Guru UPT SDN 09 Benteng, Desa Benteng, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara manfaatkan Canva AI dan layar Interactive Flat Panel (IFP) untuk pembelajaran. (Analisadaily/istimewa )
Analisadaily.com, Batubara - Perubahan suasana kelas menjadi pengalaman berharga bagi Tarmizi, S.Pd., guru UPT SDN 09 Benteng, Desa Benteng, Kecamatan Talawi, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Melalui pemanfaatan Canva AI dan layar Interactive Flat Panel (IFP), ia berupaya menghadirkan pembelajaran literasi dan numerasi yang lebih menarik dan interaktif.
Di kelas yang terdiri atas 33 siswa, Tarmizi menemukan tiga anak, yakni Nathanael, Umar, dan Sonia, yang mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran. Mereka cenderung pasif, kurang bersemangat bertanya, dan membutuhkan pendekatan berbeda untuk memahami materi.
Kondisi itu mendorong Tarmizi mengevaluasi metode mengajarnya. Ia menyadari pembelajaran yang terlalu berpusat pada guru berpotensi membuat siswa mudah bosan dan kurang terlibat aktif.
“Metode konvensional biasanya lebih berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif dan mudah bosan. Mereka juga belum sepenuhnya memahami konsep literasi dan numerasi. Karena itu, saya terdorong mencoba metode baru dengan memanfaatkan Canva AI,” ujarnya.
Melalui pendampingan fasilitator daerah (fasda) Tanoto Foundation, Tarmizi mengenal pemanfaatan Canva AI untuk mengembangkan media pembelajaran. Materi yang disiapkan kemudian ditampilkan melalui layar IFP sehingga siswa dapat berinteraksi langsung dengan pembelajaran.
Perubahan mulai terlihat. Siswa lebih antusias mengikuti pelajaran, berani bertanya, dan percaya diri menjawab soal. Nathanael, Umar, dan Sonia yang sebelumnya cenderung diam pun mulai berani tampil di depan kelas.
“Yang paling menyentuh bagi saya adalah melihat siswa yang awalnya pasif menjadi lebih aktif. Mereka mulai berani tampil menjawab soal di IFP, lebih percaya diri, dan aktif bertanya. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya sebagai guru,” katanya.
Perjalanan menghadirkan pembelajaran interaktif tidak selalu mudah. Keterbatasan sarana dan sumber daya menjadi tantangan yang harus dihadapi. Tidak semua siswa juga langsung aktif ketika metode baru diterapkan.
Tarmizi mengatasinya dengan melakukan refleksi setelah pembelajaran, mengamati respons siswa, dan memperbaiki pendekatan sesuai kebutuhan. Ia juga memanfaatkan bahan-bahan sederhana dari lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
“Guru harus kreatif dan fleksibel mengikuti perkembangan zaman. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan kelengkapan sarana dan prasarana, tetapi juga kemampuan guru menciptakan pembelajaran yang menarik dan bermakna,” tuturnya.
Untuk mengembangkan ide, ia belajar dari lingkungan sekitar, berdiskusi dengan rekan sejawat dan fasda, serta mencari inspirasi melalui internet dan media sosial. Semua gagasan disesuaikan dengan kondisi sekolah dan karakteristik siswa.
Menurutnya, pendampingan fasda Tanoto Foundation turut membantu meningkatkan wawasan dan kepercayaan dirinya dalam menghadapi tantangan pembelajaran.
“Titik balik yang paling berkesan adalah ketika saya mulai menerapkan apa yang dipelajari dari fasda di kelas. Pembelajaran menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan interaktif. Saya juga lebih percaya diri mencari masukan serta solusi ketika menghadapi kendala,” ungkapnya.
Tarmizi juga berupaya menghubungkan materi pembelajaran dengan kehidupan siswa. Cerita rakyat, permainan tradisional, dan budaya masyarakat menjadi sumber belajar yang dekat dengan keseharian mereka.
Dalam pembelajaran numerasi, misalnya, aktivitas jual beli di pasar dan menghitung hasil laut dapat digunakan untuk mengenalkan konsep perhitungan secara konkret.
Dengan pendekatan tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memahami angka dan bacaan dalam buku, tetapi juga mampu melihat penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ke depan, Tarmizi berkomitmen terus mengevaluasi metode pembelajaran dan memantau perkembangan kemampuan siswa sebagai dasar perbaikan.
Baginya, teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membantu anak belajar lebih baik.
“Ketika siswa lebih antusias, berani bertanya, dan percaya diri menjawab pertanyaan, saya merasa pembelajaran mulai memberikan dampak. Saya ingin terus mengembangkan metode dan media yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” katanya.
Perubahan kecil di ruang kelas UPT SDN 09 Benteng menjadi penyemangat bagi Tarmizi untuk terus berinovasi. Sebab, keberhasilan seorang guru tidak hanya terlihat dari materi yang disampaikan, tetapi juga dari keberanian siswa untuk belajar, mencoba, dan mengembangkan potensinya. (DEL)











