Analisadaily.com, Medan - Kasus komentar kurang etis sejumlah tenaga kesehatan (Nakes) terhadap curhatan seorang pasien yang bernada menghina terhadap pasien BPJS dan viral di media sosial (medsos), menjadi perhatian Anggota DPRD Kota Medan Komisi II, Afif Abdillah SE.
Menindaklanjuti hal tersebut, Afif memanggil perwakilan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Medan, Rabu (12/8/2026) di DPRD Kota Medan, guna membahas persoalan dari dua sisi, baik dari perspektif pelayanan maupun kondisi tenaga kesehatan di lapangan.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Sektretaris DPD PPNI Kota Medan Farida Aruan A.Md .Kep; Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan PPNI, Walter, S.Kep., Ners,. M.Kep., Sp.Kep.J; Ketua Devisi hubungan antar Lembaga PPNI, Suratun S.KEP .Ners; Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pemberdayaan Politik PPNI, Nasib Sitepu S.KEP .Ners dan Ketua DPK RSUD dr Pirngadi Medan, Hairul Solin, Skep Ners.
Ditegaskan Afif Abdillah, bahwa persoalan ini harus dilihat secara menyeluruh. Ia menekankan pentingnya menjaga hak pasien untuk mendapatkan pelayanan yang baik dan manusiawi, sekaligus memperhatikan kondisi kerja tenaga kesehatan.
Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kota Medan ini juga meminta agar kasus serupa tidak kembali terjadi serta tidak menimbulkan stigma terhadap seluruh tenaga kesehatan.
Menurutnya, masyarakat membutuhkan pelayanan kesehatan yang optimal, sementara tenaga kesehatan juga membutuhkan lingkungan kerja yang layak dan dukungan dalam menjalankan tugasnya.
Ia berharap polemik yang terjadi di media sosial tidak memperlebar jarak antara masyarakat dan tenaga kesehatan, melainkan menjadi momentum untuk memperbaiki komunikasi, pelayanan, serta sistem kesehatan di Kota Medan.
Sementara Sektretaris DPD PPNI Kota Medan Farida Aruan A.Md .Kep, menyatakan, PPNI tidak menampik adanya komentar dari sejumlah tenaga kesehatan yang dinilai kurang etis dan menegaskan tidak membenarkan tindakan tersebut.
"Namun demikian, tenaga kesehatan saat ini menghadapi berbagai tekanan dalam menjalankan tugas, mulai dari beban kerja, persoalan kesejahteraan, tuntutan pelayanan, hingga dinamika interaksi dengan pasien maupun keluarga pasien," akunya.
Untuk itu PPNI berharap masyarakat dapat melihat persoalan ini secara lebih utuh, tidak hanya dari satu sisi. Menurut mereka, tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan pelayanan juga menghadapi kondisi kerja yang perlu menjadi perhatian bersama.
"PPNI menilai, kondisi tersebut perlu menjadi evaluasi agar tekanan yang dialami tenaga kesehatan tidak berkembang menjadi persoalan baru dalam hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan," tuturnya.
(NS/BR)











