Kunjungan perwakilan lembaga Islam ke Dubes RI di China (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Beijing - Delegasi lembaga-lembaga Islam wilayah kerja Konsulat Jenderal China di Medan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing dan bertemu dengan Duta Besar RI untuk China Djauhari Oratmangun pada Sabtu (16/5/2026).
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan lembaga-lembaga Islam mendapat penjelasan mengenai perkembangan kerja sama Indonesia dan China di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, hingga hubungan antarmasyarakat.
Djauhari mengatakan China saat ini merupakan mitra dagang terbesar Indonesia di dunia dengan nilai perdagangan bilateral yang terus meningkat setiap tahun.
“Nilai perdagangan Indonesia dan China sudah mencapai sekitar US$ 167,8 miliar, jauh lebih besar dibandingkan perdagangan Indonesia dengan Eropa maupun Amerika Serikat,” ujarnya.
Di bidang investasi, Djauhari menyebut China dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu sumber investasi terbesar bagi Indonesia. Menurutnya, selama masa tugasnya di Beijing, nilai investasi dari China daratan dan Hong Kong telah mencapai puluhan miliar dolar AS dan berkontribusi besar terhadap pembangunan infrastruktur, industri, serta pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Djauhari menilai hubungan Indonesia dan China yang terus berkembang tidak terlepas dari hubungan baik antara para pemimpin kedua negara.
“Sejak masa Presiden Joko Widodo hingga Presiden Prabowo Subianto saat ini, hubungan para pemimpin kedua negara tetap terjalin dengan baik. Itu sangat penting bagi perkembangan kerja sama bilateral,” katanya.
Ia juga menyinggung kerja sama kedua negara selama pandemi COVID-19. Menurut Djauhari, dukungan vaksin dan bantuan penanganan pandemi dari China memberikan kontribusi penting bagi Indonesia pada masa krisis kesehatan tersebut.
“Pada masa pandemi yang paling sulit, China memberikan banyak dukungan vaksin dan kerja sama kesehatan yang sangat membantu Indonesia,” ujarnya.
Djauhari menekankan hubungan antarmasyarakat menjadi fondasi utama hubungan jangka panjang Indonesia dan China. Ia mengatakan hubungan budaya dan interaksi masyarakat kedua negara sebenarnya telah berlangsung sejak lama, bahkan sebelum era pelayaran Laksamana Cheng Ho.
“Yang membuat hubungan kedua negara benar-benar kuat adalah hubungan antarmasyarakat,” katanya.
Ia juga menyebut jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di China saat ini mendekati 20 ribu orang. Semakin banyak generasi muda Indonesia, termasuk dari latar belakang sekolah Islam dan pendidikan keagamaan, memilih melanjutkan studi di China.
“Sekarang banyak mahasiswa Indonesia sudah mampu berbahasa Mandarin dengan lancar. Ini perkembangan yang sangat positif bagi hubungan kedua negara ke depan,” ujarnya.
Djauhari berharap ke depan mahasiswa, organisasi masyarakat, dan lembaga daerah dari Sumatera Utara maupun wilayah lain di Indonesia dapat semakin memperkuat kerja sama pendidikan, budaya, dan pertukaran daerah dengan China.
Sementara itu, Ketua Delegasi Islam wilayah kerja KJRI Medan sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Utara Maratua Simanjuntak bin Maddin mengatakan kunjungan ke Kedutaan Besar RI di Beijing membuat rombongan merasa seperti “pulang ke rumah sendiri”.
Maratua mengaku meski sebelumnya telah beberapa kali berkunjung ke China, ini merupakan kali pertama dirinya mengunjungi Museum Partai Komunis China sehingga memberinya pemahaman baru mengenai perjalanan perkembangan modern China.
Menurutnya, kunjungan tersebut juga membuat delegasi semakin memahami pencapaian China di bidang pembangunan nasional, tata kelola sosial, dan perkembangan ekonomi, sekaligus melihat semakin eratnya kerja sama Indonesia dan China dalam beberapa tahun terakhir.
Ia menilai kunjungan yang difasilitasi KJRI China di Medan tersebut dapat membantu memperkuat saling pengertian dan persahabatan antarmasyarakat kedua negara.
“Kami berharap hubungan Indonesia dan China terus berkembang dengan baik dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” katanya.
(NS/NS)