LTWF 2026 Hadirkan Sastra dan Budaya di Sibisa (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Toba - Setelah sukses digelar di Medan, Lake Toba Writers Festival (LTWF) 2026 berlanjut ke Sibisa, Kabupaten Toba. Berlangsung di Toba Caldera Resort, festival sastra tersebut menghadirkan penulis, penyair, akademisi, dan pegiat budaya dengan mengangkat isu sastra, budaya, serta kesadaran lingkungan.
“Kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara kelestarian lingkungan, akar budaya, dan kesejahteraan masyarakat menjadi semakin krusial. Mari kita jadikan Lake Toba Writers Festival sebagai ruang perjumpaan yang memperkuat pelestarian ekologi dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar,” katanya.
Pendiri LTWF, Amol Titus, mengatakan budaya dapat berkontribusi terhadap pembangunan bangsa apabila dikembangkan secara autentik dengan tetap menghormati tradisi dan terbuka terhadap pembelajaran serta kolaborasi baru.
“Di tengah ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya angka kemiskinan, kreativitas dan keberlanjutan dapat menjadi solusi bagi kemajuan,” ujarnya.
Menurutnya, LTWF juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali dunia sastra dengan memberikan penghormatan kepada para legenda sastra lokal dan internasional sekaligus memperkenalkan karya penulis kontemporer.
Ia menegaskan, keberlanjutan lingkungan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan festival. Penggunaan plastik diminimalkan, sementara para delegasi didorong membawa botol minum dan tas kain. Makanan dan suvenir juga diutamakan dari pelaku UMKM lokal dengan penggunaan kemasan berbahan kertas, kardus daur ulang, dan daun pisang.
“Budaya tidak dapat berkembang jika masyarakat kehilangan kesadaran lingkungan dan hidup di tengah polusi, sampah, penggundulan hutan, serta kerusakan flora dan fauna,” katanya.
Plt. Direktur Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, Arditama Nusantara Putra, menyambut baik penyelenggaraan festival di Toba Caldera Resort. Menurutnya, budaya, khususnya sastra, memiliki peran penting dalam meningkatkan daya tarik kawasan tersebut sebagai destinasi wisata.
Sementara itu, Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, mengapresiasi para penulis, pembaca, dan pencinta budaya yang hadir. Ia juga mengapresiasi inisiatif LTWF yang memadukan sastra dengan budaya lokal melalui tari, musik, kerajinan tangan, dan kuliner.
Dalam salah satu sesi, Dr Ichwan Azhari membahas Pustaha Laklak, naskah kuno Batak yang menurutnya justru lebih terawat dan terkoleksi di Eropa Barat dibandingkan di Indonesia. Ia mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengungkap isi naskah, menyusun kamus berdasarkan konsensus para ahli, serta mengupayakan pemulangannya ke Indonesia.
Sejumlah penulis turut tampil, di antaranya Dr Wilmar Simanjorang, Saut Poltak Tambunan, Mikhael Naibaho, Ubai Dillah Al Anshori, dan Soekirman. Sementara Melani Butar Butar dan Dr Azizul Kholis membahas rencana perbaikan UNESCO Global Geopark Kaldera Toba dari aspek lingkungan dan budaya.
Dalam sesi Sastra Inggris, Amol Titus mengulas karya Harper Lee dan Agatha Christie, termasuk tema, gaya penulisan, dan karakter khas karya keduanya. Ia juga membacakan kutipan dari buku puisinya, The Fellowship of Krakatau, yang terinspirasi dari sejumlah gunung berapi di Indonesia.
Festival turut melibatkan mahasiswa dari Universitas Simalungun, Unita, dan IAKN. Dua mahasiswa Unita menerima penghargaan setelah masuk daftar terpilih dalam lomba penulisan kreatif bagi kaum muda. Sebelumnya, dua mahasiswa Unimed dan satu mahasiswa USU juga menerima penghargaan pada pembukaan festival di Medan.
Rangkaian kegiatan di Sibisa ditutup dengan perpaduan puisi dan tari yang diangkat dari karya Amol Titus, The Ballad of Lake Toba.(REL/WITA)











