KEK Danau Toba Mulai Dikaji, Samosir Dorong Investasi Tak Sekadar Jadi Label Kawasan (Analisadaily/Istimewa)
Analisadaily.com, Samosir - Rencana pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Danau Toba mulai memasuki tahap pendalaman kajian. Pemerintah Kabupaten Samosir bersama Bank Indonesia (BI) Sumatera Utara dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membahas kesiapan kawasan sekaligus model pengembangan yang diharapkan mampu mendatangkan investasi dan memberi dampak langsung bagi masyarakat.
Bagi Samosir, rencana KEK Danau Toba bukan hanya soal menarik investor. Pemerintah daerah menilai keberhasilan kawasan ekonomi harus diukur dari sejauh mana investasi mampu menciptakan lapangan kerja, membuka peluang usaha dan memperkuat perekonomian masyarakat lokal.
Karena itu, Pemkab Samosir mendorong agar konsep KEK sejak awal tidak berhenti pada pembangunan kawasan atau pemberian kemudahan investasi, tetapi juga memastikan masyarakat setempat masuk dalam rantai ekonomi yang terbentuk.
Penguatan local procurement, pengembangan pemasok lokal, peningkatan keterampilan tenaga kerja, pembiayaan UMKM dan digitalisasi transaksi menjadi sejumlah agenda yang didorong pemerintah daerah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Samosir Marudut Tua Sitinjak mengatakan, pengembangan Danau Toba harus dipandang sebagai satu kesatuan kawasan.
“Bicara Danau Toba tidak bisa hanya Samosir. Kita perlu menyatukan persepsi dan menyepakati kebijakan bersama dengan kabupaten-kabupaten di kawasan Danau Toba,” ujarnya.
Menurutnya, posisi Samosir yang berada di tengah Danau Toba menjadi salah satu potensi yang dapat diperkuat dalam membangun konektivitas ekonomi kawasan.
Namun, pengembangan ekonomi tersebut harus tetap mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan. Pendataan dan perlindungan sumber-sumber mata air disebut menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Tantangan Konektivitas dan Lahan
Selain investasi, persoalan konektivitas menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengembangan kawasan.
Asisten II Setdakab Samosir Hotraja Sitanggang menilai akses transportasi menuju maupun di dalam kawasan Danau Toba masih perlu diperkuat. Konektivitas penyeberangan menjadi salah satu aspek yang dinilai penting untuk menunjang pergerakan masyarakat dan wisatawan.
Tanpa konektivitas yang baik, pengembangan destinasi maupun investasi di kawasan Danau Toba dinilai berpotensi tidak berjalan optimal.
Di sisi lain, persoalan status lahan dan sempadan Danau Toba juga menjadi tantangan yang perlu mendapatkan penyelesaian dalam perencanaan kawasan.
BRIN Dorong Danau Toba Jadi Satu Ekosistem
Peneliti BRIN Maxenius T. Sambodo dalam pemaparannya menyampaikan materi
“Optimalisasi Data Dukung Kawasan untuk Pengembangan Investasi Danau Toba yang Berkelanjutan.”
Ia mengatakan, pengembangan KEK harus mampu menghubungkan aset strategis yang tersebar di tujuh kabupaten kawasan Danau Toba.
Dengan demikian, masing-masing daerah tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membangun rantai nilai yang saling memperkuat.
“Riset ini akan terus diperkuat. Mudah-mudahan dari riset ini kita dapat membangun kembali semangat kawasan Danau Toba menjadi satu ekosistem,” katanya.
Dalam kajian awal, BRIN mengidentifikasi sejumlah pendekatan, di antaranya pemulihan ekosistem, penguatan rantai nilai antarkabupaten, kelembagaan satu pintu dan skema pendanaan terpadu.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa pembentukan KEK Danau Toba membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan investasi. Diperlukan kelembagaan dan koordinasi lintas daerah agar potensi kawasan tidak terfragmentasi oleh kepentingan sektoral.
Samosir Punya Modal Pariwisata
Dari sisi pariwisata, Samosir memiliki basis yang cukup kuat untuk menjadi salah satu simpul ekonomi kawasan.
Pemkab Samosir mencatat terdapat 62 desa wisata, dengan 15 di antaranya telah berstatus desa wisata mandiri.
Ke depan, pengembangan diarahkan pada atraksi wisata yang lebih terjadwal, integrasi destinasi berbasis pengalaman serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Pemerintah daerah juga menempatkan sektor budaya, pendidikan, kesehatan dan ekonomi kreatif sebagai bagian dari ekosistem yang dapat dikembangkan.
Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh potensi tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri dan mampu menghasilkan nilai ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Manfaat bagi Masyarakat Pemkab Samosir menyatakan siap menjadi salah satu simpul pengembangan ekonomi dalam rencana KEK Danau Toba. Tetapi, keberhasilan konsep tersebut pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh implementasinya.
Apakah investasi yang masuk mampu menyerap tenaga kerja lokal? Apakah UMKM masyarakat sekitar menjadi bagian dari rantai pasok? Apakah pelaku usaha lokal memperoleh ruang yang cukup? Dan apakah pertumbuhan investasi tetap berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem Danau Toba?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena KEK tidak seharusnya hanya menghasilkan pertumbuhan angka investasi, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi.
Pemkab Samosir berharap kajian BI dan BRIN dapat menghasilkan konsep KEK Danau Toba yang realistis, terintegrasi dan berkelanjutan serta sejalan dengan arah pembangunan kawasan dan RPJPD Samosir 2025–2045. (TN)(WITA)











