Ilustrasi: Pemadaman Karhutla (BNPB Indonesia)
Onrizal
Api tidak mengenal batas administrasi. Ia bisa berawal di lahan masyarakat, merambat ke perkebunan, masuk ke kawasan hutanatau sebaliknya, lalu mendekati permukiman. Asap bergerak lebih jauh lagi: mengikuti angin, melintasi kabupaten dan provinsi, lalu tiba di tempat yang bahkan tidak sedang mengalami kebakaran.
Perkembangan kebakaran hutan dan lahan sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026 menunjukkan betapa cepat risikonya berubah. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 717 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi pada 27 Agustus. Tiga hari kemudian jumlahnya naik menjadi 946. Setelah sempat menurun, pada 5 Oktober jumlahnya kembali melonjak menjadi 1.359 titik dan masih berada di atas seribu pada 12 Oktober.
Hotspot tentu bukan kebakaran. Ia merupakan indikasi anomali panas yang masih perlu diverifikasi. Namun satu hal tetap jelas: risiko tidak bergerak dalam garis lurus. Ia bisa turun hari ini, lalu naik tajam beberapa hari kemudian.
Karena itu, kesalahan terbesar adalah menunggu api muncul sebelum kita benar-benar bekerja.
Selama ini perhatian publik mudah tertuju pada pemadaman. Helikopter membawa water bucket, modifikasi cuaca dilakukan, personel bekerja di tengah asap. Semua itu memang diperlukan ketika kebakaran sudah terjadi. Tetapi pada tahap itu, kita sudah terlambat satu langkah. Biaya meningkat, pilihan penanganan menyempit, sementara dampak terhadap kesehatan, ekosistem, dan ekonomi mulai berjalan.
Yang perlu diubah adalah pusat perhatian kita: dari operasi setelah api menyala menuju disiplin mitigasi sebelum api pertama muncul.
Di lahan gambut, mitigasi berarti menjaga fungsi hidrologi, memantau muka air, merawat infrastruktur pembasahan, mengendalikan drainase, memulihkan vegetasi, dan memastikan kegiatan ekonomi tidak mendorong penggunaan api.
Di lahan mineral dan dataran tinggi, kebutuhannya berbeda. Bahan bakar vegetasi harus dikenali dan dikelola, lokasi rawan dipetakan, sumber air dan akses diperiksa, patroli diperkuat, dan kemampuan respons awal disiapkan sebelum periode paling kering tiba.
Pekerjaan seperti itu tidak bisa dikerjakan hanya menjelang puncak musim kemarau. Mitigasi karhutla seharusnya menjadi pekerjaan sepanjang tahun.
Indonesia sebenarnya tidak kekurangan informasi. Kita memiliki prakiraan musim, pemantauan kekeringan, data hotspot, riwayat kebakaran, peta gambut, data tutupan lahan, dan pengetahuan lokal tentang lokasi yang berulang kali terbakar.
Masalahnya sering bukan ketiadaan informasi, melainkan jarak antara informasi dan tindakan.
Di sinilah peringatan dini harus mempunyai pasangan yang jelas: tindakan dini.
Ketika prakiraan menunjukkan beberapa hari ke depan akan lebih panas dan kering, patroli semestinya langsung ditingkatkan. Aktivitas berisiko dibatasi. Sumber air diperiksa. Personel disiagakan. Lokasi yang punya riwayat kebakaran diawasi lebih ketat.
Jika setiap peringatan masih harus menunggu rapat baru untuk menentukan tindakan, kita belum memiliki sistem peringatan dini. Kita baru memiliki sistem penyampaian informasi.
Ukuran keberhasilan juga perlu diubah.
Kita terlalu mudah menghitung jumlah personel yang dikerahkan, jam terbang helikopter, atau luas yang berhasil dipadamkan. Padahal keberhasilan terbaik justru hampir tidak terlihat: kebakaran yang tidak pernah terjadi.
Karena itu, pertanyaannya seharusnya berubah. Berapa kawasan rawan yang berhasil dijaga tetap basah? Berapa desa yang memasuki musim kering dengan sistem pencegahan aktif? Berapa konsesi yang benar-benar siap sebelum risiko meningkat? Berapa kebakaran yang berhenti pada fase awal sebelum sempat meluas?
Musim kebakaran pada akhirnya akan mereda. Hujan datang, hotspot berkurang, dan langit kembali jernih.
Justru pada saat itulah pekerjaan penting harus dimulai lagi.
Mitigasi karhutla tidak boleh dimulai ketika api menyala. Disiplin itu harus dibangun ketika langit masih biru, gambut masih basah, dan asap belum terlihat.
Kita mungkin tidak dapat menghilangkan seluruh risiko kebakaran. Namun kita masih bisa menentukan kapan harus bertindak: setelah api membesar dan masyarakat mulai menghirup asap, atau jauh sebelumnya, ketika risikonya sudah terbaca dan masih dapat dicegah.
Pilihan kedua bukan hanya lebih murah dan lebih efektif. Ia juga lebih bertanggung jawab, lebih adil, dan jauh lebih manusiawi.
Onrizal adalah peneliti pada Center for Tropical BiodiversityConservation dan dosen pada Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.
Sumber: SiPongi, Kementerian Kehutanan. Hotspot adalah indikasi anomali panas dan tidak otomatis berarti kebakaran
(RZD)