Analisadaily.com, Jakarta - Sivitas Akademika Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta secara resmi menyampaikan pernyataan sikap bertajuk "Seruan dari Proklamasi 27 Jakarta: Berpihak kepada yang Terpinggirkan" di Aula Lantai 1 Kampus STFT Jakarta, Jakarta Pusat.
Berdasarkan keterangan resmi diperoleh, Rabu (4/11/2026), pernyataan ini dikeluarkan sebagai respons kritis terhadap berbagai krisis multidimensional yang mencakup aspek sosial, ekonomi, ekologi, hingga penurunan indeks demokrasi di Indonesia.
Dalam seruan tersebut, STFT Jakarta menyoroti enam persoalan krusial bangsa, mulai dari eskalasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melibatkan puluhan perusahaan sawit, penanganan bencana di Sumatra yang belum tuntas, melemahnya daya beli masyarakat di tengah gejolak harga pangan dan kurs rupiah, penurunan transfer dana ke daerah, menyusutnya ruang demokrasi, hingga krisis keteladanan di kalangan elite politik yang dinilai sibuk berebut pengaruh di saat rakyat menanggung beban krisis.
Menanggapi situasi pelik tersebut, Ketua STFT Jakarta, Pdt. Prof. Binsar Jonathan Pakpahan, Ph.D., menegaskan komitmen moral lembaganya untuk terus berdiri bersama suara rakyat yang kritis dan terpinggirkan.
"Kami mengapresiasi mahasiswa dan pemuda yang bersikap kritis, tanpa kekerasan, terhadap kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat. Suara mereka adalah kasih bagi bangsa, bukan ancaman bagi negara. Kami berdiri bersama mereka yang ditangkap atau dikriminalkan karena bersuara," ujar Pdt. Binsar dalam pernyataan sikapnya.
Lebih lanjut, pihak kampus juga mendesak pemerintah agar mengevaluasi program beranggaran besar yang dinilai belum memiliki kajian dampak memadai, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), serta mengalihkan dananya untuk kepentingan pemulihan daerah, pendidikan, dan layanan kesehatan masyarakat rentan.
STFT Jakarta juga secara tegas menuntut penegakan hukum yang adil terhadap korporasi perusak lingkungan, penghentian segala bentuk kriminalisasi pendapat serta pembatasan konten kritik di ruang digital, dan desakan agar para elite politik memiliki budaya malu serta tanggung jawab moral.
Menutup seruan tersebut, institusi teologi ini menegaskan bahwa perlawanan moral sivitas akademika akan terus disuarakan melalui jalur akademik dan pelayanan kasih.
"'TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya' (Mazmur 24:1). Negara hanya dipercayakan untuk menjaganya bagi semua orang," pungkas Pdt. Binsar menegaskan landasan moral gerakan seruan tersebut.











