Analisadaily.com, Pematangsiantar - Semakin kuatnya pengaruh teknologi dalam kehidupan keluarga, Pemerintah Kota Pematangsiantar memilih kembali menengok akar budaya sebagai sumber penguatan pengasuhan anak. Melalui momentum Puncak Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026, Senin (27/7/2026), tradisi Simalungun “Doding Urdo-urdo” diangkat sebagai simbol kasih sayang, kedekatan emosional, sekaligus media stimulasi tumbuh kembang anak usia dini.
Peringatan HAN tingkat Kota Pematangsiantar, merupakan buah kolaborasi bersama Tanoto Founfation yang digelar di Lapangan Adam Malik ini membawa pesan penting bahwa pembangunan masa depan anak tidak hanya dimulai dari pendidikan formal, tetapi juga dari rumah, melalui pengasuhan yang hangat dan berkualitas.
Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi, didampingi Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius, menegaskan bahwa penguatan pengasuhan berbasis budaya menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Mengusung tema “Menjalin Hubungan Emosional antara Anak dan Orangtua Melalui Urdo-urdo", Pemko Pematangsiantar mempertegas bahwa nilai-nilai budaya lokal memiliki peran besar dalam membangun karakter anak sejak usia dini.
“Doding Urdo-urdo merupakan kearifan lokal Pematangsiantar yang menjadi ciri khas etnis Simalungun. Tradisi ini dapat menjadi formula positif untuk memperkuat hubungan antara anak dan orang tua, terutama ibu, yang saat ini mulai menghadapi tantangan akibat berkurangnya interaksi langsung dalam keluarga,” ujar Wesly Silalahi.
Ia menyebutkan, ke depan pemerintah daerah bersama Tanoto Foundation akan mendorong penguatan program pengasuhan melalui pembangunan rumah SIGAP bagi ibu dan anak sebagai ruang edukasi serta pendampingan keluarga.
Bagi masyarakat Simalungun, Doding Urdo-urdo bukan sekadar lantunan lagu pengantar tidur. Tradisi ini merupakan ekspresi kasih sayang yang diwariskan turun-temurun, ketika seorang ibu atau pengasuh menimang anak sambil melantunkan syair penuh harapan dan doa.
Pengasuh yang melakukan aktivitas tersebut dikenal sebagai “Pangurdo”. Melalui ayunan, pelukan, sentuhan, kontak mata, dan suara lembut, Doding Urdo-urdo menghadirkan bentuk pengasuhan yang secara psikologis mendukung perkembangan anak.
Tradisi ini mengandung unsur stimulasi bahasa melalui nyanyian, stimulasi auditori melalui irama suara, stimulasi motorik melalui gerakan mengayun, sekaligus membantu anak membangun rasa aman dan keterikatan emosional dengan orang tua.
Dalam konteks pengasuhan modern, Doding Urdo-urdo menjadi contoh praktik mindful parenting berbasis kearifan lokal. Sebuah metode pengasuhan yang menempatkan kehadiran emosional orang tua sebagai fondasi utama perkembangan anak, tanpa bergantung pada teknologi atau gawai.
Tanoto Foundation Perkuat Pengasuhan Anak Usia Dini
Penguatan pengasuhan berbasis budaya tersebut juga menjadi bagian dari kolaborasi Pemerintah Kota Pematangsiantar bersama Tanoto Foundation yang telah berjalan sejak 2018 melalui program peningkatan kualitas pendidikan, pengasuhan, dan stimulasi anak usia dini.
Regional Lead Tanoto Foundation wilayah Sumatera Utara, Medi Yusva, mengatakan peringatan HAN ke-42 menjadi momentum untuk kembali memperkuat peran keluarga dalam memenuhi hak tumbuh kembang anak.
“Kolaborasi Tanoto Foundation dengan Pemerintah Kota Pematangsiantar sejak tahun 2018 melalui program peningkatan kualitas pendidikan serta pengasuhan dan stimulasi anak usia dini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi masa depan yang berkualitas,” ujar Medi.
Menurutnya, keluarga memiliki peran utama dalam fase usia emas anak, khususnya usia 0–3 tahun. Pada periode tersebut, stimulasi dini, pencegahan stunting, pemenuhan gizi, serta edukasi kepada orang tua menjadi faktor penting agar anak tumbuh sesuai tahapan perkembangannya dan siap memasuki pendidikan dasar.
Program tersebut, lanjut Medi, dibangun melalui kerja sama lintas sektor antara pemerintah, mitra lokal, serta berbagai institusi untuk memastikan anak mendapatkan pengasuhan yang tepat dan lingkungan tumbuh yang mendukung.
Pelaksanaan HAN ke-42 di Kota Pematangsiantar turut menghadirkan lomba Doding Urdo-urdo yang melibatkan 36 peserta dari kalangan ibu-ibu. Ratusan orang tua dan anak usia dini ikut meramaikan kegiatan yang bertujuan memperkenalkan kembali budaya lokal sebagai bagian dari kehidupan keluarga.
Budayawan sekaligus salah satu juri lomba, Hotman Damanik, mengatakan Doding Urdo-urdo merupakan bagian dari kekayaan seni suara masyarakat Simalungun yang memiliki nilai emosional mendalam.
Menurutnya, dalam budaya Simalungun terdapat berbagai bentuk seni bernyanyi yang menyampaikan perasaan, seperti tau-tau, tangis, mang-mang, hingga urdo-urdo. Namun, urdo-urdo memiliki karakter khusus karena menjadi bentuk komunikasi kasih antara orang tua dan anak.
“Urdo-urdo merupakan teknik menyanyi untuk menimang dan menidurkan anak. Yang kita harapkan dari tradisi ini adalah munculnya sensasi emosional antara orang tua dan anak,” kata Hotman.
Ia menambahkan, melalui syair-syair dalam urdo-urdo, orang tua menyampaikan harapan besar terhadap masa depan anak.
“Kita ingin generasi muda tidak kehilangan harapan dan identitas. Kita tetap menjadi bangsa yang kaya budaya, kaya keberagaman, di bawah satu panji Bhinneka Tunggal Ika,” ujarnya.
Selain Hotman Damanik, lomba Doding Urdo-urdo dinilai oleh sejumlah tokoh budaya dan akademisi, yakni Lina Damanik selaku maestro, Jayamin Sipayung, S.Pd., M.Si., serta Pdt. Mannes Purba, S.Th., MA., M.Th., LM.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Sekretaris PKK Rasta Elia Ginting, S.KM, Juli Aprianty Saragih, S.KM dari PKK, akademisi Prof. Dr. Hisarma Saragih, M.Hum, serta Rico Damanik selaku Ketua Tumpuan Damanik Boru Panogolan Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.
Melalui peringatan Hari Anak Nasional ke-42, Walikota Pematangsiantar mengajak seluruh keluarga dan masyarakat untuk menjadikan pengasuhan sebagai tanggung jawab bersama.
"Sebelum anak mengenal dunia yang luas, rumah adalah tempat pertama mereka belajar tentang kasih sayang, rasa aman, dan nilai kehidupan. Lewat Doding Urdo-urdo, warisan leluhur Simalungun kembali dihidupkan sebagai pesan bahwa membangun masa depan anak dapat dimulai dari sebuah lantunan sederhana, sebuah pelukan hangat, dan kehadiran orang tua sepenuh hati," pungkas walikota.











