BUKU wacana bermuatan filsafat dengan judul Seyyed Hossein Nasr ini mengabarkan bahwa dunia merupakan lautan kejahatan. Anthony Giddens menyebut the twentieth-century world is a bloody and frightening one (Abab XX sebagai abad berdarah dan menakutkan). Di samping itu, kemiskinan menjadi fakta global yang menyedihkan. Bahkan, negara maju secara material harus berhadapan dengan tindak kriminal yang tidak bisa ditolelir.
Terhadap masalah besar ini, para saintis melihat bahwa pandangan dunia adalah akar dari seluruh persoalan yang muncul. Para ilmuan melansir bahwa pandangan dunia modern mampu memberi pengaruh, bahkan melahirkan revolusi ilmiah (scientific revolution). Bermula dari sini, pandangan dunia merambah ke berbagai segmen masyarakat dunia.
Watak dasar sains modern digugat banyak ilmuwan, antara lain Ashley Montagu, Gregory Bateson, Fritjhof Capra, Morris Berman, Douglas C. Bowman, dan Stephen Toulmin. Karena itu, muncul seruan perombakan paradigma sains modern yang dinilai menyandang kelemahan prinsip, yakni karena dualistik, mekanistik-deterministik, reduksionistik-atomistik yang melahirkan agama baru, yakni materialism dan saintisme. Tanpa perombakan paradigma, semua upaya penyelesaian diyakini hanya bersifat sementara, kalau tidak menciptakan persoalan baru, maka krisis justru akan bermetamorfosis.
Di antara sekian banyak tokoh di barisan ini adalah Seyyed Hossein Nasr, seorang ilmuwan muslim yang terdidik baik dalam dunia sains. Di jajaran pemikir muslim, Nasr adalah tokoh langka. Sebab, di samping penguasaan yang mendalam tentang ilmu keislaman, ia juga saintis yang sangat kritis atas sains modern. Berbagai kritiknya berpuncak pada gagasan pergeseran paradigma (paradigma shift) dalam tubuh sains dengan merujuk pada kearifan tradisional yang sangat kaya. Untuk itu, ia menyelami ajaran-ajaran prinsip berbagai tradisi besar dan agama-agama dunia. Gagasan tentang alam dan realitas secara umum ia sebut kosmologi. Karena didasarkan pada ajaran tradisional, hal yang jelas berbeda dengan kosmologi modern yang empiris, kosmologi Nasr dapat disebut dengan kosmologi tradisional yang tergolong pada jenis kosmologi metafisika atau kosmologi filosofis (halaman 8–9).
Kosmologi tradisionalnya Nasr ini bisa menjadi paradigma alternatif dalam menghadapi krisis sains maupun krisis global yang terjadi. Melalui buku setebal 300 halaman ini, pembaca diajak untuk melakukan pengembaraan intelektual terkait paradigma Nasr. Sebagai buku wacana, buku ini tentu tidak bisa dipahami oleh seluruh kalangan atau sembarang keadaan. Untuk menikmatinya, pembaca mesti menyukai dunia pemikiran juga suasana yang menyamankan.
Selamat membaca!
Peresensi: Anton Prasetyo, Alumnus UIN Yogyakarta











