Tak Lagi Bingung Hitung Bilangan Positif dan Negatif, Siswa Terbantu Tabung Jodoh

Tak Lagi Bingung Hitung Bilangan Positif dan Negatif, Siswa Terbantu Tabung Jodoh
Tabung Jodoh, media sederhana yang diciptakan Triyani Gultom membantu siswa memahami matematika. (Analisadaily/istimewa)

Analisadaily.com, Batu Bara - Suara riuh anak-anak terdengar berbeda dari biasanya di UPT SD Negeri 02 Pematang Tengah, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara. Bukan karena mereka bermain, melainkan karena mereka sedang berebut mencoba sebuah media pembelajaran bernama “Tabung Jodoh”.

Di balik media sederhana namun efektif itu, ada sosok guru muda bernama Triyani Gultom.
Lahir di Pematang Tengah pada 5 Januari 1995, Triyani adalah salah satu guru yang percaya bahwa pembelajaran tidak cukup hanya dengan penjelasan dan imajinasi.

Bagi dia, anak-anak membutuhkan sesuatu yang nyata, bisa disentuh, dilihat, dan dimainkan agar pelajaran lebih mudah dipahami. “Dulu saya sering meminta siswa membayangkan materi yang saya jelaskan. Sekarang saya sadar, mereka tidak cukup hanya membayangkan. Mereka perlu alat yang konkret,” tuturnya.

Kesadaran itu menjadi titik balik dalam cara Triyani mengajar. Perjalanan menciptakan media pembelajaran tidak selalu mudah. Triyani mengaku tantangan terbesarnya justru terletak pada satu pertanyaan sederhana: apa yang harus dibuat?

Saat ide itu belum sepenuhnya terbentuk, ia membawa gagasannya kepada tim fasilitator daerah (fasda) Tanoto Foundation dari program Guru Bisa.
“Ide saya saat itu masih seperempat jadi,” kenangnya.

Namun alih-alih dianggap terlalu mentah, gagasan tersebut justru disambut hangat. Tim fasda mendengarkan dengan sabar, memberi saran, hingga membantu menemukan nama yang tepat untuk media itu: Tabung Jodoh.

Bagi Triyani, momen itu sangat berkesan. “Mereka benar-benar membantu, memotivasi, dan membimbing saya sampai media ini selesai,” ujarnya.

Tabung Jodoh dirancang untuk membantu siswa memahami penjumlahan bilangan bulat, khususnya bilangan positif dan negatif. Materi yang kerap membuat anak-anak bingung itu disajikan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan.

Dengan media tersebut, siswa tidak lagi sekadar menghafal aturan hitung. Mereka dapat melihat prosesnya secara langsung dan menemukan sendiri hubungan antarangka.
Suasana kelas pun berubah.

Anak-anak menjadi lebih aktif, antusias, dan berani menjawab soal. Kelas yang biasanya tenang berubah menjadi ruang belajar yang hidup.

“Ketika menggunakan media itu, saya melihat siswa lebih semangat dan lebih mudah menjawab soal-soal,” kata Triyani.

Salah satu pengalaman paling membekas bagi Triyani datang dari seorang siswa bernama Reynold Paulus Gultom.

Sebelum menggunakan Tabung Jodoh, Reynold mengalami kesulitan memahami penjumlahan bilangan positif dan negatif. Ekspresi bingung kerap terlihat di wajahnya.
Namun setelah media itu digunakan, sesuatu berubah.

Reynold mulai memahami konsep yang sebelumnya terasa rumit. Ia ikut aktif mencoba media dan mampu menyelesaikan soal dengan lebih percaya diri.

Bagi Triyani, tidak ada hadiah yang lebih membahagiakan selain melihat muridnya berkata, “Oh, begitu.”

“Kalau mereka mengangguk tanda mengerti, saya merasa sangat senang. Sebaliknya, kalau mereka hanya diam dan bingung, saya justru ikut pusing,” katanya sambil tersenyum.

Inovasi Triyani ternyata menular. Rekan sejawatnya, Monita Pasaribu, mulai terinspirasi untuk menciptakan media pembelajaran sendiri.

Sedikit demi sedikit, Monita menemukan ide-ide baru yang membantu proses belajar di kelas.

Bagi Triyani, inilah salah satu bukti bahwa perubahan kecil dapat memberi dampak besar.
Ia meyakini bahwa metode konvensional yang membuat siswa pasif perlu diubah. Anak-anak masa kini hidup di era yang berbeda. Mereka membutuhkan pembelajaran yang konkret, interaktif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Triyani tidak pernah merasa harus memiliki alat yang mahal untuk menjadi kreatif. Baginya, inspirasi bisa datang dari mana saja.
Ia memanfaatkan benda-benda di sekitar, berdiskusi dengan kelompok kerja guru, berbagi dengan rekan di sekolah, hingga mencari referensi melalui media sosial.

Selain itu, ia juga berusaha menghubungkan pembelajaran dengan lingkungan sekitar dan memanfaatkan cerita rakyat untuk menanamkan nilai etika dan moral. Langkah yang selalu ia lakukan sederhana namun konsisten: refleksi, berbagi, dan mencari ide baru.

Bagi Triyani, profesi guru menuntut kreativitas dan fleksibilitas. Guru harus mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus memahami kebutuhan murid.

“Guru wajib terus belajar agar tahu apa yang dibutuhkan anak didiknya saat ini,” tegasnya.
Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk terus berinovasi.

Dari sebuah ide yang masih setengah matang, lahirlah Tabung Jodoh, media sederhana yang bukan hanya membantu siswa memahami matematika, tetapi juga menghidupkan semangat belajar di kelas.

Di tangan Triyani Gultom, matematika tidak lagi menjadi pelajaran yang menakutkan. Ia berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan, konkret, dan mudah dipahami.
Dan semua itu bermula dari satu tekad sederhana: memastikan tidak ada lagi murid yang hanya diam dengan wajah bingung.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi