Lestarikan Tradisi dan Ukir Prestasi, Sofyan Tan Tegaskan Filosofi Barongsai Lahirkan Pemimpin Berempati (Analisadaily/Ist)
Analisadaily.com, Medan — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr Sofyan Tan, menegaskan bahwa kecerdasan intelektual semata tidak cukup untuk membawa seseorang menjadi pemimpin bangsa yang berhasil.
Menurutnya, kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain dan memiliki empati adalah kunci utama yang harus dimiliki generasi muda.
Pesan kuat tersebut disampaikannya dalam ajang bertajuk "Barongsai, Melestarikan Tradisi Mengukir Prestasi" yang diselenggarakan atas kolaborasi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI bersama Komisi X DPR RI di Lobby Universitas Satya Terra (ST) Bhinneka, Jalan PDAM Tirtanadi, Medan Sunggal, Kota Medan, Kamis (24/9).
Kegiatan yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh jajaran Pengurus Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda, Rektor, Wakil Rektor, serta seluruh civitas akademika Universitas ST Bhinneka.
Turut hadir pula Coach Vicktor dan David Candra dari Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI) Sumatera Utara, serta atlet-atlet barongsai dari lima sekolah terkemuka di Medan, yakni SMA Sultan Iskandar Muda, SMA Budi Utomo, SMA Bodhicitta, SMA Cinta Budaya, dan SMA Mian Zhong.
Dalam arahannya, Sofyan Tan mengulas sejarah panjang tarian barongsai yang bermula dari Dinasti Ming di Tiongkok hingga berkembang pesat ke seluruh penjuru dunia, termasuk di Indonesia.
Ia menjelaskan bahwa barongsai bukan sekadar seni pertunjukan visual, melainkan sebuah seni bela diri yang mengombinasikan ketangkasan wushu dengan keindahan gerak tari. Olahraga ini menuntut ketahanan fisik luar biasa, terutama pada kekuatan kaki untuk menahan beban dan melakukan loncatan.
"Tarian barongsai membutuhkan kekuatan fisik dan kekompakan tingkat tinggi. Umumnya para pemainnya adalah atlet wushu yang memiliki otot kaki sangat kuat untuk menopang beban rekan-rekannya," ujar legislator Dapil Sumut 1 tersebut di hadapan para peserta dan tamu undangan.
Lebih jauh, Sofyan Tan menyoroti filosofi mendalam terkait kesetaraan dan insting kerja sama dalam tim barongsai. Ia menekankan bahwa pemain yang berada di posisi depan maupun belakang memiliki kontribusi dan nilai yang sama pentingnya.
Tanpa ada yang merasa lebih dominan, keduanya wajib menyatukan irama hati agar mampu menampilkan atraksi yang harmonis dan aman, terutama saat mengeksekusi gerakan-gerakan ekstrem.
Sofyan Tan mengatakan, antara pemain depan dan belakang tidak ada yang lebih hebat, semuanya memiliki kontribusi yang sama. Mereka harus punya irama yang sehati. Pemain di belakang bahkan bisa merasakan gerakan teman di depannya tanpa melihat langsung.
“Ini membuktikan bahwa bermain barongsai melatih kepekaan hati dan empati untuk memahami orang lain," ungkapnya.
Berangkat dari nilai kepekaan tersebut, Sofyan Tan menyampaikan pesan moral mendalam kepada seluruh pesertayang hadir. Ia mengingatkan bahwa tantangan menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan figur pemimpin yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga memiliki kelembutan hati untuk merangkul masyarakat.
Menurutnya orang pintar saja tidak akan otomatis sukses atau bisa menjadi pemimpin hebat. Namun, orang pintar yang memiliki kepekaan rasa, punya empati, dan sanggup merasakan penderitaan orang lain, itulah sosok yang akan menjadi pemimpin bangsa di masa depan.
Mengakhiri sambutannya, Sofyan Tan menyampaikan terima kasih mendalam kepada Kemenpora RI, FOBI Sumut, pihak perguruan tinggi, para pelatih, serta seluruh siswa peserta dari lima sekolah yang tampil penuh semangat.
Ia berharap ajang ini dapat terus memicu semangat pemuda untuk melestarikan tradisi budaya sekaligus mengukir prestasi yang membanggakan bagi bangsa dan negara.
Dalam atraksinya, kelima barongsai tampak meliuk-liuk melompat kesana kemari dengan lincah. Barongsai yang diisi atlet dari 5 sekolah tersebut juga mencoba berinteraksi langsung ke pengunjung yang menyaksikan dengan menaiki anak tangga satu persatu melewati kerumunan peserta yang hadir.
Sejumlah orang memanfaatkan kesempatan tersebut untuk merekam dan berfoto dari dekat dengan sejumlah barongsai. Ada juga peserta yang terlihat sedikit gugup dan ketakutan ketika dihampiri barongsai naik ke atas.
(REL/RZD)