Lentera Literasi, TSA USU Edukasi Siswa tentang Kesehatan Mata

Lentera Literasi, TSA USU Edukasi Siswa tentang Kesehatan Mata
Bertajuk "Lentera Literasi, Membangun Literasi Kesehatan untuk Membuka Jendela Dunia", Tanoto Scholars Association (TSA) USU turun langsung menyapa 116 siswa kelas lima Sekolah Dasar (SD) Brigjend Katamso, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan. (Analisadaily/istimewa )

Analisadaily.com, Medan - Di era digital yang serba cepat, gawai dan buku seolah sudah menyatu dengan keseharian anak-anak. Mulai dari mengerjakan tugas sekolah hingga mencari hiburan, mata mereka nyaris tanpa henti menatap layar dan lembaran kertas.

Sadar akan pentingnya merawat indra penglihatan di tengah gempuran teknologi ini, sekelompok mahasiswa terpilih dari Universitas Sumatera Utara (USU) menghadirkan gerakan inspiratif yang juga bertepatan dengan Hari Penglihatan Sedunia (World Sight Day) diperingati pada minggu kedua bulan Oktober.

Melalui Signature Project dimana kegiatan sosial atau program pengabdian masyarakat unggulan yang dirancang dan dijalankan secara mandiri oleh para penerima beasiswa TELADAN Tanoto Foundation, program ini merupakan bagian dari implementasi semangat Pay It Forward (memberi kembali kepada masyarakat) yang ditanamkan oleh Tanoto Foundation kepada para penerima beasiswanya (Tanoto Scholars).

Bertajuk "Lentera Literasi, Membangun Literasi Kesehatan untuk Membuka Jendela Dunia", Tanoto Scholars Association (TSA) USU turun langsung menyapa 116 siswa kelas lima Sekolah Dasar (SD) Brigjend Katamso, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan. Kegiatan yang dihelat pada akhir September lalu ini mengemas edukasi kesehatan mata dengan pendekatan yang interaktif, edukatif, sekaligus menyenangkan.
Suasana kegiatan tampak hidup tatkala Prof. Dr. dr. Rodiah Rahmawaty Lubis, M.Ked (Oph)., Sp.M(K), seorang tenaga medis berpengalaman, memaparkan materi kesehatan mata secara langsung. Di hadapan 116 siswa, ia memperkenalkan aturan praktis "20-20-20" sebuah metode sederhana untuk mengistirahatkan mata setiap 20 menit dengan memandang objek sejauh 20 kaki selama 20 detik. Para siswa juga diajak memahami pentingnya menjaga jarak baca yang ideal, memilih pencahayaan ruangan yang cukup, mencukupi waktu tidur, hingga memperbanyak aktivitas di luar ruangan.

Presiden TSA USU 2026, Novika Lumban Gaol, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk membekali anak-anak agar mengenali kebiasaan yang memengaruhi kenyamanan penglihatan. Menurutnya, pemahaman mengenai langkah-langkah sederhana menjaga mata sangat krusial ditanamkan sejak usia dini.

"Kegiatan ini menekankan pentingnya menyampaikan keluhan penglihatan kepada orang tua atau guru, dan memeriksakan mata kepada dokter apabila diperlukan. Melalui penyampaian materi dan sesi kuis interaktif, siswa diajak memahami pentingnya menerapkan kebiasaan sehat sejak dini," ujar Novika.

Tak sekadar mendengarkan pemaparan teori, para siswa juga dibekali Buku Saku Lentera Literasi serta "Tantangan 14 Hari" sebagai media pendukung pembiasaan perilaku sehat. Tantangan ini menuntut mereka untuk mempraktikkan kebiasaan ramah mata di rumah dengan pendampingan penuh dari orang tua dan guru. Guna mengimbangi kebiasaan menatap layar, rangkaian acara turut diselingi dengan permainan tradisional sebagai alternatif aktivitas fisik yang menyegarkan.

Puncak rangkaian program diwarnai dengan pengumuman Duta Mata Sehat Cilik serta pemeriksaan penglihatan menyeluruh, dimana dilakukan evaluasi mendalam terhadap kesehatan mata dan fungsi penglihatan, yang jauh melampaui sekadar mengukur ukuran kacamata (minus, plus, atau silinder). Kegiatan ini didukung oleh Dokter peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) USU.

Pemeriksaan ini berfungsi sebagai langkah deteksi dini terhadap potensi gangguan penglihatan pada anak. Kehadiran Duta Mata Sehat Cilik sendiri diharapkan mampu menciptakan perpanjangan tangan edukasi di lingkungan sekolah, di mana para siswa terpilih bisa saling mengingatkan dan mencontohkan kebiasaan sehat kepada teman sebaya mereka.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari kolaborasi apik antara jajaran kepanitiaan TSA USU, pihak sekolah, guru, serta para tenaga medis. Sinergi lintas pihak ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan anak dapat dikemas melampaui batas ruang kelas menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna, aplikatif, dan membekas di hati para siswa.

Lewat Lentera Literasi, TSA USU berharap kesadaran menjaga kesehatan mata tidak berhenti sebatas seremonial kegiatan, melainkan tumbuh menjadi gaya hidup berkelanjutan yang melekat pada diri siswa maupun ekosistem sekolah. Langkah kecil ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mendukung tumbuh kembang anak-anak Indonesia menyongsong masa depan yang lebih cerah.

(DEL)

Baca Juga

Rekomendasi