Harga Semen di Sumut Melonjak hingga 40 Persen, KPPU Telusuri Titik Hambatan Rantai Pasok (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Kantor Wilayah I tengah mendalami struktur pasar dan rantai distribusi semen di Provinsi Sumatera Utara setelah harga komoditas tersebut melonjak sekitar 25 hingga 40 persen disertai keterbatasan pasokan pada sejumlah merek.
Sebagai langkah awal, KPPU menggelar Focus Group Discussion (FGD) Kajian Struktur Pasar dan Distribusi Semen di Provinsi Sumatera Utara pada Senin, 10 Agustus 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh produsen, distributor, asosiasi pelaku usaha konstruksi, Polda Sumatera Utara, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sumatera Utara.
Anggota KPPU, Budi Joyo Santoso, dalam sambutannya secara daring menyatakan bahwa forum tersebut ditujukan untuk menghimpun data dan informasi komprehensif mengenai kondisi pasar.
“FGD ini merupakan bagian dari proses pengumpulan bahan informasi dan data. Kegiatan ini bukan untuk mencari kesimpulan atau memberikan penilaian terhadap pelaku usaha, tetapi untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi pasar semen di Sumatera Utara,” ujar Budi.
Sementara itu, Kepala Kanwil I KPPU, Ridho Pamungkas, mengungkapkan bahwa kenaikan harga semen di Sumut jauh melampaui rata-rata nasional kelompok bangunan/konstruksi yang tercatat sebesar 8,68 persen pada Juni 2026 versi BPS. Kendati biaya produksi dan logistik mengalami kenaikan, KPPU mempertanyakan kewajaran lonjakan harga tersebut.
“Kenaikan biaya produksi dan logistik tentu dapat menjadi salah satu faktor. Namun, apakah kenaikan biaya tersebut cukup untuk menjelaskan kenaikan harga yang jauh lebih tinggi sekaligus keterbatasan pasokan tersebut?” kata Ridho.
Ridho menambahkan, dalam pasar yang kompetitif, konsumen seharusnya dapat beralih ke merek lain apabila terjadi kekurangan pada satu merek. Namun, apabila berbagai merek sulit diperoleh secara bersamaan, hal itu memerlukan penelusuran mendalam pada sisi pasokan.
“Ketika satu merek mengalami kekurangan, secara teori konsumen masih dapat beralih ke merek lain. Tetapi apabila pada saat yang sama berbagai merek semen juga sulit diperoleh di pasar, kita perlu memahami apa yang sebenarnya terjadi pada sisi pasokannya,” jelas Ridho.
Dalam diskusi tersebut, sejumlah produsen menyampaikan berbagai kendala yang dihadapi, mulai dari masalah pengiriman jalur laut dari Pulau Jawa melalui Pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan oleh Indocement, peningkatan penjualan untuk pemulihan pascabencana di Aceh serta keterbatasan batu bara oleh Semen Indonesia Group (SIG), hingga gangguan mesin pabrik dan antrean BBM solar yang memengaruhi harga jual Semen Merah Putih.
Untuk memastikan apakah perbedaan harga dan kelangkaan ini murni disebabkan oleh faktor logistik atau ada faktor lain, KPPU akan melanjutkan pendalaman data langsung ke lapangan.
“Kalau persoalannya adalah kenaikan BBM dan biaya logistik, kita perlu melihat seberapa besar kenaikan biaya tersebut dan seberapa besar pengaruhnya terhadap harga semen. Pertanyaan berikutnya adalah mengapa dengan kondisi yang sama, harga semen di Sumatera Utara dapat lebih tinggi dibandingkan wilayah lain atau produk lain yang juga diangkut dari luar provinsi. Ini yang masih perlu kami dalami,” pungkas Ridho.
(RZD)