Siti Hardiyanti, Guru SD di Batu Bara Mengubah Kelas Jadi Ruang Belajar Kreatif

Siti Hardiyanti, Guru SD di Batu Bara Mengubah Kelas Jadi Ruang Belajar Kreatif
Media pembelajaran bernama LINCAH (Lingkaran Pecahan) dibuat dari bahan sederhana yang mudah ditemukan, namun mampu membantu siswa memahami konsep pecahan secara lebih konkret. (Analisadaily/istimewa )

Analisadaily.com, Batu Bara - Bagi Siti Hardiyanti, menjadi seorang guru bukan hanya tentang menyampaikan materi di depan kelas. Lebih dari itu, guru harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan agar setiap siswa dapat menemukan cara terbaik untuk memahami pelajaran.

Perempuan kelahiran Tanjung Prapat, 14 Agustus 1995, ini merupakan guru kelas 6 di UPT SD Negeri 13 Laut Tador, Kecamatan Laut Tador, Kabupaten Batu Bara. Dalam perjalanan mengajarnya, Siti merasakan perubahan besar setelah mendapatkan pendampingan dari Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation.

Pendampingan tersebut mendorongnya untuk meninggalkan pola pembelajaran yang hanya mengandalkan metode ceramah. Kini, ia lebih banyak menghadirkan aktivitas interaktif, permainan edukatif, ice breaking, hingga media pembelajaran sederhana yang membuat siswa lebih bersemangat mengikuti proses belajar.

“Perubahan paling signifikan pada diri saya adalah menjadi guru yang lebih kreatif. Saya tidak lagi hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi mencoba berbagai aktivitas agar siswa lebih aktif dan antusias,” ujar Siti kepada Analisa, Kamis (24/9).

Salah satu inovasi yang dibuatnya adalah media pembelajaran bernama LINCAH (Lingkaran Pecahan). Media tersebut dibuat dari bahan sederhana yang mudah ditemukan, namun mampu membantu siswa memahami konsep pecahan secara lebih konkret.

Menurut Siti, pembelajaran tidak harus selalu menggunakan alat mahal. Justru, benda-benda yang ada di sekitar dapat dimanfaatkan menjadi sarana belajar yang menarik.

“Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Kita bisa memanfaatkan benda sederhana seperti kertas bekas, kardus, botol, atau bahan lain di lingkungan sekolah untuk membuat media pembelajaran,” katanya.

Perubahan metode mengajar itu pun mulai terlihat dari perilaku siswa. Mereka yang sebelumnya pasif mulai berani bertanya, berdiskusi, dan lebih aktif mengikuti pembelajaran. Kemampuan berhitung serta memahami permasalahan juga mengalami peningkatan.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Siti adalah perubahan seorang siswanya yang ia sebut Tegar. Sebelumnya, Tegar termasuk siswa yang sulit fokus ketika pembelajaran berlangsung.

“Tegar tidak suka belajar dengan metode ceramah. Kalau saya berceramah, dia biasanya sibuk bermain di bangkunya. Tetapi ketika pembelajaran menggunakan permainan dan media, dia mulai lebih fokus dan konsentrasi,” ungkap Siti.

Bagi Siti, perubahan kecil yang terjadi pada Tegar menjadi bukti bahwa setiap siswa memiliki karakter dan gaya belajar yang berbeda. Guru harus mampu menemukan pendekatan yang sesuai agar potensi setiap anak dapat berkembang.

“Setiap siswa memiliki cara belajar yang berbeda. Kalau hanya menggunakan metode konvensional, ada siswa yang mudah bosan dan akhirnya tidak memahami materi,” tuturnya.

Inovasi yang dilakukan Siti juga mendapat respons positif dari rekan-rekan guru di sekolahnya. Banyak guru mulai tertarik menggunakan media pembelajaran dan permainan sederhana dalam kegiatan belajar mengajar. Mereka pun sering berbagi ide dan pengalaman untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik.

Inspirasi bagi Siti datang dari berbagai sumber. Mulai dari media sosial, lingkungan sekitar, pengalaman mengajar, hingga diskusi bersama rekan sejawat. Pendampingan dari Fasda Tanoto Foundation juga membuatnya semakin percaya diri mencoba berbagai metode baru.

“Ketika melihat siswa yang awalnya pasif menjadi lebih aktif dan antusias, saya semakin yakin bahwa pembelajaran kreatif memberikan dampak positif bagi mereka,” ujarnya.

Meski demikian, perjalanan menerapkan metode baru tidak selalu mudah. Pada awalnya, Siti sempat mengalami kesulitan dalam mengatur waktu dan kondisi kelas. Namun, ia memilih terus mencoba, melakukan evaluasi, serta berdiskusi dengan Fasda dan sesama guru.

Dalam pembelajaran, Siti juga berusaha menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa, seperti cerita daerah, permainan tradisional, lingkungan sekitar, hingga budaya masyarakat setempat. Dengan begitu, materi pelajaran terasa lebih dekat dan mudah dipahami.

Ke depan, Siti berkomitmen untuk terus berinovasi dan membagikan praktik baik kepada rekan guru lainnya. Baginya, perubahan besar dalam pendidikan dapat dimulai dari langkah sederhana.

“Saya akan terus mencoba metode baru, berbagi dengan teman sejawat, melakukan evaluasi, dan memanfaatkan sumber belajar yang tersedia agar pembelajaran semakin menyenangkan dan menarik bagi siswa,” pungkasnya.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi