Motor Gede

Oleh: Hari Murti, S.Sos. Belakangan ini, istilah motor gede  begitu sering terdengar dalam berita televisi. Hal ini terkait dengan operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terhadap seorang penyelenggara negara dan orang swasta yang diduga terlibat  tindakan memberi-menerima suap. Namun, kita tidak akan membahas kasus tersebut dari aspek hukumnya, melainkan dari aspek bahasanya. Dengan kata lain, pembahasan kita kali ini adalah untuk mempertanyakan pembuat berita mengapa menggunakan istilah gede di tengah keharusan menggunakan istilah inklusif, ada pilihan kata lain yang lebih tepat, dan harus memenuhi standar bahasa dalam berita.

Gede  itu berasal dari bahasa Jawa, yaitu gedi yang artinya adalah ‘besar’. Dalam komunitas pengguna sepeda motor besar seperti Harley Davidson, BMW, dan lainnya, kata gedi  diberi sedikit sentuhan menjadi gede untuk memberikan kesan betapa besar dan energiknya tunggangan dan komunitas mereka. Akan terasa lebih hidup dan lebih gaul jika kata gedi diubah menjadi gede untuk menyebut sepeda motor mereka. Maka, sudah sejak lama sebenarnya kata gede ini digunakan, tetapi orang tahu bahwa kata itu tidak baku dan cukup ekslusif di kalangan tertentu saja.

Di sisi lain, kita tahu bahwa media massa juga berperan besar dalam dinamika kebahasaan. Oleh karena itu, media massa sangat dituntut untuk lebih berhati-hati dalam memilih kata. Kata-kata yang tidak baku atau tidak standar sangat dianjurkan untuk tidak digunakan, apalagi jika ada kata baku yang bisa menggantikan kata yang tidak baku tersebut. Maka, secara kebahasaan pula, sangat disayangkan media-media massa yang menggunakan istilah gede dalam pemberitaannya itu. Bagi saya pribadi, penggunaan istilah gede dalam sebuah pemberitaan yang serius dan diisi dengan kata-kata baku sebelum dan sesudah kata gede itu terasa sangat mengurangi nilai berita. Lihatlah kalimat, “KPK menangkap seorang penyelenggara negara dan beberapa orang swasta berikut menyita barang bukti berupa uang pecahan dolar serta sebuah  motor gede”. Kata gede tiba-tiba muncul dan mengantiklimakskan kata-kata lain yang berbobot. Itulah kesan yang timbul di pikiran saya.

Saya pikir media massa sangat tahu bahwa kata gede seharusnya diganti dengan kata yang baku dan lebih dimengerti oleh publik yang heterogen, yaitu kata besar. Media televisi tahu bahwa dia harus menggunakan kata motor besar, bukan motor gede.Tetapi, beberapa media televisi malah ikut-ikutan menggunakan istilah yang ekslusif  seperti itu. Malah, sesekali media menambah sikap ikut-ikutannya dengan menyingkat motor gede menjadi moge. Seharusnya sekarang inilah waktunya media televisi mengambil peran untuk menyosialisasikan istilah yang lebih benar dan lebih lengkap lagi daripada sekadar  motor besar, yaitu sepeda motor besar.

Kita tahu bahwa bahasa itu dinamis dan hidup di dalam masyarakat penuturnya. Namun, ketika persoalan dinamika itu berhadapan dengan persoalan kebakuan, pilihan media harus jatuh pada kebakuan. Istilah  gede atau moge itu memang terasa dinamis, energik, dan gaul, tetapi ia agak eksklusif dan mengabaikan kebakuan. Padahal, media itu inklusif sifatnya. Maka, mulai saat ini, istilah gede atau moge biarlah menjadi istilah komunitas pengguna motor besar tersebut. Sedangkan masyarakat luas hendaknya tetap diperdengarkan istilah yang baku, yaitu sepeda motor besar oleh media massa. ***

Penulis adalah pemerhati bahasa media, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi “Pembangunan” Medan.

()

Baca Juga

Rekomendasi