandi Saputra: Pemuda di Balik Daster yang Menginspirasi Generasi Kreatif Aceh
Jully Yandi Saputra: Pemuda di Balik Daster yang Menginspirasi Generasi Kreatif Aceh (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Medan - Di balik layar ponsel dengan ratusan ribu pengikut, sosok 'Mak-Mak Aceh' yang cerewet, lucu, dan sarat kearifan lokal selalu berhasil mengundang tawa.

Namun, siapa sangka, di balik daster dan gaya ikonik tersebut, tersembunyi seorang pemuda tampan nan maskulin bernama Jully Yandi Saputra.

Pemuda kelahiran 3 Juli 1996 asal Desa Leupung, Aceh Besar ini, kini telah bertransformasi menjadi salah satu selebgram paling berpengaruh di Banda Aceh.

Perjalanannya dimulai pada tahun 2021, saat pandemi Covid-19 melanda. Di tengah pembatasan aktivitas, Jully mulai bereksperimen dengan konten parodi.

"Semasa Covid pada tahun 2021, saya memulai ide saya ini menjadi konten kreator. Karena pada saat itu aktivitas saya sangat terbatas, makanya saya mencoba untuk memulai membuat konten parodi di handphone," ujar Jully, Jumat (15/5).

Kemampuannya menirukan berbagai bahasa daerah dan memparodikan karakter ibu-ibu khas Aceh dengan sangat akurat membuat namanya cepat meroket. Hingga saat ini, Jully berhasil mengumpulkan 150 ribu pengikut di Instagram @jullyyandi dan 165 ribu pengikut di TikTok @Jullyyandi.

Salah satu daya tarik utama publik adalah perbedaan drastis antara persona konten dengan kehidupan aslinya.

Jika dalam video ia tampil lincah sebagai ibu-ibu, dalam keseharian Jully dikenal sebagai pria tampan dengan gaya hidup 'macho'. Kontras inilah yang menjadi ciri khas dan membedakannya dari selebgram Aceh lainnya.

Jully tidak hanya puas dengan popularitas. Ia memanfaatkan momentum tersebut untuk membangun kerajaan bisnis dari titik nol. Kini, ia sukses mengelola beberapa lini usaha yang viral di Aceh, mulai dari kuliner hingga parfum.

"Saya membuka Peyek Guzel pada tahun 2020, yaitu camilan UMKM yang sempat viral dan menjadi buruan masyarakat di Aceh. Saya juga meluncurkan brand lip serum bernama Julsecret pada tahun 2025 yang menyasar pasar perawatan wajah, serta memiliki brand parfum sendiri dengan label Jyyso," jelasnya.

Perjalanan Jully dari sebuah desa di Aceh Besar hingga menjadi ikon kreatif di Banda Aceh membuktikan bahwa kreativitas tidak mengenal batasan geografis.

Dengan multi-talenta, ia tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal melalui sektor UMKM.

Kini, sosoknya menjadi inspirasi bagi banyak pemuda di Aceh bahwa menjadi konten kreator bukan sekadar mencari popularitas, melainkan jembatan untuk membangun kemandirian ekonomi dan brand yang kuat.

(JW/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi