Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan, Porman Wilson Manalu. (Analisadaily/Irin Juwita)
Analisadaily.com, Medan - Museum tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat menyimpan benda-benda bersejarah, artefak, dan arsip masa lalu. Melalui Festival Sastra Museum, museum dihadirkan sebagai ruang kreatif yang mampu menghubungkan sejarah dengan imajinasi masa depan, khususnya bagi generasi muda.
Penerima Manfaat Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan melalui Program Layanan Produksi Bidang Kebudayaan untuk Pendayagunaan Ruang Publik 2025, Porman Wilson Manalu, menyampaikan festival Sastra Museum ini akan dilaksanakan 30 sampai 31 Juli mendatang di Museum Negeri Sumatera Utara.
Acara ini ditujukan sebagai upaya menghidupkan sastra untuk semua kalangan khususnya generasi muda. Mengusung gagasan "Menjadikan Masa Lalu Sebagai Proyektor Membentuk Kerangka Impian Masa Depan", festival ini berupaya mengubah cara pandang masyarakat terhadap museum.
"Selama ini museum masih identik dengan ruang yang menyimpan peninggalan masa lampau sehingga kurang menarik bagi generasi Z untuk beraktivitas di dalamnya," kata Porman saat konferensi pers di Ruang Kreatif 001 Teater Rumah Mata, Rabu (8/7/2026).
Padahal, lanjutnya, Museum Negeri Sumatera Utara memiliki beragam ruang pamer yang merekam perjalanan sejarah, mulai dari Ruang Masa Prasejarah, Kebudayaan Sumatera Kuno, Masa Kerajaan Hindu-Buddha, hingga Masa Perjuangan Melawan Kolonial. Ruang-ruang tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dipadukan dengan aktivitas seni dan sastra sehingga menjadi lebih hidup dan menarik.
Meski telah mengalami berbagai renovasi dan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia, minat generasi muda untuk datang ke museum masih relatif rendah. Kehadiran pelajar dan mahasiswa umumnya masih didorong oleh tugas akademik, bukan karena museum telah menjadi ruang berkreativitas, berekspresi, maupun tempat berkumpul yang menyenangkan.
"Melalui Festival Sastra Museum, sastra dipadukan dengan museum sebagai ruang baru bagi generasi Z untuk berkarya. Festival ini mengajak anak muda melihat museum bukan sekadar tempat menyimpan sejarah, melainkan ruang masa depan yang edukatif, inspiratif, menjadi destinasi wisata, tempat berkumpul, sekaligus pusat kreativitas," ujarnya.
Program ini juga berupaya menjawab sejumlah pertanyaan penting, di antaranya sejauh mana sastra museum mampu memperkuat fungsi museum sebagai gerakan sastra di Sumatera Utara, siapa saja pihak yang dapat mendukung generasi Z sebagai penggerak utama, serta bagaimana konsep sastra museum mampu menarik minat anak muda secara berkelanjutan.
"Festival Sastra Museum menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan, antara lain sosialisasi dan mobilisasi pelajar serta mahasiswa, diskusi Sastra Museum, workshop tata kelola Sastra Museum, workshop penulisan karya sastra, Pojok Bincang Sastra Museum, lomba kreativitas, pertunjukan sastra, pameran karya, peluncuran buku Sastra Museum, hingga penayangan karya audio visual," ujarnya.
Adapun kegiatan festival akan diawali pada 28 Juli 2026 dengan Pelatihan Penulisan Karya Sastra yang berlangsung di Museum Negeri Sumatera Utara. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Aisah Bashar.
Selanjutnya, pada 29 Juli 2026, digelar Workshop Tata Kelola Sastra Museum di Ruang Kreatif 001 Taman Budaya dengan menghadirkan narasumber S. Metron Masdison.
Memasuki 30 Juli 2026, festival akan diramaikan dengan Lomba Baca Puisi yang dinilai oleh Teja Purnama Lubis, Muhammad Anggie J. Daulay, dan Soekisno, serta Lomba Akting dengan dewan juri Agus Susilo, Mukhlis Ariyoga, dan Sri Wahyuningsih.
Pada hari yang sama juga akan digelar Pojok Bincang Sastra Museum yang menghadirkan Dr. Rosliani, peneliti bahasa dan sastra, Dina Mariana, penyair dan guru, serta Renny Yulia, cerpenis Sumatera Utara.
Rangkaian Festival Sastra Museum akan ditutup pada 31 Juli 2026 dengan Lomba Penulisan Karya Sastra yang dinilai oleh Juhendri Chaniago, S. Ratman Suras, dan M. Yunus Rangkuti, serta Lomba Musikalisasi Puisi dengan dewan juri Hendrik Perangin-angin, Ririn Prabuwati, dan M. Raudah Jambak.
Selain perlombaan, hari penutupan juga akan diisi dengan peluncuran buku sastra, penayangan audiovisual Sastra Museum, Diskusi Sastra Museum yang menghadirkan Pidia Amelia, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan, bersama narasumber dari Balai Bahasa Sumatera Utara, serta ditutup dengan pementasan sastra pertunjukan berbasis museum.
Melalui rangkaian Festival Sastra Museum ini diharapkan lahir karya-karya sastra baru, tumbuh minat generasi muda terhadap literasi, serta semakin memperkuat peran museum sebagai pusat edukasi, kebudayaan, dan kreativitas di Sumatera Utara.
Menurut Porman, sastra museum merupakan ekspresi sastra masa depan yang berpusar pada ruang masa lalu dengan melibatkan generasi Z secara aktif dalam pengembangan fungsi museum sebagai ruang edukasi, wisata, dan ekonomi kreatif berbasis sejarah serta arsip budaya.
Melalui pendekatan tersebut, museum diharapkan menjadi taman belajar sekaligus ruang bermain yang nyaman bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi diri, membangun kreativitas, dan berkolaborasi tanpa meninggalkan nilai-nilai sejarah.
Festival ini juga ingin mentransformasikan karya sastra yang selama ini dianggap eksklusif menjadi karya yang inklusif dan dekat dengan masyarakat. Sastra tidak lagi dipahami sebagai teks yang rumit, melainkan produk budaya yang mampu menggerakkan daya cipta generasi muda ketika bersentuhan dengan koleksi sejarah yang tersimpan di museum.
"Ke depan, Festival Sastra Museum diharapkan menjadi agenda tahunan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Selain itu, program ini juga akan melahirkan Sanggar Museum, sebuah ruang kreatif berbasis museum yang menjadi wadah pengembangan sastra, seni, dan ekonomi kreatif bagi generasi Z secara berkelanjutan," tutupnya.
(WITA)