Ketika Kelas Informatika Berubah Menjadi Ruang Eksplorasi

Ketika Kelas Informatika Berubah Menjadi Ruang Eksplorasi
Sumarwan, Guru Informatika di UPTD SMP Negeri 9 Pematangsiantar membawa kearifan lokal Kota Pematangsiantar ke dalam pembelajaran Informatika melalui pendekatan SANG NAUALUH. (Analisadaily/istimewa )

Analisadaily.com, Siantar - Bel istirahat telah berbunyi. Namun, sejumlah siswa di kelas Informatika UPTD SMP Negeri 9 Pematangsiantar belum beranjak dari tempat duduknya. Mereka masih asyik berdiskusi, menyampaikan gagasan dan mencoba menemukan jawaban dari persoalan yang diberikan guru.

Pemandangan itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi Sumarwan, S.Pd., Gr. Guru kelahiran Gunung Meriah, 27 September 1998, tersebut melihat sesuatu yang berbeda dari murid-muridnya. Mereka tidak lagi sekadar menunggu jawaban dari guru, tetapi mulai berani mencari dan menemukan solusi sendiri.

Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Sebagai guru Informatika yang baru sekitar dua tahun enam bulan mengajar di jenjang SMP, Sumarwan mengaku sebelumnya masih menggunakan pola pembelajaran yang cenderung kaku.

“Awalnya dulu saya mengajarnya cukup kaku. Mengajar masih cenderung teori, ceramah, dan meminta murid untuk banyak menghafal,” ujarnya.

Pola tersebut mulai berubah setelah Sumarwan mendapatkan pendampingan dari Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation, terutama dalam pelatihan menyusun lembar kerja berbasis STEM.

Titik baliknya terjadi ketika Fasda melakukan observasi kelas. Saat itu Sumarwan merasa sudah mengajar dengan baik. Namun, hasil pengamatan menunjukkan hanya sebagian kecil murid yang benar-benar memahami materi, sementara sebagian lainnya sekadar mengikuti instruksi.

“Saya mulai merancang ulang metode pembelajaran agar dapat berpusat pada keterlibatan siswa. Perubahan pola pikir saya bergeser dari ‘apa yang saya ajarkan’ menjadi ‘bagaimana siswa belajar dan memahami’,” katanya.

Sejak itu, Informatika tidak lagi dipandang sebatas pelajaran tentang tombol, menu perangkat lunak atau coding. Sumarwan mulai menggunakannya untuk mengasah logika, literasi berpikir, kemampuan membaca persoalan dan mencari solusi.

“Pembelajaran Informatika ternyata bukan soal menghafal tombol atau menu software, melainkan mengasah logika dan literasi berpikir anak,” tuturnya.

Melalui lembar kerja berbasis STEM, siswa diajak membaca studi kasus, mengolah data dan mendiskusikan solusi. Bahkan ketika komputer tidak tersedia atau laboratorium digunakan bergantian, pembelajaran tetap berjalan melalui simulasi berbasis kertas.

“Kelas jauh lebih seru dan murid tidak gampang bosan,” ujarnya.

Keterbatasan fasilitas justru mendorong Sumarwan semakin kreatif. Ia memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar, seperti kardus, tutup botol dan sedotan, untuk membantu menjelaskan konsep yang abstrak. Inspirasi juga datang dari kehidupan sehari-hari, interaksi dengan siswa, komunitas guru dan media digital.

Namun, inovasi yang paling menarik adalah ketika ia membawa kearifan lokal Kota Pematangsiantar ke dalam pembelajaran Informatika melalui pendekatan SANG NAUALUH.

Materi keamanan data yang selama ini terasa rumit dikemas dalam simulasi “Detektif Digital SANG NAUALUH”. Dengan bantuan Google Gemini Canvas, siswa diajak merancang simulasi game edukasi tentang keamanan siber.

Mereka tidak hanya belajar tentang risiko kebocoran data, tetapi juga menyusun cerita, logika permainan dan solusi. Sumarwan mengaitkannya dengan keteladanan Raja Sang Naualuh Damanik serta nilai Habonaron Do Bona sebagai landasan etika digital.

“Dengan begitu, murid tidak hanya belajar aspek teknis privasi data, tetapi juga memahami nilai moral di dalamnya,” katanya.

Dampaknya mulai terlihat. Siswa yang sebelumnya hanya menjadi konsumen materi pembelajaran mulai berani menjadi pencipta karya.

“Prestasi paling membanggakan bagi saya adalah perubahan sikap murid dari sebatas konsumen menjadi pencipta karya sederhana,” ungkap Sumarwan.

Salah satu perubahan yang paling menyentuhnya terlihat pada Celine, siswa kelas IX-6. Sebelumnya, Celine dikenal pendiam, pemalu dan kerap ragu ketika mengikuti pembelajaran coding.

Saat materi keamanan data dikemas melalui “Detektif Digital SANG NAUALUH”, Celine mulai terlibat dalam diskusi kelompok. Ia juga berani menggunakan alat bantu AI untuk menyusun ide cerita dan logika permainan.

“Begitu melihat idenya terwujud jadi game sederhana, rasa percaya dirinya tumbuh. Dari yang dulunya pendiam, kini ia perlahan mau bertanya, membantu temannya, hingga berani mempresentasikan hasilnya di depan kelas,” kata Sumarwan.

Bagi Sumarwan, perubahan Celine membuktikan bahwa materi yang abstrak dapat lebih mudah dipahami jika dikemas dekat dengan dunia anak.

Perubahan itu juga mulai dirasakan rekan sejawat. Guru Informatika yang sebelumnya menganggap pemrograman rumit mulai tertarik setelah melihat antusiasme siswa. Beberapa guru bahkan mengadaptasi alur SANG NAUALUH untuk membuat kuis interaktif dan simulasi pembelajaran pada mata pelajaran lain.

Meski demikian, perjalanan tersebut bukan tanpa tantangan. Pada awal penerapan pembelajaran berbasis proyek, tidak semua percobaan langsung berhasil. Sumarwan sempat ragu, tetapi memilih melakukan refleksi dan memperbaiki kekurangan.

“Saya menyadari kegagalan awal adalah bagian dari proses. Saya memilih mengevaluasi kekurangan, menyederhanakan media, dan merayakan setiap kemajuan kecil murid,” ujarnya.

Dalam proses itu, Fasda turut membangun kepercayaan dirinya untuk terus berinovasi.

“Fasda memberi masukan konstruktif, mengarahkan ide-ide yang saya punya, dan meyakinkan bahwa inovasi sederhana pun bisa membawa dampak nyata bagi kelas,” katanya.

Kini, Sumarwan ingin menjaga kreativitas tersebut tetap tumbuh. Ia berencana mengembangkan modul dengan pendekatan serupa, membagikan pengalaman melalui Komunitas Belajar dan MGMP, serta mendokumentasikan perangkat ajarnya agar dapat dipelajari guru lain.

Baginya, guru tidak harus menunggu fasilitas lengkap untuk menciptakan pembelajaran bermakna.

“Generasi sekarang butuh pendekatan yang interaktif dan kontekstual agar literasi dan numerasi tidak sekadar menjadi beban ujian, tetapi benar-benar menjadi keterampilan berpikir,” pungkasnya.

Di kelas Sumarwan, perubahan itu sederhana tetapi berarti: dari menghafal menjadi memahami, dari menunggu jawaban menjadi mencari solusi, dan dari sekadar menggunakan teknologi menjadi berani menciptakan karya.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi