Junita Solin Asal Sidikalang Bergabung Dengan Peneliti Kelas Dunia di Belanda

Junita Solin Asal Sidikalang Bergabung Dengan Peneliti Kelas Dunia di Belanda
Junita Solin Asal Sidikalang Bergabung Dengan Peneliti Kelas Dunia di Belanda (Analisadaily/Istimewa)

Analisadaily.com, Sidikalang - Junita Solin (26) gadis asal Kilometer 2 Desa Kalang, Kecamatan Sidikalang, Kabupaten Dairi, kini bergabung dengan peneliti level internasional di Belanda.

Junita melalui sambungan telepon, Senin (1/6) mengatakan, dia sedang menjalani program doktor (PhD) di Wageningen University (83 kilometer dari Amsterdam) Belanda. Dia fokus bidang keilmuan Statika Genetika.

Diterangkan, dia bergabung dengan peneliti kelas dunia sekaligus promotor, yakni Prof Fred dan Prof Eeuwijk. Diketahui, Wageningen University adalah salah satu kampus terbaik dunia dalam bidang pertanian.

Lewat program dimaksud, dia telah menginjakkan kaki di beberapa negara guna pengembangan pengetahuan dan menjalin kolega. Diantaranya Australia, Belgia, dan Perancis.

“Lembaga penelitian ini terkoneksi dengan kampus dan organisasi penelitian di berbagai negara. Jadi, sering ada pertemuan hingga konferensi internasional. Kita diajak professor termasuk memberi presentase. Ketika melaksanakan tugas internship S2, kita berangkat ke Australia atau Paris selama beberapa bulan,” kata Junita.

Dijelaskan, tujuan penyampaikan informasi ini adalah memotivasi generasi muda agar berani menancapkan mimpi. Kita asah otak, persiapan diri lalu cari jalan.

Diutarakan, dia bukan lahir dari keluarga berada. Ayahnya Wesly Solin hanyalah seorang petani dengan ladang kopi seadanya. Ibunya boru Mesli Pasaribu adalah purna bhakti perawat di RSU Sidikalang.

“Orang tua saya pernah bilang. Kalau mau ambil S2, ayah tidak mampu. Carilah beasiswa full. Berkat kegigihan, kesempatan itu ditemukan. Bahkan, tawaran datang dari 2 donatur,” kata Junita.

Untuk program PhD, ia memperoleh beasiswa dari Belanda. Studi S2 di Waggeningen dituntaskan berkat beasiswa Stunet. Setelah tamat S2, ia bekerja di Jan Ingen Housz Institut.

“Jadi, saya bekerja sambil penelitian PhD,” kata Junita.

Diakui, waktunya memang lebih banyak belajar. Belajar dan belajar terus. Ia meraih Indeks Prestasi (IPK) 3,99 jurusan Agronomi Universitas Gajah Mada tahun 2021. Perjalanan ke negeri kincir angin dilakukan tahun 2022.

“Saat pandemi Covid, saya manfaatkan waktu untuk memperdalam Bahasa Inggris hingga mendapat skor IELT 8. Orang tidak berani tatap muka di ruangan tetapi saya paksakan diri agar kecakapan memenuhi syarat. Kala itu, dapat tempat les termurah di Jogjakarta Rp4 juta,” kata Junita.

Diungkapkan, ia sangat tertarik dengan ilmu biologi termasuk sejak di SMP St Paulus Sidikalang, dan menjadi alumni terbaik dari SMA Unggul Del Laguboti.

“Sedari awal, niat saya memang ingin jadi peneliti,” ungkap perempuan yang tetap lekat dengan Bahasa Toba dan Pakpak.

Ketika mengikuti studi di UGM, ia turut menjadi peserta summer school (pertukaran pelajar) ke Belanda. Momen itu dimanfaatkan untuk mencari informasi.

“Saya pulang belakangan, saya cari info. Ternyata, Belanda cocok buat menekuni penelitian di bidang pertanian. Dari situ, saya cari peluang beasiswa,” kata Junita.

Berkat kegigihan, guru besar menempatannya sebagai kolega. Sering diajak ikut seminar internasional.

Masih muda sudah buru PhD? Junita menyebut, kalau ukuran orang Indonesia, kesannya seperti itu. Di Belanda, banyak dosen dari Indonesia berangkat bawa keluarga.

Sementara orang Belanda, memperdalam ilmu kala usia energik. Positifnya, penyelesaian pendidikan lebih maksimal. Berbeda memang.

Wesly Solin dan Mesly Pasaribu membenarkan, keinginan Junita lanjut ke S2 sangat tinggi. Namun keuangan orang tua relatif terbatas.

“Kalau mau lanjut S2, cari beasiswalah. Kami hanya sanggup membiayai sampai S1. Puji Tuhan, jalan dan pikiran dimudahkan. Tahun 2029 ditarget gelar dapat diraih,” kata Wesly.

(SSR/RZD)

Baca Juga

Rekomendasi