Hidupkan Literasi dan Numerasi Lewat Permainan Digital

Hidupkan Literasi dan Numerasi Lewat Permainan Digital
Guru UPT SD Negeri 04 Padang Genting, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, Agus Salim ciptakan permainan digital untuk pembelajaran anak. (Analisadaily/istimewa )

Analisadaily.com, Batubara - Bagi Agus Salim, S.Pd., mengajar bukan sekadar menyampaikan materi hingga tuntas. Lebih dari itu, guru harus mampu menemukan cara agar setiap anak merasa nyaman belajar, berani mencoba, dan tidak takut tertinggal dari teman-temannya.



Guru UPT SD Negeri 04 Padang Genting, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, ini menyadari bahwa setiap siswa memiliki karakter dan kemampuan berbeda. Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami pelajaran, ada yang kurang percaya diri, tetapi ada pula yang cepat mengerti dan membutuhkan tantangan lebih besar.

Kegelisahan itu mendorong Agus mengubah pendekatan mengajarnya. Sebelumnya, ia lebih banyak mengandalkan buku teks dan lembar kerja cetak untuk pembelajaran literasi dan numerasi.

“Saya gelisah karena metode lama cenderung sama untuk semua orang. Habibi sering tertinggal, Hana menutup diri jika diminta maju, sementara Tahira, Aqila, dan Awi kadang merasa kurang mendapat tantangan sehingga cepat bosan,” ungkap Agus.

Perubahan mulai terjadi setelah Agus mengikuti pelatihan dan pendampingan Fasilitator Daerah (Fasda) dalam program peningkatan kualitas pembelajaran yang didukung Tanoto Foundation. Ia mulai mengenal Canva Code dan memanfaatkannya untuk membuat media pembelajaran interaktif secara mandiri.

Titik baliknya terjadi ketika Fasda menunjukkan bahwa permainan digital dapat dibuat tanpa harus menguasai pemrograman secara mendalam.

“Saat sesi praktik pelatihan, Fasda menunjukkan bahwa saya bisa membuat permainan interaktif Canva Code tanpa harus ahli pemrograman. Saat itu saya menyadari bahwa saya bisa merancang media untuk berbagai karakter siswa,” katanya.

Agus kemudian membuat permainan mencocokkan gambar dengan kalimat pendek untuk literasi, serta kuis penjumlahan dan pengurangan berbentuk permainan Class of Champions untuk numerasi. Siswa dapat memilih jawaban langsung melalui layar yang ditampilkan di kelas.

Media tersebut dirancang dengan tingkat kesulitan bertahap. Anak yang membutuhkan waktu lebih lama dapat mengulang permainan, sementara siswa yang lebih cepat memahami materi memperoleh tantangan tambahan.

“Fleksibilitas membantu kita menyiapkan langkah lambat untuk Habibi, ruang aman untuk Hana, sekaligus memberikan variasi menarik bagi Tahira, Aqila, dan Awi,” ujarnya.

Perubahan paling berkesan terlihat pada Habibi, siswa kelas V yang sebelumnya mengalami kesulitan memahami perkalian dan pembagian. Ia juga kerap ragu membaca teks yang agak panjang dan cenderung menunduk ketika pembelajaran berlangsung.

Latihan dari buku belum menunjukkan kemajuan berarti. Setelah mendapatkan pendampingan Fasda, Agus mencoba pendekatan berbeda melalui permainan urutan perkalian, cerita interaktif bertema hasil kebun warga desa, dan soal cerita numerasi yang disusun bertahap.

Habibi diberi kesempatan mencoba dari tempat duduknya dan mengulang permainan sesuai kebutuhan. Ia tidak langsung dipaksa menyelesaikan soal sulit, tetapi dibimbing memahami materi sedikit demi sedikit.

Sekitar satu bulan setelah media itu digunakan secara rutin, perubahan mulai terlihat. Habibi mampu menyelesaikan soal perkalian dan pembagian sederhana dengan lebih percaya diri. Ia juga mulai bisa menceritakan kembali isi teks pendek yang dibacanya melalui layar.

Momen paling membekas bagi Agus terjadi ketika Habibi berani mengangkat tangan untuk mengerjakan soal cerita di depan kelas.

“Melihat setiap murid merespons pembelajaran dengan caranya sendiri membuat saya ingin terus berkreasi,” kata Agus.

Perubahan juga terlihat pada siswa lainnya. Hana, yang sebelumnya gemetar ketika diminta maju, mulai berani menunjukkan jawaban dari tempat duduknya. Tahira yang ceria kerap mengajak teman-temannya bermain bersama, Aqila membantu menjelaskan jawaban, sedangkan Awi selalu antusias mencoba permainan lebih dahulu.

Bagi Agus, keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari kemampuan menjawab soal, tetapi juga dari tumbuhnya keberanian, rasa percaya diri, dan kemauan untuk mencoba.

Antusiasme siswa bahkan terlihat dari pertanyaan yang kerap mereka sampaikan sebelum pelajaran dimulai, “Pak, hari ini ada permainan layar lagi tidak?”

Inovasi Agus pun mulai menginspirasi rekan sejawat. Ia pernah menjadi narasumber praktik baik tentang media pembelajaran interaktif buatan sendiri dalam pertemuan Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus II Kecamatan Talawi, Kabupaten Batu Bara.

Di sekolahnya, Ibu Desi Hariyati dan Ibu Siti Hawa juga mulai mempelajari Canva Code dan mencoba membuat media serupa untuk kelas masing-masing. Mereka saling berbagi karya dan bertukar gagasan tentang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Agus turut memasukkan konteks kehidupan masyarakat sekitar, seperti bertani dan berdagang, ke dalam cerita maupun soal numerasi. Dengan begitu, anak-anak dapat menghubungkan materi pelajaran dengan pengalaman sehari-hari.

Ketika koneksi internet terganggu, ia menyiapkan lembar kerja cetak sebagai alternatif. Baginya, keterbatasan sarana bukan alasan untuk berhenti berinovasi.

“Saya ingin setiap siswa mendapatkan ruang belajar yang nyaman sesuai kecepatan dan kepribadiannya,” tegasnya.

Ke depan, Agus berencana mengembangkan media Canva Code dengan materi dan tingkat kesulitan yang lebih beragam. Ia juga ingin terus berbagi praktik baik agar inovasi pembelajaran dapat diterapkan lebih luas.

Dari pengalamannya, Agus belajar bahwa setiap anak memiliki cara sendiri untuk bertumbuh. Tugas guru bukan menyeragamkan kemampuan mereka, melainkan menyediakan ruang agar setiap siswa dapat berkembang sesuai potensinya.

Sebab, keberhasilan seorang guru bukan hanya ketika siswa mampu menjawab soal dengan benar, tetapi juga ketika anak yang sebelumnya takut mencoba akhirnya berani mengangkat tangan dan percaya bahwa dirinya mampu belajar.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi