Evaluasi Program MBG, DPRD SU: Serahkan Pengelolaan Dapur ke Rumah Makan Lokal (Analisadaily/istimewa)
Analisadaily.com, Medan - Anggota DPRD Sumut dari Fraksi Golkar, Viktor Silaen SE MM mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara menyeluruh.
Dia mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) untuk merevisi sistem penyediaan makanan dengan melibatkan rumah makan lokal sebagai mitra utama, menggantikan peran Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), guna meningkatkan kualitas layanan sekaligus meminimalkan potensi penyimpangan anggaran.
"Skema yang selama ini mengandalkan SPPG dinilai membebani satu dapur untuk melayani ribuan penerima manfaat. Kondisi itu dikhawatirkan berdampak pada kualitas makanan, mulai dari proses pengolahan yang kurang higienis, makanan yang kurang matang, hingga meningkatnya risiko keracunan massal," tandas Viktor Silaen kepada wartawan, Sabtu (1/8/2026) di Medan.
Selain persoalan kualitas, katanya, beban kerja yang terlalu besar juga dinilai membuka peluang terjadinya penyimpangan dalam pengelolaan anggaran maupun distribusi bahan pangan, sehingga diperlukan model pelaksanaan yang lebih sederhana, terukur, dan mudah diawasi.
Salah satu solusi yang diusulkan, tambah politisi Partai Golkar ini, menyerahkan penyediaan makanan kepada rumah makan atau pelaku usaha kuliner yang berada di sekitar sekolah. Dengan sistem tersebut, setiap rumah makan hanya bertanggung jawab melayani kebutuhan satu sekolah atau sekitar 300 siswa.
"Skema tersebut diyakini akan membuat proses memasak lebih fokus dan terkontrol. Jumlah porsi yang tidak terlalu besar memungkinkan makanan disiapkan dengan lebih higienis, matang sempurna, serta disajikan dalam kondisi yang masih segar ketika diterima para siswa," tambah Viktor.
Di sisi lain, ujar anggota dewan Dapil Tapanuli ini, pelibatan rumah makan lokal juga diyakini akan memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Artinya, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui pemberdayaan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)," katanya.
Dengan melibatkan lebih banyak rumah makan di berbagai daerah, ujar politisi Partai Golkar ini, manfaat program akan tersebar lebih merata. Pelaku usaha lokal memperoleh tambahan pendapatan, tenaga kerja dapat terserap, sementara pemerintah tetap dapat melakukan pengawasan melalui standar operasional yang ditetapkan BGN.
Model tersebut, ujar anggota Komisi D ini, juga dinilai akan memperpendek rantai distribusi makanan. Karena lokasi rumah makan berada dekat dengan sekolah, makanan dapat diantar dalam waktu singkat sehingga kualitas, cita rasa, dan kandungan gizinya tetap terjaga hingga dikonsumsi siswa.
Berkaitan dengan itu, Viktor mengharapkan BGN tidak ragu melakukan evaluasi terhadap pola pelaksanaan MBG yang ada saat ini. Program yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda harus dijalankan dengan sistem yang efektif, aman, akuntabel, sekaligus mampu memberdayakan ekonomi lokal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat luas.
(NAI/NAI)











