Sering Tanpa Gejala, Kanker Ovarium Kerap Terlambat Terdeteksi

Sering Tanpa Gejala, Kanker Ovarium Kerap Terlambat Terdeteksi
Dokter Dwi Paradina saat memberikan penjelasan kepada wartawan pada acara media gathering, Selasa (26/5/2026). (Analisadaily/mulyadi hutahaean)

Analisadaily.com, Medan - Kanker ovarium masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia. Diperkirakan lebih dari 15.000 kasus kanker ovarium terjadi setiap tahun dan penyakit ini menempati peringkat ke-10 kanker terbanyak di dunia, termasuk di Indonesia.

Kanker ovarium sering datang tanpa gejala spesifik pada stadium awal. Akibatnya, banyak penderita terlambat menyadari kondisi yang dialami sehingga sebagian besar pasien datang berobat ketika kanker sudah memasuki stadium lanjut.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap penanganan kanker ovarium, Columbia Asia Hospital menggelar media gathering bertajuk “Kanker Ovarium”, Selasa (26/5/2026). Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya perempuan, mengenai pentingnya deteksi dini dan penanganan medis yang terintegrasi.

Edukasi mengenai kanker ovarium dinilai sangat penting karena gejala awal penyakit ini kerap dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa atau keluhan menstruasi ringan.

Dalam kegiatan tersebut, dr. Dwi Faradina M.Ked(OG), Sp.OG, Subsp. Onk, menegaskan bahwa keterlambatan diagnosis masih menjadi tantangan terbesar dalam penanganan kanker ovarium.

“Sebagian besar pasien datang dengan kondisi yang sudah cukup lanjut karena gejala awal sering kali diabaikan. Padahal, jika terdeteksi lebih dini melalui skrining rutin, peluang keberhasilan penanganan bisa jauh lebih optimal,” ujar dr. Dwi.

Dia menjelaskan, pasien yang sudah memasuki stadium lanjut membutuhkan penanganan multimodalitas, mulai dari operasi pengangkatan massa kanker, kemoterapi untuk membasmi sel kanker yang tersisa, hingga radioterapi bila diperlukan.

Menurutnya, karena gejala kanker ovarium tidak spesifik, diperlukan kampanye “10 Jari” sebagai upaya edukasi kepada masyarakat.
Empat gejala yang perlu diwaspadai yakni perut kembung, cepat kenyang, nyeri perut, dan sering buang air kecil. Jika mengalami gejala tersebut secara berulang, masyarakat diimbau segera memeriksakan diri dan berkonsultasi dengan dokter.

Selain itu, terdapat enam faktor risiko kanker ovarium, yakni riwayat kista, kanker payudara, gaya hidup tidak sehat, usia lanjut, memiliki sedikit anak atau tidak memiliki anak, serta faktor genetik.

Kanker ovarium juga lebih sering ditemukan pada perempuan usia 40 tahun ke atas. Karena banyak terdeteksi pada stadium lanjut, tidak sedikit pasien yang datang berobat ketika kanker sudah mengalami metastasis atau menyebar ke organ lain.

Direktur Columbia Asia Hospital Medan, Dr. dr. Beni Satria M.Kes, S.H., M.H., FISQua, mengatakan aspek kemanusiaan menjadi prioritas utama dalam layanan penanganan kanker di rumah sakit tersebut.

“Kami memahami bahwa perjalanan melawan kanker bukan hal yang mudah. Karena itu, kami berkomitmen menghadirkan layanan yang humanis, tidak hanya memberikan perawatan medis terbaik dengan teknologi terkini, tetapi juga dukungan moral dan emosional selama proses penyembuhan,” kata Beni.

Sebagai bentuk dukungan terhadap perjuangan pasien kanker, Columbia Asia Hospital Medan juga menghadirkan layanan kemoterapi yang memungkinkan pasien memperoleh penanganan lebih komprehensif dan terpantau secara berkelanjutan oleh tim onkologi berpengalaman.
Selain layanan pengobatan, rumah sakit tersebut juga menyediakan skrining kanker ovarium sebagai upaya pencegahan dan deteksi dini.

“Melakukan skrining rutin adalah bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan keluarga. Kami mengajak seluruh perempuan agar lebih peka terhadap sinyal tubuh dan tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Kami juga ingin memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati fasilitas unggulan ini dengan akses layanan kesehatan yang lebih mudah,” ujarnya. (MUL)

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi