Mejuah-Juah Museum Jamin Gintings

Kisah Perjuangan Dibalik Kulit Kacang

Oleh: Adelina Savitri Lubis.

Tak, tuk, tak, tuk.  Suara tapak kaki terdengar satu satu. Menapak pada 20 anak tangga yang berkelok. Pada anak tangga ke 17, Jamin Gintings dalam potret buram hitam putih menyambut sang pemilik kaki; dua sejoli. Mereka menunjuk ke banyak arah. Kesana saja, ucap sang lelaki. Kesini saja lah, sahut sang perempuan. Ada kisah bergambar di sepanjang dinding. Perpustakaan pada sisi kanan dan kiri, seragam kebesaran jabatan di masa itu hingga piagam dan pin yang dikacakan. Decak kagum mereka terdengar, bahkan mengabadikan momen lewat ponsel android. Jepret, jepret. Keduanya pun terkekeh usai melihat hasil foto mereka. Hehehehe.

Dua kilo meter setengah menuju Museum Jamin Gintings, begitu kalimat yang tertulis pada plang di simpang tiga Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Tanah Karo. Hujan baru saja berhenti. Tanah di pinggir aspal tampak basah. Kerbau yang melintas pada sore itu membayang pada genangan air. Museum tampak sepi. Sebentar lagi tutup kak, ucap petugas pengaman di pintu depan. Dia memberikan karcis masuk ke dalam museum. Rp. 5000 per orang. Patung Jamin Gintings menghadap jalan, terbuat dari perunggu setinggi tujuh (7) meter. Patung itu gagah berdiri di atas tank meriam, dengan latar belakang kain tradisional karo yang disebut Beka Buluh. Menggunakan huruf kapital semua, tembok itu tertulis ‘MUSEUM LETJEN JAMIN GINTINGS’.

Pada lantai pintu masuk museum, tampak jejak sepatu yang berpasir. Mungkin akibat bekas hujan tadi siang. Dari balik meja yang berhadapan dengan pintu masuk museum, dua perempuan menyapa, meminta tanda tiket masuk museum. Salah satu bernama Nila. Mengaku sebagai Resepsionis Museum Letjen Jamin Ginting. Di sana kak, di lantai atas semuanya tentang Letjen Jamin Gintings. Menurutnya museum ini terdiri atas dua lantai. Lantai bawah berisi hasil kerajinan tangan khas masyarakat Desa Suka, Kecamatan Tiga Panah, Tanah Karo. Sedangkan pada lantai dua museum merupakan kisah perjalanan Letjen Jamin Gintings. Tak jauh dari mejanya, seorang perempuan tampak asyik mengulos.  

Dua puluh anak tangga mengantarkan pengunjung pada kisah masa lalu. Semua dokumen; tulisan, foto, buku-buku dan seragam dihadirkan untuk memperkuat kisah tentang Letjen Jamin Gintings. Museum ini juga menyediakan fasilitas bagi pengunjung yang menggunakan kursi roda. Museum ini memberi arti positif bagi masyarakat Tanah Karo. Khususnya bagi para pelajar di Tanah Karo. Hari itu saja dikatakan Nila, setidaknya ada 200 pengunjung yang berasal dari salah satu SD di Tanah Karo. Selain itu museum ini juga kerap dikunjungi muda-mudi Tanah Karo.

“Selama ini mereka hanya tahu melihat buku atau internet, namun tidak sedetil yang ada di museum ini,” bilangnya kepada Analisa.

Persis yang diakui Amanda dan Brian. Sejoli yang hari itu memilih menghabiskan waktu di Museum Letjen Jamin Gintings. Keduanya berasal dari Kota Medan. Sengaja datang ke museum ini karena penasaran dengan isi museum.

“Kami berangkat sejak pukul 09.00 dari Medan, setelah jalan-jalan di kawasan Brastagi kami datang kesini. Untung masih buka. Kawan-kawan kerap bercerita tentang museum ini. Ada yang bilang tentang bentuk bangunannya yang unik seperti kulit kacang, ada juga yang bercerita tentang isi museum itu. Jadi kami ingin tahu,” beber Brian.

Tak sulit untuk mengetahui sejarah museum ini. Sejak diresmikan pada 7 September 2013, museum ini mengacakan lembaran-lembaran pidato yang kala peresmian museum berlangsung. Diletakkan bersamaan dengan dokumen penting milik Letjen Jamin Gintings. Museum ini didirikan pada 2013 oleh Yayasan Mahaputra Utama Jamin Gintings yang diketuai oleh Ny. L.T Jamin Gintings. Berdiri di atas tanah seluas 4000 meter persegi (m2), selain sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang peninggalan Letjen Jamin Gintings. Museum ini berguna melestarikan dan mewariskan nilai-nilai, jiwa dan semangat juang 45 dalam merebut kemerdekaan. Persis dengan semboyan ‘Merdeka atau Mati’. Museum ini juga dimaksudkan untuk turut melestarikan sejarah, adat, seni dan budaya termasuk tersedianya perpustakaan mini berisi buku-buku peninggalan Letjen Jamin Gintings dan buku-buku adat Karo.

Bentuk bangunan museum ini tak biasa. Bentuknya mirip kulit kacang. Menurut informasi yang tertulis dalam lembara pidato ketua yayasan, diungkapkan bangunan museum seluas 600 m2 dengan bentuknya seperti sebuah bijian (kacang) dengan tiang-tiang merah sebagai akarnya, bermakna hasil perjuangan Letjen Jamin Gintings bukanlah akhir tujuan tapi merupakan benih kehidupan baru yang merdeka bagi generasi berikutnya, ditunjang dengan semangat keberanian dalam meraih masa depan.

Sayang Bila Dilewatkan

Paling menarik adalah cerita bergambar di dinding museum. Tertulis di sana tentang petikan dan kelakar Ibu Likas Tarigan, Ny. Jamin Gintings, yakni soal bambu dan karet. Diceritakan sungguh besar jasa bambu. Bukan hanya rumah, tempat tidur dan meja. Bahkan dalam agresi belanda II bambu dipakai sebagai sarana mengirim pesan dari Komando Sumatera kepada Resimen I. Petikan karet lebih mencengangkan lagi. Diceritakan tentang kilang minyak karet di Macan Kumbang. Bensin (BBM) untuk kendaraan bermotor milik Resimen I tidak bisa diperoleh. Maka diupayakan membuat penggantinya dengan mendirikan kilang minyak karet di Macan Kumbang. Getah karet dari perkebunan karet diolah menjadi BBM. Caranya lembaran-lembara karet yang sudah dikeringkan di ruangan pengasapan kemudian disuling dan disimpan ke dalam tong atau drum. Kilang minyak karet tersebut dikepalai oleh Letnan Azis Saman, didukung sejumlah perwira dan tentara serta 60 orang warga sipil yang berasal dari kalangan pengungsi.

Menjadi penting untuk dicatat, sumbangsih non tempur yang diupayakan Jamin Gintings kala menjabat sebagai Komandan Resimen I, diantaranya adalah pembukaan hutan untuk lahan pertanian di sekitar Lawa Deski dan usaha ternak ikan dan bebek di Lawa Deski, Sigala-gala, Lawe Gersik, Lawe Dua dan Buluhbiang. Pengadaan bahan-bahan dan material untuk pembangunan perumahan pasukan. Resimen I membuka panglong yakni tempat penggergajian kayu dengan memperkerjakan 40 orang. Diusahakan pembuatan sagu untuk menambah jenis bahan makanan dan mengurangi konsumsi beras yang sulit didapat. Demi membanti perekonomian rakyat, komandan Resimen I memberikan mandat kepada Ekonomi Masyarakat (Emas) untuk menangani pencairan belanja Resimen dari Divisi X di Kotaraja dengan status sebagai penyertaan modal usaha. Dia juga mendirikan SMP untuk pertama kalinya seluruh Tanah Alas, diasuh oleh guru-guru yang diambil dari kalangan perwira tentara dan beberapa guru yang berada di Kotacane atau di tempat lain di Tanah Alas. Persis seperti tema HUT TNI ke 70: Bersama rakyat TNI kuat, hebat, profesional, siap mewujudkan Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Mejuah-juah!

()

Baca Juga

Rekomendasi