Talk Show Horja Bius di Sianjur Mula-Mula, Kupas Filosofi dan Tata Cara Pemakaian Ulos

Talk Show Horja Bius di Sianjur Mula-Mula, Kupas Filosofi dan Tata Cara Pemakaian Ulos
Talk Show ulos meriahkan Horja Bius di Sianjur Mula-Mula (Analisadaily/Tetty Naibaho)

Analisadaily.com, Samosir - Rangkaian kegiatan budaya Horja Bius “Pasahat Horbo Lae-Lae Tu Dolok Pusuk Buhit” di Kecamatan Sianjur Mula-Mula tidak hanya diisi dengan ritual adat dan persembahan budaya, tetapi juga menghadirkan talk show edukatif tentang ulos yang menarik perhatian masyarakat, tokoh adat, dan para pengunjung.

Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai narasumber Sepwan Sinaga, kolektor ulos sekaligus guru di SMA Negeri 1 Pangururan.

Melalui pemaparannya, Sepwan mengajak generasi muda Batak untuk lebih mengenal ulos sebagai warisan budaya yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat makna filosofis dan aturan adat yang diwariskan turun-temurun.

Menurut Sepwan, ulos merupakan kain tenun tradisional Batak yang memiliki ciri dan struktur tertentu. Tidak semua kain tenun dapat disebut ulos.

Sebuah kain disebut ulos apabila ditenun dengan memenuhi unsur-unsur khas seperti sisip, gatip, rambu, serta memiliki komposisi warna dan motif tertentu.

"Penamaan ulos didasarkan pada motif yang dimilikinya. Setiap jenis ulos mempunyai fungsi, makna, dan penggunaannya masing-masing dalam kehidupan adat masyarakat Batak," jelas Sepwan dalam pemaparannya, Jumat (29/5/2026).

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Batak, pemakaian ulos tidak dilakukan secara sembarangan. Terdapat aturan adat yang mengatur siapa yang berhak mengenakan jenis ulos tertentu.

Salah satu contohnya adalah Ulos Jugia Sopi-pot, yang hanya dapat dikenakan oleh seorang laki-laki yang telah memiliki cucu dari anak perempuan serta tidak mengalami peristiwa anak meninggal dunia lebih dahulu.

Ketentuan tersebut menunjukkan bahwa ulos tidak sekadar pakaian adat, melainkan simbol perjalanan hidup, kehormatan, dan status sosial dalam masyarakat Batak.

Dalam kesempatan itu, Sepwan juga menguraikan tentang konsep hoba-hoba, yakni tata cara berpakaian adat Batak secara lengkap.

Hoba-hoba terdiri dari beberapa bagian, antara lain tali-tali yang dikenakan laki-laki sebagai penutup kepala, ampe-ampe, dan hohop atau haen.

Ia menegaskan bahwa penggunaan tali-tali memiliki aturan khusus, yakni tidak boleh menutupi telinga dan harus menutup seluruh bagian kepala sesuai ketentuan adat yang berlaku.

"Setiap bagian dalam hoba-hoba memiliki makna dan tata cara pemakaian yang harus dipahami agar tidak menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya," ujarnya.

Sepwan juga menjelaskan bahwa anak-anak yang belum memasuki masa akil balig atau belum mencapai tahap habonaran tidak diwajibkan mengenakan hoba-hoba secara lengkap.

Peserta yang mengikuti talk show tampak antusias. Berbagai pertanyaan diajukan terkait sejarah ulos, makna motif, aturan penggunaan, hingga tantangan pelestarian budaya Batak di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Kegiatan ini menjadi ruang edukasi yang penting dalam upaya memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya Batak kepada generasi muda.

Di tengah arus globalisasi, pemahaman terhadap ulos dan adat istiadat Batak dinilai menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga identitas budaya agar tetap lestari.

Pelaksanaan talk show ulos tersebut menjadi salah satu agenda yang memperkaya rangkaian Horja Bius di kawasan sakral Pusuk Buhit.

Selain sebagai sarana pelestarian tradisi leluhur, kegiatan ini juga menjadi wadah transfer pengetahuan budaya dari generasi tua kepada generasi muda agar warisan Batak tetap hidup dan berkembang di masa mendatang. (TN)

(WITA)

Baca Juga

Rekomendasi