conical (unsplash.com) sumber poto (Internet)
Oleh: Sultan Ahmad Jordan
Analisadaily.com, Medan - Sejak kapan pernikahan dinilai dari konten di media sosial? Namun itulah yang kini terjadi, standar pernikahan perlahan tidak lagi ditentukan oleh kesiapan dan kemampuan, melainkan oleh apa yang viral di beranda. Dekorasi bunga impor, gaun pengantin rancangan desainer, ratusan tamu berdandan anggun, hingga dokumentasi sinematik berkualitas film layar lebar. Semuanya tersaji sempurna, seolah pernikahan adalah panggung pertunjukan yang wajib memukau siapa pun yang menontonnya.
Media sosial telah mengubah pernikahan dari sebuah ikatan sakral menjadi ajang ekshibisi sosial. Standar yang dahulu ditentukan oleh kemampuan dan nilai keluarga, kini perlahan digeser oleh apa yang trending di berbagai platform digital. Akibatnya, banyak pasangan yang merasa pernikahan mereka harus “setara” dengan apa yang mereka lihat di layar ponsel, meski kenyataan finansial mereka jauh dari cukup.
Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Statistik Indonesia 2024 mencatat penurunan signifikan angka pernikahan di Indonesia — dari 2,21 juta pada 2013 menjadi hanya 1,58 juta pada 2023, menjadi rekor terendah dalam satu dekade terakhir. Penurunan ini bahkan berlangsung konsisten lima tahun berturut-turut sejak 2019. Angka ini berbicara nyaring: pernikahan bukan tidak diinginkan, melainkan terasa semakin tidak terjangkau karena standar yang terus meninggi.
Persoalannya bukan sekadar algoritma media sosial yang memang dirancang menampilkan yang paling memukau. Yang lebih dalam adalah dorongan validasi, yaitu keinginan untuk menunjukkan bahwa diri sendiri mampu dan layak diakui. Manusia pada dasarnya mudah tertarik mengikuti yang indah, meski kondisi finansialnya belum tentu mendukung. Situasi ini diperparah oleh tekanan keluarga yang membawa tradisi dan budaya turun-temurun, seolah pernikahan mewah adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, terlepas dari kondisi nyata yang dihadapi pasangan.
Tekanan sosial yang lahir dari standar ini nyata dan berbahaya. Pasangan yang sesungguhnya telah siap secara emosional dan relasional bisa mundur hanya karena merasa belum mampu menggelar pesta yang “layak dibagikan”. Yang lebih ironis, sebagian justru memaksakan diri memenuhi standar itu dengan cara yang tidak sehat, seperti berutang, mengorbankan tabungan masa depan, bahkan meminjam dari platform pinjaman online. Fenomena meminjam uang demi melangsungkan pernikahan bukan hal asing di masyarakat kita, sesuatu yang tidak pernah terlihat dari konten pernikahan mewah yang viral. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal yang kokoh, malah dimulai dari lubang finansial.
Ironisnya, kita tidak pernah tahu apakah kemewahan yang ditampilkan itu benar-benar keinginan si pengantin, atau sekadar tuntutan keluarga yang tidak bisa ditolak. Standar keluarga dan standar media sosial inilah yang menciptakan kekeliruan, sebuah tekanan berlapis yang membuat pernikahan terasa seperti beban, bukan pilihan. Media sosial membunuh ketika kita membiarkan diri terpaku sepenuhnya pada apa yang ditampilkan di sana. Pernikahan sederhana bukan berarti salah, dan pernikahan mewah yang viral bukan berarti lebih benar.
Pernikahan pada dasarnya adalah ikatan antara dua keluarga yang melahirkan kehangatan dan keharmonisan antara pria dan wanita yang memilih bersama. Fondasi itu bukan dekorasi, bukan kemewahan, melainkan cinta dan kenyamanan. Memang, finansial yang memadai penting untuk menjaga keutuhan rumah tangga, tetapi menggelontorkan uang besar demi satu malam pesta mewah bukan jaminan keberlangsungan pernikahan. Justru pasangan yang bijak adalah mereka yang menempatkan finansialnya untuk masa depan bersama, bukan untuk validasi semalam di media sosial.
Pernikahan adalah tentang dua orang yang memilih untuk membangun hidup bersama — bukan tentang dua orang yang membangun konten bersama. Ketika masyarakat mampu melepaskan diri dari jebakan standar media sosial dan kembali pada esensi pernikahan yang sesungguhnya, maka pernikahan bukan lagi sesuatu yang menakutkan atau memberatkan. Pernikahan menjadi pilihan yang diambil dengan sadar, bukan karena tekanan sosial, melainkan karena kesiapan yang nyata. Sebab pada akhirnya, pernikahan adalah simbol membangun — bukan menghancurkan.
Sumber Data: Badan Pusat Statistik (BPS), Statistik Indonesia 2024, dirilis 28 Februari 2024.
(RZD)